بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala berwasiat didalam Al-Qur’an, sungguh Allah telah berwasiat kepada ummat – ummat sebelum kita yang diberi al kitab dan berwasiat kepada kalian semua:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”.(QS. Al-Baqarah: 197). Yaitu dengan senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya, mengharapkan rahmat dari Allah dan mengkhawartirkan diri kita dari azab neraka Allah:

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka”. (QS. Al-Baqarah: 201).

Merupakan sebuah keniscayaan bahwasanya setiap yang berjiwa atau yang bernyawa akan merasakan yang disebut dengan kematian, Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”. (QS. Ali Imran: 185).

Allah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad)”. (QS. Al Anbiya’: 34). Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. (QS. Az-Zumar : 30). Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Setiap apa yang ada dipermukaan bumi ini adalah sesuatu yang fana dan segala sesatunya ada batasannya, ketika ajal telah tiba maka tidak akan ada yang mampu memajukan sedetikpun dan tidak ada yang mampu mengundurkan sedetikpun, siapapun dia baik orang kaya maupun orang miskin, baik ia seorang pejabat yang senantiasa dikelilingi oleh seorang pengawal dan berada didalam benteng yang kokoh kematian akan menjemputnya, Allah berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. (QS. An Nisa’: 78).

Kematian tidak memandang umur, kematian tidak melihat orang yang sehat atau orang yang sakit bahkan dalam syair dikatakan:”Betapa banyak orang sehat mati tiba – tiba tanpa sebab dan betapa banyak orang yang sakit berulang kali masuk ke dalam rumah sakit mendapatkan bantuan pernafasan atau mendapatkan transfusi darah atau bahkan cuci darah namun sampai detik ini masih hidup bersama dengan kita dan betapa banyak pemuda yang tertawa dipetang hari sedang kain kafannya sudah disiapkan dan ia tidak menyadarinya dan betapa banyak anak kecil yang masih diharapkan masa depannya sedangkan jasadnya dimasukkan dalam gelapnya kubur dan betapa banyak calon mempelai yang dirias dan dipersiapkan untuk pasangannya sedangkan ruhnya dicabut pada malam yang telah ditentukan”.

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ

Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari“. 

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

Barang siapa yang suka berjumpa dengan Allah maka Allah suka berjumpa dengannya, dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah maka Allah benci untuk bertemu dengannya”. (HR. Muslim)

Ketika ‘Aisyah mendengarkan hadist tersebut beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebencian berjumpa dnegan Allah. ‘Aisyah berkata:”Ya Nabi Allah, apakah kebencian yang dimaksudkan berjumpa dengan Allah adalah kebencian kita terhadap kematian dimana kita semua takut dengan kematian“, ini adalah ketakutan yang sifatnya tabiat, ketakutan yang sifatnya jibillah, ketakutan yang sifatnya manusiawi yang tidak bertentangan dengan aqidah dan hal ini tidak dicela dalam agama kita, misalkan ketika ada orang yang sakit dia berobat, ketika naik kendaraan dia mengunakan sabuk pengaman, naik motor menggunakan helm, atau ketika ada orang yang diberikan kelapangan harta dia menyewa security akan tetapi bukan ini yang dimaksud karena ini adalah merupakan fitrah dan merupakan tabiat, adapun kebencian terhadap kematian yang dicela dalam agama kita dijelaskan dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

تَدَاعَى عَلَيْكُمْ اْلأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا قَالُوْا : أَمَنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ؟ قَالَ : لاَ، أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيُننَزِّ عَنَّ اللَّهُ الرَّهْبَةَ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ لَكُمْ، وَلَيُقْذِ فَنَّ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ، قَالُوْا : وَمَا الْوَهْنُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Telah berkumpul umat-umat untuk menghadapi kalian, sebagaimana orang-orang yang makan berkumpul menghadapi piringnya’. Mereka berkata : Apakah pada saat itu kami sedikit wahai Rasulullah ? Beliau menjawab :”Tidak, pada saat itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan, dan Allah akan menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian, dan Allah akan menimpakan pada hati kalian penyakit Al-Wahn’. Mereka berkata : Apakah penyakit Al-Wahn itu wahai Rasulullah?. Beliau menjawab :’Cinta dunia dan takut akan mati”. (HR.Abu Daud).

Rasa simpatik, rasa takut telah dicabut dari dada dada musuh kaum muslimin. Rasa takut kepada kematian disebabkan karena keimanan yang lemah karena ketergantungan terhadap dunia yang fana, dia dibutakan dengan gemerlapnya dunia yang sebentar lagi ia akan tinggalkan. Oleh karenanya ketika ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah apakah yang dimaksud benci berjumpa dengan Allah adalah benci terhadap kematian.? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab:”Bukan itu yang dimaksud wahai ‘Aisyah”.

Adapun orang yang beriman ketika ia diberi kabar gembira oleh Allah Subhanahu wata’ala berupa rahmat dan keridhaan dari Allah dan untuk dimasukkan ke dalam surganya maka dia semakin rindu untuk berjumpa dengan Allah Subhanhau wata’ala, sebaliknya orang kafir, orang fajir ahlu maksiat ketika ia dalam sakratul maut dia diberi kabar gembira dengan neraka dan kemurkaan dari Allah Subhanahu wata’ala sehingga ia semakin benci untuk berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala.  

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 10 Ramadhan 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.