Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal untuk menanyainya tentang sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.”

Dalam hadits yang lain disebutkan:

“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal lalu membenarkan apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Para ulama mengompromikan kedua hadits ini dengan mengatakan: Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal namun tidak mempercayainya, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 tahun. Namun jika ia mempercayainya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi siapa yang bertaubat, maka Allah akan mengampuninya.

***

Seorang wanita mengisahkan:

Aku menikah saat usiaku genap 17 tahun. Aku kemudian melahirkan seorang putri…Aku menjalani sebuah kehidupan yang foya-foya bersama suamiku: pesta demi pesta…dugem…berpenampilan mengumbar aurat…dan kami benar-benar lupa kepada Allah dan akhirat. Kami meletakkan dunia dengan semua kesenangannya di depan mata kami. Syetan pun memperindahnya untuk kami dengan seindah-indahnya…

Hari-hari pun berlalu…tahun demi tahun…

Dan ketika putriku berusia 12 tahun, tiba-tiba saja aku ingin sekali hamil untuk kedua kalinya. Aku pun sepakat dengan suamiku untuk hal yang satu ini. Dan terjadilah kehamilan itu. Namun kehamilanku kali ini tidak alami. Setiap kali berkunjung ke dokter, ia selalu mengatakan kepadaku: “Kehamilan Anda ini tidak sehat. Mungkin tidak lewat dari bulan ini, Anda akan mengalami keguguran!”

Sudah begitu banyak biaya perawatan yang dihabiskan untukku: obat-obatan, injeksi, dan…dan….Tapi suamiku tak juga tenang…Ia terus berusaha mencari jalan keluar ke sana dan ke mari. Hingga tiba-tiba aku dikejutkan suatu hari ia mengatakan:

“Aku sudah menemukannya. Tangannya sangat diberkati! Tidak ada satu pun yang dilakukannya kecuali pasti berhasil. Ayolah kita pergi menziarahinya!”

Aku pun pergi bersamanya untuk menemui pria itu. Ternyata seorang peramal. Tidak lama setelah aku duduk di hadapannya, ia pun segera memulai ritualnya: asap dupa, jampi-jampi…

Aku sama sekali tidak mengerti sedikit pun…Yang penting semua yang ia minta dariku telah aku lakukan. Tapi semua rasa sakit masih terus menghinggapiku terus-menerus. Dan ketika aku mengunjungi dokter untuk mengeceknya sekali lagi, ia hanya mengucapkan ucapan yang sama seperti yang dulu ia katakan: “Tunggu saja kegugurannya…

Ia kemudian menawarakan untukku sebuah injeksi yang dapat meringankan rasa sakitnya…Aku menolaknya dengan keras. Tapi aku kembali mendatangi dukun ini, peramal itu…yang ini dengan dupa, yang itu dengan jimat, lalu yang satu lagi dengan berbagai bentuk ritual perdukunan…

Tapi semua tidak berguna. Bahkan aku justru semakin sesak. Aku mulai kehilangan kesabaran. Aku mulai sering mengalami mimpi buruk yang begitu mengganggu, tapi tidak dapat kupahami. Dan aku sendiri tidak berusaha untuk menafsirkannya…Singkatnya, aku hidup seperti seorang yang putus asa yang nyaris saja menyeretku pada kegilaan…

Suatu waktu, aku merasa seolah waktu tiba-tiba berhenti…

Aku mengambil semua jimat itu dan membuangnya ke tanah. Aku menengadahkan tanganku ke langit…lalu dengan suara lirih dan air mata yang memenuhi mataku, aku berkata:

Aku telah berserah diri kepadaMu, wahai Tuhanku…maka tolonglah aku!

Selang beberapa hari kemudian, guncangan itupun mulai tenang…Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi darah yang mengalir. Tidak ada lagi rasa was-was dan gelisah…

Aku merasakan ketenangan yang aneh dalam jiwaku…Aku berdiri lalu mandi dan bersuci, kemudian mengerjakan shalat. Itulah shalat pertamaku sejak kurun waktu yang lama…

Aku merasakan ketenangan yang menakjubkan. Semua yang ada di sekelilingku pun tenang. Akhirnya aku kembali mengunjungi dokter,  dan ia benar-benar terkejut dengan kondisiku. “Apa yang telah Anda lakukan?” tanyanya.

“Tidak ada, selain bahwa aku bertawakkal kepada Allah, dan siapa yang tawakkal kepada Allah, pasti akan dicukupkan olehnya.”

Masa kehamilanku akhirnya usai. Aku melahirkan seorang putri yang sempurna, alhamdulillah. Aku terus menjaga shalatku, tanpa mengamalkan ajaran Islam lain, seperti mengenakan jilbab atau yang lainnya…

Ketika putriku memasuki usia 2,5 tahunnya, ia mulai berbicara dengan cara yang menakjubkan. Ia pernah menanyaiku:

Mama…Mama…Apa Mama sayang kepada Allah?”

Maka aku menjawabnya: “Tentu saja, Nak.”

Lalu ia mengatakan: “Allah mencintai kita jika Ia memberi kita roti, telur dan air…!

Suatu ketika, ia mengatakan: “Mama, gambarkan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku.”

Aku menjawab: “Oh, beliau sangat gagah…gagah…gagah.” Aku mengulanginya beberapa kali, namun ia memotongku dan mengatakan:

Benar sekali, Mama…Beliau itu gagah…tapi jangan mengatakan ‘gagah”, katakan: ‘bercahaya’, Mama…

Banyak lagi kalimat-kalimat yang diucapkannya, hingga selama beberapa hari aku terus memikirkannya. Dan setelah aku menceritakannya kepada salah seorang kawanku tentang proses kehamilanku dan tentang ucapan putriku, ia menghadiahkan padaku sebuah buku tentang “Doa dalam Sunnah”. Aku banyak belajar darinya. Ia juga menasehatiku agar mengenakan jilbab, maka aku pun mengenakannya.

Untuk pertama kalinya aku masuk ke mesjid, berkenalan dengan kawan-kawan yang shalehah, bertakwa dan tulus; kawan-kawan yang selalu takut kepada Allah. Itu semua sangat menolongku untuk mengenali agamaku dengan cara yang jika ditawarkan kepada orang-orang kafir, maka mereka semua akan masuk Islam gelombang demi gelombang…

Dari mereka, aku sudah cukup mendapatkan ungkapan yang baik dan senyuman yang tulus untukku. Memang benar adanya, senyumanmu untuk saudaramu itu adalah sedekah, seperti yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aku pun mulai berjihad di rumahku bersama suami dan anak-anakku. Dan alhamdulillah, sejak beberapa bulan saja, suamiku pun mulai mengenal jalan ke mesjid. Sedangkan putri tertuaku telah mengenakan hijab. Ia termasuk anak yang patuh dan mendengarkan apa kata orang tua. Ia selalu membaca bersamaku buku-buku yang aku pinjam dari mesjid atau dari akhawat shalehah yang lain.

Aku akhirnya yakin tentang diharamkannya lagu-lagu. Aku pun meninggalkannya tanpa mendebatnya. Begitu pula hal-hal lainnya yang tak terhitung lagi. Duhai, segala puji hanya bagi Allah. Semoga Allah meneguhkanku dan juga kalian di atas jalan yang lurus.


Alih Bahasa:
Muhammad Ihsan Zainuddin
Pembina https://kuliahislamonline.com
Sumber: Qashash Mu’atstsirah Jiddan Lil Fatayat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.