بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bulan suci ramadhan adalah bulan dimana Allah Subhanahu wata’ala mengajarkan kepada kita pentingnya untuk berbagi kepada sesama manusia khususnya sesama kaum muslimin, Allah Mensyariatkan kepada kita menahan lapar dan dahaga disiang hari bulan suci ramadhan padahal makanan yang kita konsumsi telah siap bahkan kita menyimpan cadangan makanan untuk sebulan penuh namun ada sebagian saudara – saudara kita disana seperti di afrika, mereka menahan lapar dan dahaga siang dan malam karena memang tidak ada yang bisa untuk mereka makan.

Seseorang pernah  bertanya kepada seorang syaikh dan membuat syaikh bersedih karena salah seorang penanya dari afrika / somalia beliau bertanya:”Apakah sah puasa kita jika kita tidak makan sahur.?”, Syaikh kemudian bertanya:”Apa yang menyebabkan anda tidak makan sahur”, orang ini menjawab:”Karena tidak ada yang bisa kami komsumsi/makan”.

Adapun diantara kita yang diberikan oleh Allah kelapangan wajib untuk bersyukur kepadanya dan sekaligus menjadi sarana bagi kita untuk berbagi kepada sesama kaum muslimin karena sebaik – baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama dan diantara bentuk untuk berbagi sesama kaum muslimin adalah dengan bentuk sedekah dimana didalam Al-Qur’an begitu banyak dalil dan hadist yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tentang keutamaan bersedekah bahkan ia adalah merupakan amalan yang pahalanya akan terus dinikmati oleh pelakunya sampai setelah ia meninggal dunia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i).

Jadi sedekah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan amalan yang akan bermanfaat bagi seseorang baik didunia apalagi diakhirat kelak dimana seseorang pada hari kiamat berada dibawah naungan sedekahnya, didalam Al-Qur’an begitu banyak dalil yang disebutkan oleh Allah Subanahu wata’ala tentang keutamaan bersedekah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al Baqarah: 254).

Harta yang dimiliki oleh seseorang didunia ini akan bermanfaat baginya sebagaimana doa Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Al-Qur’an dalam surah asy syu’ara.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89

“Di hari itu harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (QS. Asy-Syuara : 88-89). Jadi dalam ayat ini Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk bersedekah yang akan bermanfaat bagi kita didunia dan diakhirat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ, وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18-19).

Yang dimaksudkan adalah apa yang ia persiapkan untuk hari kiamat dan perbekalan yang paling utama dan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah sedekah yang dikeluarkan dijalannya.

Dalam ayat yang lain:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan“. (QS. Al- Baqarah : 245).

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul-Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak”. (QS. Hadid :18).

Pada hakikatnya jika ada seorang hamba yang bersedekah Allah Subhanahu wata’ala menerima sedekah tersebut dan melipatgandakan disisinya, Allah Subhanahu wata’ala  berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al- Baqarah : 261).

Dalam Hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sedekah itu sebelum jatuh ditangan orang yang menerimanya maka diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala kemudian Allah Subhanahu wata’ala mengembangkannya sebagaimana salah seorang diantara kalian yang memelihara ternaknya”.

Dalam bersedekah ada beberapa adab yang harus diperhatikan diantaranya adalah:

  1. Ada adab yang berkaitan dengan harta yang kita keluarkan

Adapun yang berkaitan dengan harta yang kita sedekahkan hendaknya harta itu adalah harta yang baik sebagaimana dalam hadist, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ الهَa أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Sesungguhnya Allah itu Maha baik dan tidak menerima, kecuali sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kaum Mukminin dengan perintah yang Allah gunakan untuk memerintahkan para rasul. Maka Allah berfirman,”Wahai para rasul, makanlah segala sesuatu yang baik dan beramal shalihlah (Al Mukminun : 41).” Dan Allah juga berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, makanlah segala sesuatu yang baik, yang telah kami berikan kepada kalian (Al Baqarah : 172).” Kemudian Rasulullah menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan panjang, kusut rambutnya, kemudian mengangkat tangannya dan mengatakan : Wahai Rabb-ku, Wahai Rabb-ku, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, perutnya diisi dengan sesuatu yang haram, maka bagaimana Kami mengabulkan doanya?”. (HR Muslim).

Begitu pula firman Allah Subhanahu wata’ala didalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji“. (QS. Al -Baqarah : 267)

Harta akan ditanyakan -pada hari kiamat nanti dengan 2 pertanyaan sebagaimana dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga ditanyakan tentang (4 perkara:) (Pertama,) tentang umurnya dihabiskan untuk apa. (Kedua,) tentang ilmunya diamalkan atau tidak. (Ketiga,) Tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan ke mana dia habiskan. (Keempat,) tentang tubuhnya, capek / lelahnya untuk apa.(HR Imam At-Tirmidzi). Oleh karenanya hendaknya melihat apa yang kita sedekahkan apakah harta tersebut  baik untuk kita berikan ataukah tidak sehingga dihari kemudian kita tidak termasuk orang yang merugi karena Allah tidak menerima kecuali yang baik.

2. Ada adab yang berkaitan dengan orang yang bersedekah

Orang yang bersedekah maka sedekahnya antara dia dengan Allah Subhanahu wata’ala, dimana ketika ia bersedekah sedapat mungkin tidaklah ia bersedekah kecuali untuk mengharapkan keridhaan Allah Subhanahu wata’ala, jangan ia bersedekah hanya untuk mendapatkan pujian . Seseorang yang bersedekah karena ingin dipuji oleh manusia, ingin dikatakan dermawan dan mendapatkan gelar sosial atau mengharapkan balasan, tentu ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur-an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari’ (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

  1. Adab antara orang yang bersedekah dengan orang yang menerima sedekah 

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. Al-Baqarah : 264)

Al Mannu kata para ulama terbagi menjadi 2:

  1. Almannu Bil Qalbi bagaimana bentuknya adalah ketika seseorang bersedekah dan didalam hatinya ia merasa telah memberi atau berjasa kepada seseorang walaupun hal ini tidak sampai membatalkan pahala sedekahnya namun kata para ulama bisa menyebabkan pahalanya berkurang dan tidak diangkat pahalanya pada kedudukan yang tinggi.
  2. Al Mannu Bil Lisan adalah ketika ia melukai perasaan dan ini termasuk kategori Al Aza kepada orang yang ia beri atau ia sedekahi misalkan ia mengatakan bahwasanya engkau tidak akan mampu berbuat apa-apa andaikan aku tidak memberikan bantuan kepadamu ataukah ia berkata apakah engkau tidak mengingat apa yang pernah saya berikan kepadamu atau ia mengatakan aku sudah memberikan sesuatu kepadamu namun nampaknya tidak ada faedah dan manfaatnya oleh karenanya sebagian salaf bahkan ada yang mengatakan: “Jika engkau memberi sesuatu kepada orang lain dan engkau melihat bahwasanya jika engkau memberi salam kepadanya itu memberatkan dirinya maka jangan engkau memberi salam kepadanya”.

Keutamaan sedekah secara diam – diam dan kapankah boleh sedekah secara terang – terangan

Pertama kita katakan keduanya boleh karena dalam Surah Al-Baqarah pada ayat ke 274, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqarah : 274).

Dalam ayat yang lain:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan“. (QS. Al-Baqarah : 271).

Dari ayat ini menunjukkan bahwasanya bersedekah itu boleh terang – terangan dan boleh sembunyi – sembunyi walaupun secara asal bersedekah dengan sembunyi – sembunyi itu lebih utama karena ia lebih dekat untuk menjaga keihklasan. Dihari kiamat nanti ada golongan yang langsung mendapatkan naungan Allah Subhanahu wata’ala dimana tidak ada naungan kecuali naungannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari sini dapat kita pahami bahwa bersedekah secara sembunyi – sembunyi itu lebih afdhal dan hal ini dilakukan oleh para ulama dan salafussholeh, dimulai dari zaman para salaf seperti Umar dan Abu Bakar Ash Shiddiq terkadang mereka keluar dimalam hari memperhatikan kebutuhan rakyatnya tanpa ada yang mengetahuinya, begitupula dengan salah seorang salaf seperti Zainal Abidin Rahimahullah yang setiap malamnya membagikan sedekah kepada orang miskin dan fakir di kota madinah dan amalan beliau diketahui setelah beliau meninggal dunia didapati dipunggung beliau ada 2 garis hitam karena beliau sendiri yang menarik gerobaknya untuk membagikan sedekah kepada orang fakir dan miskin dan orang miskin juga mengatakan kami senantiasa mendapatkan sedekah rahasia sampai kematian Zainal Abidin.

Bersedekah dengan sembunyi – sembunyi sangat dekat dengan keikhlasan, Dari Mu’awiyah bin Haidah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya sedekah secara rahasia bisa meredam murka Rabb [Allah] tabaroka wata’ala.” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Kabir, lihat Shahih at-Targhib [1/532])

Adapun bersedekah dengan terang terangan jika didalamnya ada maslahat maka tidak mengapa misalkan dalam rangka memotivasi orang lain agar ia juga ikut bersedekah dengan syarat agar menjaga niatnya ikhlas karena Allah Subhanahu wata’ala.

Diantara keuatamaan sedekah setiap harinya ada malaikat yang mendoakan orang yang bersedekah sebagaimana Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010).

Semoga kita dijauhkan dari sifat kekikiran dan dijadikan sebagai hamba yang dermawan dalam berbagi sesama kaum muslimin sebagaimana yang dituntunkan oleh Rasulullah, kata Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu:

Bahwasanya Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, tidaklah nabi dimintai sesuatu kecuali beliau memberikannya“.

Suatu ketika Rasulullah pernah memberikan sedekah kepada suatu kaum dengan pemberian yang banyak sehingga ia masuk islam dan kembali kepada kaumnya dan mengatakan:

Wahai kaumku masuklah kalian kedalam agama islam karena sesungguhnya aku baru saja menjumpai seorang lelaki yang memberi sesuatu dimana ia tidak mengkhawatirkan kefakiran untuk dirinya”.

Sedekah Dengan Zakat

Dibulan ramadhan ada zakat yang wajib kita tunaikan yaitu zakat fitrah yang dikeluarkan diakhir bulan suci ramadhan sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Sungguh beruntung orang – orang yang mensucikan dirinya kemudian menyebut tuhannya kemudian dia sholat ”, sebagian ulama tafsir mengatakan yang dimaksud adalah megeluarkan zakat fitri

Jadi diakhir bulan suci ramadhan untuk menyempurnakan amal ibadah kita kita mengeluarkan zakat fitrah, Allah Subhnahu wata’ala berfirman:

“Ambillah dari harta – harta mereka yang mensucikan mereka dan mensucikan jiwa – jiwa mereka”

Orang yang bersedekah dijalan Allah mendapatkan 2 kautamaan sekaligus :

  1. Untuk mensucikan jiwanya dari sifat kekikiran

“Barangsiapa yang diselamatkan dari sifat kekikiran maka sungguh ia telah memperoleh keberuntungan yang sangat besar

  1. Mensucikan harta orang yang bersedekah  tersebut  dimana ketika mencari nafkah boleh jadi bercampur dengan sesuatu yang haram atau sesuatu yang subhat sehingga dengan sedekah tersebut akan membersihkannya

Oleh karenanya marilah kita mengamalkannya dan semoga dengannya Allah memberkahi kita dan berkenan untuk mensucikan jiwa – jiwa kita dan diharikemudian Allah memberikan naungan secara klhusus insyaAllah.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Ahad, 23, Ramadhan 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR