بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Didalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala mengabadikan begitu banyak kisah Nabi Nabinya yang senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala padahal mereka adalah manusia yang paling dekat dengan tuhannya mereka menggantungkan segala harapan hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Nabi Ayyub ‘Alaihissalam beliau terkena penyakit yang menimpa sekujur tubuhnya begitu pula keluarga yang Allah ambil satu persatu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآَتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya: “(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”. (QS. Al-Anbiya’: 83-84)

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ (41) ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ (42) وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنَّا وَذِكْرَى لِأُولِي الْأَلْبَابِ (43) وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلَا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ (44)

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabb-nya: “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.” (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (QS. Shaad: 41-44).

Dalam Al-Qur’an Allah mengisahkan kisah Nabi Yunus Ibnu Matta ketika beliau meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah beliau naik diatas perahu dan ketika berada ditengah lautan tiba-tiba datanglah badai yang sangat besar dan angin yang sangat besar maka mereka bersepakat untuk meringankan beban perahu tersebut mereka saling mengundi dan yang jatuh giliran adalah Nabi Yunus untuk dikeluarkan diatas perahu dan ini adalah pengaturan dari Allah Subhanahu wata’ala dan ketika beliau keluar dari perahu, Allah mengirim seekor ikan besar untuk menelan Nabi Yunus ‘alaihissalam sebagaimana yang disebutkan didalam Al-Qur’an, ketika beliau berada dalam perut ikan besar tersebut dan melihat dirinya masih hidup, Allah Subhanahu wata’ala menggambarkan didalam Al-Qur’an  beliau kemudian berdoa pada 3 kegelapan. Kegelapan laut, kegelapan perut ikan, kegelapan malam namun Allah maha mendengar permohonan hambanya ketika beliau berkata:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim“. (QS. Al Anbiya : 87).

Malaikat kemudian berkata Ya Rabb kami mendengar rintihan dari seorang hamba yang kami kenal suaranya namun kami tidak mengetahui dimana ia berada Allah kemudian berkata itu adalah permohanan doa dari hambaku Yunus bin Matta, selamatkan dia dan kelaurkan dia dari perut ikan, dengan izin dari Allah Subahnahu wata’ala beliau kemudian diselamatkan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Maka jika sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang-orang yang banyak berdzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit”. (QS. Shafat: 143)

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu menginga(Nya)”. (QS. An-Naml/27 : 62).

Tidak ada seorang hamba yang berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala melainkan akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, pertolongan dan dikabulkannya doa tidak hanya terbatas pada Nabi Nabi Allah Subhanhau wata’ala akan tetapi juga kepada ummat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam riwayat lain: “Hendaklah kamu selalu mengingat Allah, pasti kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Hendaklah kamu mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingat kamu di waktu sempit (susah). Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu. Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan”. Terkadang ketika mendapatkan kelapangan kita lupa kepada Allah Subhanahu wata’ala akan tetapi ketika tertimpa musibah baru kemudian ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai orang yang beriman baik dalam keadaan lapang maupun sempit hendaklah senantiasa mengingat Allah Subhanahu wata’ala“.

Nabi Zakaria ‘Alaihissalam tidak dikaruniai seorang anak ketika beliau berusia lanjut beliau kemudian berdoa sebagaimana doanya yang diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik”. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). (QS. Al Anbiya:89-90).

Doa Zakaria dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan mengaruniakan seorang anak yang langsung diberi nama Yahya oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”. (QS. Al Anbiya’: 90)

Yang menginginkan keturunan hendaklah ia membaca doa zakaria. Allah mengabarkan kepada kita kisah mereka agar menjadi pelajaran bagi kita kalau saja para Nabi adalah pilihan Allah yang paling dekat kepadanya, Allah senantiasa berdoa dan meminta apatah lagi kita yang memiliki banyak kebutuhan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)“. (QS. An Naml : 62).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu“. (QS. At Taghaabun : 11).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”. (HR. Tirmidzi dan beliau berkata hadits hasan yang shahih).

Dalam Riwayat yang lain:

احفظ الله تجده أَمامك ، تعرف إلى الله في الرخاء يعرفك فـي الشدة، واعلم أَن ما أَخطأَك لم يكن ليصيبك ، وما أَصابك لم يكن ليخطئك ، واعلم أَن النصر مع الصبر ، وأن الفرج مع الكرب ، وأن مع العسرِ يسرا

Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Allah di hadapanmu. Kenalilah Allah tatkala engkau dalam kondisi lapang, niscaya Allah akan mengenalmu dan mengingatmu tatkala engkau dalam kondisi sulit. Ketahuilah, apa yang terluput darimu tidak akan mungkin engkau dapati. Dan apa yang akan menimpamu tidak akan mungkin terhindar darimu. Ketahuilah bahwasanya pertolongan datang bersamaan kesabaran. Dan ketahuilah bahwasanya solusi datang bersamaan dengan kesulitan yang dihadapi. Dan bahwasanya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Yang dimaksud menjaga Allah adalah menjaga  batasan – batasan Allah Subhanahu wata’ala baik berupa perintah maupun larangan. Ini merupakan aqidah bagaimana seorang hamba senantiasa hatinya bergantung kepaa Allah Subhanahu wata’ala.

Para Salaf dahulu sampai tali sandal mereka putus sebelum mengadu kepada manusia ia mengadu terlebih dahulu kepada Allah Subhanahu wata’ala,

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu“. (QS. At Thalaq : 3)

Mari memperbanyak doa kepada Allah dibulan ramadhan ini, bulan dimana doa diijabah dan dikabulkan oleh Allah Subhanau wata’ala, bahkan doa yang tidak ditolak adalah doa orang yang sedang berpuasa, begitupula diakhir malam sahur gunakan kesempatan kita untuk berdoa kepada Allah, memperbanyak istighfar kepada Allah dan ini adalah sifat orang – orang yang beriman yang disebutkan didalam Al-Qur’an.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.(QS. Adz Dzariyat: 15-18).

Keutamaan Berdoa

  1. Berdoa adalah mengikuti perintah Allah Subhanahu wata’ala

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. (QS. Mu’min : 60).

Manusia jika ia dimintai ia akan bosan atau bahkan pada akhirnya marah, adapun Allah dia akan marah tatkala kita tidak berdoa dan meminta kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّهُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

Bahwasanya barangsiapa yang tidak (mau) meminta kepada Allah, maka Allah murka kepadanya. (HR Tirmidzi).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran“. (QS. Al Baqarah : 186)

  1. Doa adalah bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala

الدعاء هو العبادة

“Do’a adalah sesuatu yang sangat mendasar dalam ibadah”. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi).

Pada saat seseorang bedoa kepada Allah maka hakekatnya ia telah beribadah. Sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu berkata:”Yang menjadi inti perhatian saya  bukanlah apakah doa saya dikabulkan atau tidak akan tetapi yang penting bagi saya adalah sudahkah saya berdoa atau tidak”, ketika kita berdoa kepada Allah menunjukkan kebaikan kepada diri kita sendiri.

Dalam hadist yang shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Menyebutkan bahwa doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba tidak terlepas dari 3 kemungkinan:

  1. Langsung dikabulkan sebagaimana yang ia minta
  2. Dipalingkan dari marah bahaya sebagaimana apa yang ia minta
  3. Disimpankan untuknya pada hari kiamat sehingga menjadi pahala yang besar yang ketika ia melihat pahala yang besar tersebut pada hari kiamat ia pun berkata:”Aduhai andaikan semua doaku tidak dikabulkan oleh Allah ketika didunia”.
  1. Doa menolak bala

Bahkan mengangkat bala sebagaimana kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Tiada yang bisa menolak takdir Allah, kecuali doa.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Ahmad, dan Ibnu Majah).

Itulah mengapa Rasulullah memerintahkan kita bersungguh – sungguh dalam berdoa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه

Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai, dan lengah (dengan doanya).(HR. Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani).

  1. Menunjukkan kebersamaan hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala

Ada kebersamaan secara umum yang mana Allah Subhanahu wata’ala mengetahui apa yang kita lakukan dan apa yang kita ucapkan bahkan mengetahui apa yang ada didalam hati – hati kita, Kebersamaan Allah kepada hambanya secara khusus diberikan kepada hamba- hambanya yang khusus. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku”. (Muttafaqun ‘alaih).

Adab – Adab berdoa

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد ربه جل وعز والثناء عليه ثم ليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بما شاء

Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يقل أحدكم إذا دعا اللهم اغفر لي إن شئت اللهم ارحمني إن شئت ليعزم المسألة فإنه لا مُكرِه له

Janganlah kalian ketika berdoa dengan mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, rahmatilah aku, jika Engkau mau’. Hendaknya dia mantapkan keinginannya, karena tidak ada yang memaksa Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hendaknya ia memperkuat doanya karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala berkuasa atas segala sesuatunya

  1. Hendaknya menghadirkan hati dalam berdoa

Tidak lali denga apa yang kita panjatkan kepada Allah dalam doa doa kita

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه

Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai, dan lengah (dengan doanya).(HR. Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani).

Barangsiapa yang ingin doanya dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala ketika ia berada dalam kesulitan dan himpitan yang sangat berat hendaknya ia memperbanyak doa ketika dalam keadaan lapang. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَيَكْثُرُ الدَّعَاءَ فِى الرَّخَاءِ

“Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah, maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang”. (Sunan At-Tirmidzi, kitab Da’awaat bab Da’watil Muslim Mustajabah 12/274. Hakim dalam Mustadrak. Dishahihkan oleh Imam Dzahabi 1/544. Dan di hasankan oleh Al-Albani No. 2693).

Firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya”. (QS. Yunus : 12). 

  1. Hendaknya tidak tergesa – gesa

Dari Abu Sa’id, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan do’anya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian. (HR. Ahmad 3: 18, sanad jayyid).

  1. Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala

Hendaknya ketika berdoa kita berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala dan tidak tergesa gesa boleh jadi doa kita dikabulkan setelah beberapa waktu berlalu setelah kita berdoa.

Penghalang Terkabulnya Doa 

Makan dan minum dari sesuatu yang haram

 

Ada yang bertanya kepada Sa’ad bin Abi Waqqosh:

تُستجابُ دعوتُك من بين أصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ؟ فقال : ما رفعتُ إلى فمي لقمةً إلا وأنا عالمٌ من أين مجيئُها ، ومن أين خرجت .

Apa yang membuat do’amu mudah dikabulkan dibanding para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya?” “Saya  tidaklah memasukkan satu suapan ke dalam mulutku melainkan saya mengetahui dari manakah datangnya dan dari mana akan keluar,” jawab Sa’ad”.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan :

“Artinya :”Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan.?”. (Shahih Muslim, kitab Zakat bab Qabulus Sadaqah 3/85-86). Orang ini dalam keadaan safar padahal diantara salah satu doa yang dikabulkan adalah dalam keadaan safar namun doanya tidak dikabulkan karena memakan makanan yang haram.

Dari Salman al-Farisi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah maha pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa“.(HR Abu Dawud (no. 1488), at-Tirmidzi (no. 3556), Ibnu Majah (no. 3865) dan Ibnu Hibban (no. 876)).

Diantara Waktu Doa Dikabulkan

  1. Antara Adzan dan Iqamah
  2. Akhir Malam
  3. Hujan Turun
  4. Pada saat sujud kepada Allah Subhanahu wata’ala
  5. Pada saat dalam keadaan berpuasa
  6. Ketika hendak berbuka.
Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 04 Ramadhan 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR