بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  1. Pengertian Hari Raya 

Disebut dengan Al ‘Ied karena ia berulang setiap tahunnya yang disertai dengan kebahagiaan, ketentraman dan  rasa nyaman. Kata Ai’dain adalah merupakan 2 hari raya yang disyariatkan dalam agama kita baik disebutkan didalam Al-Qur’an maupun sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ijma kaum muslimin,

2. Larangan Mengikuti Perayaan Orang Kafir

Bukan hanya orang muslim yang memiliki hari raya bahkan orang – orang kafir dan orang – orang musyrik juga memiliki hari raya dan ini merupakan syiar dalam agama mereka, oleh karenanya kita dilarang untuk latah menghadiri dan ikut meriahkan atau bergembira dengan perayaan kaum musyrikin. ini bagian dari al wala wal bara, diantara ciri ibadurrahman dalam tafsiran firman Allah:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”. (QS. Al-Furqan :72).

Kata sebagian ulama tafsir kata persaksian palsu adalah hari – hari raya kaum musyrikin baik itu natal dan tahun baru. Semua hal ini merupakan perayaan orang musyirik dan orang kafir yang mana kita dilarang untuk latah (ikut dalam perayaan mereka).  Apatahlagi  ikut serta dalam ibadah mereka.

Adapun muamalah dengan mereka maka boleh, Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. Al-Mumtahanah: 8).

Namun jika dalam urusan agama dalam riwayat dikemukakan bahwa al-Walid bin al-Mughirah, al-‘Ashi bin Wa-il, al-Aswad bin Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Hai Muhammad! Mari kita bersama menyembah apa yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah pemimpin kami“. Maka Allah menurunkan surah Al Kafirun untuk menolak tawaran mereka. (HR. Ibnu Abi Hatim). Dimana diakhir surah Al Kafirun Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku“. (QS. Al Kafirun :6).

Dan bahaya dari mengikuti perayaan orang kafir dan orang musyirik sebagaimana disebutkan dalam riwayat Dari Ibnu ‘Umar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031).

3. Perintah Bergembira Pada Hari ‘Ied dan Larangan Puasa Didalamnya

Diperintahkan bergembira dihari raya kaum muslimin dan kegembiraan pada hari itu berpahala bahkan diharamkan berpuasa pada 2 hari tersebut,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari puasa pada dua hari:”Idul Fithri dan Idul ‘Adha“. (HR. Muslim no. 1138).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ »

“Dari Nubaisyah Al Hudzalli, ia bersabda bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Hari tasyrik adalah hari makan dan minum”. (HR. Muslim no. 1141).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hijrah ke madinah beliau mendapati penduduk madinah pada waktu itu mereka bergembira dan bermain – main pada hari tertentu dan pada 2 hari yang menjadi kebiasaan mereka pada waktu itu, Rasulullah bertanya:”Apa ini”,  mereka berkata:”Ini adalah hari raya yang sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya ditempat ini ya Rasulullah mereka bermain – main didalamnya dan bergembira didalamnya”, Rasulullah berkata:”Sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari dua hari raya itu; idul fithri dan idul adha.(HR Ahmad no: 12006 dan yang lainnya).

Hari raya kaum muslimin hanya ada 2 yaitu idul fitri dan idul adha adapun hari raya idul adha terdapat dalil dalam surah al kautsar adapun idul fitri terdapat dalam ayat yang artinya:

Sungguh beruntung yang mensucikan jiwanya dan hartanya lewat zakat fitrah dan ia mengangungkan nama tuhannya”. 2 dalil diatas menyebutkan 2 hari raya tersebut.

4. Para Wanita Dianjurkan Ikut Hari Raya Kaum Muslimin

Diriwayatkan oleh Al Bukhari (324) dan Muslim (890), dari Ummu ‘Athiyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِى الْفِطْرِ وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ. قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ « لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا ».

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kami agar mengajak serta keluar melakukan shalat Idul Fithri dan Idul Adha para gadis, wanita haidh dan wanita yang sedang dipingit. Adapun mereka yang sedang haidh tidak ikut shalat, namun turut menyaksikan kebaikan dan menyambut seruan kaum muslimin. Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab.” Beliau menjawab: “Hendaknya saudaranya yang memiliki jilbab memberikan pinjaman untuknya“. Jadi jika ada saudari kita yang tidak memiliki jilbab sehingga terhalang untuk ke masjid melaksanakan sholat ‘Ied maka wajib bagi yang memiliki beberapa jilbab untuk ia pinjamkan kepadanya.

Wanita haid tidak dianjurkan untuk sholat akan tetapi tetap diperintahkan untuk keluar dihari raya ‘Ied, jadi walaupun asalnya wanita tinggal dirumah dan dilarang keluar rumah kecuali ada hajat akan tetapi wanita diperintah Rasulullah keluar ketika hari raya ‘ied.

5. Hukum Sholat ‘Ied

Berdasarkan hadist diatas para ulama menjadikan sholat ‘Ied hukumnya wajib dan ini merupakan riwayat dari Imam Ahmad,  Abu Hanifah walaupun yang rajih (lebih kuat) menurut mazhab yang mahsyur dari kalangan salaf Imam Syafii dan Malikiyyah menyebutkan bahwa hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan) dalilnya adalah ketika salah seorang arabi yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengatakan:”Ya Rasulullah jika saya telah mengerjakan sholat 5 waktu apakah itu sudah cukup bagi saya atau ada yang lain lagi ya Rasulullah, Rasulullah mengatakan:”tidak ada lagi yang wajib kecuali engkau menambah dengan yang sunnah”,

Jadi sholat ‘Ied adalah sholat yang sangat ditekankan dan tidak pantas ditinggalkan bagi yang tidak memiliki udzur

6. Adab Wanita Keluar Hari Raya

Wanita yang hendak keluar untuk melaksanakan hari raya tidak dianjurkan berdandan berlebihan, tidak berpenampilan yang mengundang perhatian atau syahwat, tidak mengunakan parfum yang menggoda seorang lelaki dan yang semisal dengannya.

7. Tempat Pelaksanaan Sholat ‘Ied

Adapun tempat dilaksanakannya sholat ‘Ied afdhalnya dilapangan dan Rasulullah pernah mencontohkan sholat ‘Ied bersama para sahabat dilapangan, dalam hadist disebutkan:

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahu ’anhu dia berkata:“Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam keluar (untuk melaksanakan shalat) pada hari raya ‘Iedul fithr dan ‘Iedul adha menuju tanah lapang, maka yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat ’Ied, kamudian setelah selesai beliau Shallallahu’alaihi Wasallam berdiri (untuk berkhutbah) di hadapan kaum muslimin dan mereka (tetap) duduk di shaf-shaf mereka…Abu Sa’id al-Khudri berkata:”Kemudian sunnah itu terus dilakukan kaum muslimin sampai di Jaman (pemerintahan) Marwan bin al-Hakam”. (HR Al-Bukhari no. 913 dan Muslim no. 889).

Tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwasanya Rasulullah mengerjakannya di masjid kecuali jika ada udzur seperti pada suatu kampung tidak ada lapangan atau turun hujan yang deras  maka boleh dikerjakan dimasjid dan sholatnya sah. Tujuan sholat ‘Ied dilapangan adalah untuk menunjukkan syiar dan kegembiraan serta kebesaran kaum muslimin.

Berlanjut (Adab-Adab Hari Raya Sesi 2)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 07 Dzulhijjah  1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR