بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ar-Raja’ artinya pengharapan lawan dari Al-Khauf (Rasa takut), biasanya banyak ustadz mendahulukan pembahasan Al-Khauf kemudian Ar-Raja. Adapun pembahasan kali ini kita dahulukan Ar-Raja kemudian Al-Khauf sebagaimana uslub yang Allah sebutkan didalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih“. (QS. Al-Hijr : 49-50).

Setelahnya Allah mengatakan:”Sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih”, jadi Allah mengedepankan At Targhib sebelum At Tarhib.

Allah Subhanahu wata’ala menunjukkan keluasan rahmatnya sebelum menyampaikan pedihnya azab yang Allah siapkan untuk hambanya, begitupula dengan uslub dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengedepankan At Targhib kemudian At Tarhib, membuka pengharapan kepada orang – orang yang telah hampir berputus asa dari pada menakut-nakuti mereka dengan azab Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan uslub yang lain sebagaimana yang terdapat dalam Surah Al-Fatihah yang dimulai dengan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Arrahmanirrahim, malikiyawmiddin. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (Ayat ini menunjukkan rasa cinta kita kepada Allah), Arrahmanirrahim (Pengharapan akan luasnya rahmat Allah Subhanahu wata’ala) kemudian Malikiyawmiddin (yang menguasai hari pembalasan inilah yang melahirkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala).

Para Salafussholeh Rahimahullah mereka bersungguh – sunggguh dalam beribadah dan mereka mengharapkan keluasan rahmat Allah Subhanahu wata’ala, adapun kita dimana sebagian diantara kita terkadang jatuh dan larut dalam maksiat kemudian terlalu mengharapkan keluasan rahmat Allah Subhanahu wata’ala, inilah yang menjadi perbedaan kita dengan para Salafussholeh Rahimahullah. Terkadang ada orang yang rajin bermaksiat dan ketika diingatkan ia berkata:”Rahmat Allah begitu luas”, ini yang disebut dengan salah kaprah dalam memahami Ar-Raja, oleh karena itu Ar-Raja atau pengharapan harus dibarengi dengan amalan, sebagaimana Hasan Al Basri Rahimahullah, beliau berkata:”Ada orang yang berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala kemudian mereka terjatuh dalam perbuatan maksiat, demi Allah mereka itu dusta, Andaikan benar – benar mereka berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala mereka akan memperbaiki amalan – amalan yang mereka kerjakan”.

Rasa takut dan pengharapan bagi orang yang beriman disebutkan oleh para ulama:”Ibaratnya seperti 2 buah sayap bagi seekor burung, jika ada burung yang memiliki satu helai atau satu sayap tanpa sayap yang lain maka dia tidak akan bisa terbang“. Imam Abu Ali berkata:”Rasa takut dan pengharapan ibaratnya 2 sayap bagi seekor burung, ketika kedua sayap itu baik maka burung itu bisa terbang dengan baik, namun jika salah satu dari 2 sayap itu kurang atau tidak ada maka dia tidak akan bisa terbang, seakan burung itu tidak bernyawa atau burung yang mati”.

Para ulama kita menyebutkan:”Ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala memilki 3 rukun” diantaranya:

  1. Al Hub (Rasa cinta), Jika sesorang beribadah yang tidak didasari cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala maka tidak akan memiliki arti dari ibadah yang ia kerjakan, begitupula seseorang yang menerapkan syariat Allah namun ia benci kepada Allah juga tidak memiliki arti dari syariat yang ia terapkan.
  2. Al Khauf (Rasa Takut kepada Allah Subhanahu wata’ala).
  3. Ar Raja (Pengharapan).

Dalil yang menyebutkan hal diatas terdapat dalam surah Al-Fatihah dengan lafadz  Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Kita memuji Allah Subhanahu wata’ala karena 2 hal:

  1. Karena kesempurnaan sifat dan dzat Allah Subhanahu wata’ala
  2. Allah senantiasa memberikan kepada kita nikmat sehingga melahirkan cinta kepada Allah.

Jika manusia memberikan kepada kita sesuatu pasti akan melahirkan rasa cinta kepadanya, walaupun orang yang memberi tidak tulus dan ikhlas, kadang ada yang memberi karena menginginkan sesuatu dari apa yang ia berikan yang bukan niatnya karena Allah Subhanahu wata’ala, adapun Allah Subhanahu wata’ala memberi kepada hambanya bahkan sampai kepada orang yang membencinya sekalipun. Oleh karenanya Allah memberikan dunia ini kepada orang yang dibencinya dan dicintainya namun tidak memberikan akhirat kecuali kepada orang – orang yang dicintainya.

Ulama kita membedakan Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Ar-Rahman (Yang sangat luas rahmatnya yang meliputi segala sesuatunya bahkan kepada orang – orang kafir sekalipun , kepada binatang, kepada hewan, kalangan jin dan seluruh makhluk) sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

إن لله مائة رحمة أنزل منها رحمة واحدة بين الجن والإنس والبهائم والهوام، فيها يتعاطفون، وبها يتراحمون، وبها تعطف الوحش على ولدها، وأخر الله تسعا وتسعين رحمة يرحم بها عباده يوم القيامة

Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. Salah satu di antaranya diturunkannya kepada kaum jin, manusia, hewan, dan tetumbuhan. Dengan rahmat itulah mereka saling berbelas kasih dan menyayangi. Dengannya pula binatang liar mengasihi anaknya. Dan Allah mengakhirkan 99 rahmat untuk Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat”. (Muttafaq ‘alaih; dalam Shahih Bukhari no. 6104 dan Shahih Muslim no. 2725; lafal hadits ini dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu). Seekor hewan yang hampir menginjak anaknya kemudian ia menahannya maka itu bagian dari satu rahmat yang Allah turunkan di muka bumi.

Buaya yang mampu menerkam mangsanya dengan menggunakan taring yang kuat, namun menjadi tempat yang aman bagi anaknya ketika ia membawa anaknya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, begitupula dengan kucing yang mengoyak mangsanya namun ketika memindahkan anaknya ia menggunakan giginya akan tetapi tidak melukai atau menyakiti anaknya. Ini bagian dari salah satu rahmat yang Allah turunkan kepada hambanya. Seseorang yang terjatuh dalam perbuatan maksiat Allah masih merahmatinya dengan rahmat yang begitu luas dengan senantiasa membuka pintu ampunan kepada mereka.

Rukun yang ketika adalah Al-Khauf yang disyaratkan dalam firman Allah “Malikiyawmiddin” (yang menguasai hari pembalasan), ketika kita mengingat hari pembalasan atau hari kiamat tempat berdirinya seluruh manusia di padang mahsyar, dihisabnya kita dihadapan Allah, orang – orang yang kita dzalimi akan datang mengadu kepada Allah. ini menjadikan kita takut dan semakin waspada dalam menjalani kehidupan didunia, lisan semakin kita jaga, begitupula dengan perbuatan kita, karena kita tahu bahwasanya semuanya akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah Subhanahu wata’ala. ketiga hal ini harus dikumpulkan.

Ulama kita menjelaskan:“Siapa yang menyembah Allah Subhanahu wata’ala hanya dengan rasa cinta maka ia zindiq (munafik), siapa yang menyembah Allah Subhanahu wata’ala hanya dengan rasa takut maka ia haruri (Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar), siapa yang menyembah Allah Subhanahu wata’ala hanya dengan pengharapan maka ia murjiah (orang yang menganggap tidak ada yang bisa membahayakan keimanan seseorang ketika ia melakukan dosa apa saja setelah mengucapkan syahadat dan tempatnya disyurga)”, adapun mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah pertengahan. Jadi Al-Hub, Ar-Raja dan Al-Khauf adalah 3 rukun ibadah yang jika terkumpul ketiganya pada diri seorang hamba maka ia telah menunaikan kesempurnaan ibadahnya kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Allah menyebutkan ketiga hal tersebut dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami“. (QS. Al-Anbiya : 90).

Bersambung (AR-RAJA’ Silsilah Amalan Hati Sesi 2).

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 10 Rajab 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR