بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Setiap kita ingin selamat dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga karena cita – cita tertinggi kita adalah bagaimana kita dimasukkan ke dalam surga tanpa dimasukkan ke dalam neraka terlebih dahulu. barikut ini ada beberapa amalan agar kita dijauhkan dari api neraka, semoga kita termasuk didalamnya:

  1. Tauhid

Menjaga tauhid dengan baik dan tentu tauhid itu bukan sekedar perkataan dan lisan akan tetapi pembenaran dengan hati dan pembuktian dengan perbuatan (amalan), Tauhid adalah perkataan dengan lisan dan membenarkan dengan hati  dan mengamalkan kandungan tauhid dengan anggota tubuh atau diapliksikan dalam perbuatan.

Ketika ada seseorang yang berkata kapada Hasan Al Basri Rahimahullah padahal tauhid itu kunci surga seakan –akan jika sudah mengucapkan kalimat syahadat itu sudah jaminan masuk surga, Hasan Al Basri Rahimahullah kemudian faham maksud orang tersebut  dan dengan kecerdasannya Hasan Al Basri Rahimahullah kemudian berkata:”Betul tauhid adalah kunci surga tapi tidak kah engkau melihat bahwa kunci itu ada giginya dan gigi kunci itu adalah amalan sholeh”.oleh karenanya Allah Subhanahu wata’ala banyak menyebutkan dalam Al-Qur’an keimanan digandengkan dengan amalan sholeh.

Hasan Al Basri Rahimahullah mengatakan:”keimanan itu bukan sekedar angan – angan bukan sekedar perhiasan tetapi apa yang terpatri didalam hati dan dibenarkan oleh amalan “. Kemudian dia tidak mencampurkan antara tauhid dan amalannya dengan kesyrikan  karena kesyirikan itu menghapuskan amalan – amalan sholeh. Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.(QS. Az Zumar : 65).

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

Barangsiapa yang mati dalama keadaan tidak berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang mati dalam keadaan berbuat syirik pada Allah, maka ia akan masuk neraka”. (HR. Muslim no. 93).

Kesyrikan terbagi menjadi 2:

  1. Syirik besar yaitu kesyirikan yang menyebabkan seseorang kekal didalam api neraka
  2. Syirik kecil yaitu Kesyirikan yang tidak menyebabkan seseorang kekal dalam neraka Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama kita.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ

Dari Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu , menuturkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah Hamba dan Rasul-Nya; dan (bersyahadat) bahwa Isa adalah hamba Allah, rasul-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh daripada-Nya; dan (bersyahadat pula bahwa) Surga adalah benar adanya dan nerakapun benar adanya; maka Allah pasti memasukkannya kedalam Surga betapapun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

  1. Mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Bukti cinta kita kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjaga diri kita dari perbuatan – perbuatan kebid’ahan yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam karena beribadah tidak cukup dengan niat dan ikhlas akan tetapi harus barengi dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“. (QS. Ali Imran: 31).

  1. Memperbanyak puasa

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُوْمُ يَوْمًا فِي سَبِيْلِ اللَّهِ إِلاَّبَاعَدَ اللَّهُ بَذَلِكَ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا

Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim”. (HR. Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa’id Al-Khudri). Baik yang dikerjakan puasa – puasa sunnah maupun puasa wajib dibulan ramadhan.

Dalam hadist lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ جَعَلَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ خَنْدَقًا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأرْض

Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi”. (HR. Tirmidzi no. 1624 dari hadits Abi Umamah).

  1. Jihad dijalan Allah Subhanahu wata’ala

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا اغْبَرَّتْ قَدَمَا عَبْدٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَمَسَّهُ النَّارُ

Kedua kaki seorang hamba yg berdebu fi sabilillah tak akan disentuh oleh api neraka“.(HR. Bukhari No.2600).

  1. Menghadiri majelis – majelis ilmu

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي قَالَ فَيَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا قَالَ يَقُولُ فَمَا يَسْأَلُونِي قَالَ يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً قَالَ فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ قَالَ يَقُولُونَ مِنَ النَّارِ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً قَالَ فَيَقُولُ فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ يَقُولُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ قَالَ هُمُ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala memiliki malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-jalan mencari Ahli Dzikir (yaitu orang-orang yang berdzikir_penj). Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah (Jika mereka telah mendapatkan sebuah majlis yang padanya terdapat dzikir_penj), mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir. Mereka saling mengajak: “Kemarilah kepada hajat kamu”. Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang berdzikir dengan sayap mereka sehingga langit dunia (Jika orang-orang yang berdzikir telah berpisah, para malaikat naik ke langit_penj). Kemudian Allah Azza wa Jalla bertanya kepada mereka, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka, “Apa yang diucapkan oleh hamba-hambaKu?” Para malaikat menjawab: “Mereka mensucikan-Mu (mengucapkan tasbih: Subhanallah), mereka membesarkanMu (mengucapkan takbir: Allah Akbar), mereka memujiMu (mengucapkan Alhamdulillah), mereka mengagungkan-Mu” (Mereka mentahlilkanMu: mengucapkan Laa ilaaha illa Allah_penj). Allah bertanya:”Apakah mereka melihatKu?’ Mereka menjawab:”Tidak, demi Alah, mereka tidak melihatMu”, Allah berkata:”Bagaimana seandainya mereka melihatKu?” Mereka menjawab:”Seandainya mereka melihatMu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih kuat kepadaMu, lebih mengagungkan kepadaMu, lebih mensucikan kepadaMu”. Allah berkata:”Lalu, apakah yang mereka minta kepadaKu?” Mereka menjawab: “Mereka minta surga kepadaMu”.

Allah bertanya: “Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab:”Tidak, demi Alah, Wahai Rabb, mereka tidak melihatnya”. Allah berkata:”Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab:”Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih semangat dan lebih banyak meminta serta lebih besar keinginan”.

Allah berkata: “Lalu, dari apakah mereka minta perlindungan kepadaKu?” Mereka menjawab:”Mereka minta perlindungan dari neraka kepadaMu.” Allah bertanya:”Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab:”Tidak, demi Allah, wahai Rabb. Mereka tidak melihatnya.” Allah berkata:”Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab:”Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih menjauhi dan lebih besar rasa takut (terhadap neraka).” Allah berkata: ”Aku mempersaksikan kamu, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” Seorang malaikat diantara para malaikat berkata,”Di antara mereka ada Si Fulan. Dia tidak termasuk mereka (yakni tidak ikut berdzikir, Pent). Sesungguhnya dia datang hanyalah karena satu keperluan.” Allah berkata:”Mereka adalah orang-orang yang duduk. Teman duduk mereka tidak akan celaka (dengan sebab mereka)”. (HR Bukhari, no. 6408, dan ini lafahznya; Muslim, no. 2689).

Olehnya jangan zuhud terhadap majelis ilmu  jangan sampai ketamakan kita terhadap dunia lebih besar dari pada ketamakan terhadap ilmu syar’i yang bisa menuntun dan mengantar kita ke dalam surga, sebagaimana dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ وَإِنَّ الْـمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِـمِ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى الْـحِيْتَانُ فِى الْـمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِـمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ لَـمْ يَرِثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.

“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak”. (HR. Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641)).

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis , 29  Rabiul Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi :
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCIGoaFDkENVOY187i92iRqA

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE : mim.or.id

PIN BBM : D23784F8

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR