Pertanyaan:

Assalamu’alaikum
Saya seorang ibu rumah tangga di mana saat ini saya adalah tulang punggung di keluarga. Saya punya 3 orang anak. Entah ini adalah azab atau teguran dari Allah, suami saya selalu menjadi ujian bagi saya. Sekarang suami saya mendekam di penjara. Akhirnya saya banting tulang menghidupi dan menyekolahkan anak-anak saya. Karena penghasilan saya tidak mencukupi, saya jadi banyak berhutang. Sekarang saya jadi bingung saya ingin anak saya masuk pesantren tapi saya tidak sanggup membiayai. Saya berfikir untuk menjual tanah warisan saya untuk bayar hutang dan menyekolahkan anak-anak sy.
Pertanyaan saya amalan apakah yang sebaiknya saya lakukan agar Allah ridho terhadap niat baik sy? Karena saya selalu merasa Allah menjauhi saya. Apakah sy terlalu memaksakan diri? Apakah boleh menjual tanah warisan orang tua tanpa izin keluarga?


Jawaban Ustadzah Ummu Faari’ AR:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya” (Al-Baqarah: 286)

Jadi semua yg ukhti alami saat ini adalah tidak melewati kemampuan ukhti.
Hanya perlu dipahami; terkadang Allah memberikan ujian untuk melihat sejauh mana keimanan seorang hamba kepada-Nya. Dan tidaklah ujian itu diberikan kecuali sebagai bukti cinta Allah. Mungkin Allah merindukan rintihan doa ukhti memohon kelapangan hidup, dll.
Bukan hanya manusia biasa yang diuji Allah dg kesempitan hidup, bahkan nabi-nabi dan rasul-Nya pun merasakannya.

Ketika nabi Ayyub diuji dg sakit yang sangat parah, istrinya dijadikan tua, anak-anak nya dimatikan semua, dia tak dapat berbuat apa-apa, selama berapa tahun? 18 tahun. Namun ketika malaikat mendatanginya, menyuruhnya meminta kepada Allah kesembuhan, beliau menolak. Beliau mengatakan sungguh masih bnyak nikmat Allah atasku dan aku tak ingin dikatakan hamba yg kufur nikmat dan banyak mengeluh.

Kesabarannya dan prasangka baiknya kepada Allah menjadikan Allah ridha dan cinta. Penyakitnya diangkat, istrinya dikembalikan muda, anak-anaknya dikembalikan.

Demikianlah hakikat ujian.

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada masa depan), sedih (akan masa lalu), kesusahan hati (berduka cita) atau sesuatu yang menyakiti sampai pada duri yang menusuknya, itu semua akan menghapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari, no. 5641 dan Muslim, no. 2573. Lihat Syarh Shahih Muslim, 16: 118 dan Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 1: 491)

Menjual harta warisan boleh asal dengan izin seluruh pewaris.
Wallahu a’lam

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR