بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mukaddimah

Dr Ali Muhammad Ash Shalabi hafidzahullah seorang ahli sejarah islam bertutur  “Andaikata dunia itu dibawah satu kerajaan, maka ibu kota yang paling sesuai untuknya adalah Konstantinopel”. Kalimat tersebut menggambarkan kemegahan dan kekuatan yang dimiliki oleh kota Konstantinopel sebagai ibu kota Romawi Timur. Konstantinopel merupakan kota terkuat pada masanya yang didirikan pada tahun 330 masehi oleh kaisar Byzantium “Constantine I”. Konstantinopel dikatakan sebagai kota terkuat karena mempunyai benteng yang berlapis juga dikelilingi oleh perairan sehingga memiliki pertahanan yang sempurna. Namun tahukah kita bahwa yang menaklukan kota terkuat ini adalah seorang pemuda belia yang lahir dari keluarga istimewa bernama Sulthan Muhammad Al Fatih. Tulisan ini mencoba menjelaskan kisah penaklukannya dari sudut pandang pendidikan keluarga, semoga bermanfaat.

Sang Penakluk

Membaca kisah Sulthan Muhammad Al Fatih rahimahullah “sang penakluk Konstantinopel” memang memberikan pengalaman belajar yang dahsyat. Setiap orang yang pernah membaca ceritanya berkeinginan untuk mengulangnya kembali. Bagaimana tidak, beliau rahimahullah menjadi Sulthan hebat yang disegani dunia dan berhasil mewujudkan  ramalan Rasulullah tentang penaklukan Konstantinopel yang tidak mampu diwujudkan oleh para pendahulunya sehingga membuat beliau mendapatkan predikat “pemimpin terbaik” saat usianya baru berjalan 24 tahun. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda

لتفتحن القسطنطينية على يد رجل، فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan islam. Pemimpin yang menaklukkan adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan yang berada dibawah komandonya adalah sebaik-baiknya pasukan“. (HR. Ahmad)

Sebutlah sahabat mulia Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ’anhu yang pernah melakukan serangan terhadap kota Konstantinopel pada tahun 44 hijriyah dan itu adalah serangan pertama kaum muslimin terhadap kota tersebut, namun tidak berhasil. Serangan selanjutnya dilakukan oleh pemerintahan Dinasti Umayyah pada tahun 98 hijriyah, namun juga belum berhasil. Pemerintahan Harun Ar Rasyid tercatat pernah melakukan penyerangan pada tahun 190 hijriyyah namun masih saja belum berhasil. Akhirnya pada tahun 857 hijriyyah atau 1453 masehi Sulthan Muhammad Al Fatih rahimahullah beserta pasukannya mampu menembus dan menaklukkan kota ini.

Terdapat pelajaran penting dari kisah diatas, pelajaran itu adalah “jangan pernah meremehkan para pemuda”, karena pemuda mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki usia sebelum dan sesudahnya, dan karena perjuangan pemuda agama islam ini bisa tersebar. Setiap muslim yang menginginkan lahirnya kembali “sang penakluk” harus belajar dari kehidupan Sulthan Muhammad Al Fatih.

Keluarga Istimewa

Sulthan Muhammad Al Fatih merupakan Sulthan yang berilmu, Sulthan yang shaleh, pemimpin negara dan militer yang hebat bahkan mendapatkan janji kebesaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, namun tahukah kita bahwa jauh sebelum menjadi Sulthan penakluk Konstantinopel ada sebuah pelajaran sejarah yang jauh lebih dahsyat untuk diketahui. Bahkan sejarah beliau dapat ditiru oleh orang tua manapun yang ingin mencetak karakter anak-anak mereka seperti karakter Sulthan Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel.

Sulthan Muhammad Al Fatih lahir pada tahun 833 hijriyyah atau 1429 masehi. Beliau rahimahullah adalah anak yang tidak terlalu istimewa semasa kecilnya, dibesarkan dalam lingkungan kerajaan, keluarga besarnya adalah keluarga istana, orang-orang cerdas, briliyan dan pemimpin hebat. Ayahnya adalah Sulthan Murad II dan ibunya Ratu Valide Yumahatun, kakek-kakenya adalah para Sulthan turki utsmani. Akibat gemerlap lingkungan kerajaan, Al Fatih tumbuh menjadi anak yang malas belajar. Bayangkanlah anak-anak para penguasa hari ini yang hidup di istana. Terdapat pelajaran yang berharga untuk kita, pelajaran itu adalah berhati-hatilah dengan fasilitas, karena fasilitas bisa membuat malas. Pelajaran berikutnya adalah jangan pernah menganggap remeh setiap anak yang “malas” belajar, karena bisa jadi kelak dia akan menjadi orang besar jika dididik dengan benar.

Sulthan Muhammad Al Fatih rahimahullah yang juga bergelar Abul khairat, Sulthan ketujuh dalam silsilah keluarga utsman, lahir pada masa ketika ayahnya membutuhkan seorang penerus kerajaan yang bisa mewujudkan cita-cita besar para pendahulunya yaitu menaklukkan Konstantinopel. Maka pilihan untuk memilih penerus kerajaan hanya diberikan kepada Muhammad Al Fatih setelah kakaknya “Sulthan Alauddin” wafat. Ada pelajaran yang berharga untuk setiap keluarga muslim bahwa hendaknya para orang tua senantiasa memikirkan kelanjutan amal sholeh yang selama ini dibangun, dan hal itu bisa diwujudkan dengan memikirkan pendidikan yang benar bagi anak.

Sulthan Murad II adalah pemimpin cerdas dan shaleh, pemimpin yang sangat dekat dengan para ulama dan kedekatan itu membuatnya bisa memilih guru yang tepat untuk pendidikan anaknya. Namun masalahnya setiap guru yang datang kepada Al Fatih untuk mengajar ilmu dan keshalehan selalu ditertawakan, dilecehkan dan diabaikan. Sulthan Murad II sadar betul untuk mewujudkan misi besarnya diperlukan seorang guru yang mampu membentuk karakter anaknya. Sang ayah akhirnya mendapat satu nama guru yang tepat yaitu Syaikh Ahmad bin Ismail Al Kurani rahimahullah.

Ketika Syaikh Ahmad datang ke istana, Sulthan Murad II berkata kepadanya “saya akan menyerahkan pendidikan anak saya kepadamu” sembari Sulthan menyerahkan kayu kepada Syaikh Ahmad lalu Sulthan melanjutkan perkataannya “ajari anak saya ilmu kalau dia tidak mau belajar maka pukul dia dengan kayu ini”. Al Kurani segera pergi menemui Muhammad Al Fatih dengan membawa kayu di tangannya. Dia berkata, “Ayahmu mengirimku kepadamu untuk mengajarimu. Dia menyuruhku untuk memukulmu jika kamu tidak mau melaksanakan perintahku.”

Mendengar perkataan itu, Sulthan Muhammad Al Fatih tertawa. Al Maula Al Kurani pun memukulnya dengan sangat keras dimajelis tersebut. Hal ini membuat Sulthan Muhammad Al Fatih takut kepadanya. Akhirnya, dia berhasil mengkhatamkan hafalan Al Qur’an dalam waktu singkat. Disini terdapat pelajaran yang sangat mahal, pelajaran itu adalah mulailah pendidikan anak kita dari Al Qur’an dan hendaknya para orang tua memilih guru yang tepat untuk mendidik anak, ketika guru itu datang maka serahkanlah pendidikan anak itu dengan sepenuh hati. Pelajaran berikutnya adalah “wibawa”. Seorang guru hendaknya mempunyai wibawa dihadapan murid, jika tidak maka akan terjadi kiamat pendidikan, ilmu yang diajarkan tidak akan bermanfaat lagi.

Wanita Istimewa Untuk Sang Penakluk

Madrasah pertama bagi anak adalah ibunya, syair ini ternyata benar adanya terutama untuk keluarga “sang penakluk”. Ratu Valide Yumahatun ibu Al Fatih adalah seorang wanita yang shaleha, ibu yang istimewa, ibu yang fokus dalam mendidik anaknya, tidak bercabang perasaan dan hatinya, tidak bercabang akal logika dan kecerdasannya, semua di fokuskan untuk melahirkan orang besar, melahirkan pembuka Konstantinopel, melahirkan manusia yang nanti mendapatkan janji nabi. Ratu Valide Yumahatun mengerahkan seluruh potensi yang dimilikinya untuk mendidik  Muhammad Al Fatih.

Setiap selesai shalat subuh sang ibu membawa Muhammad Al Fatih untuk berjalan keluar, kemudian menunjukkan dari kejauhan benteng Konstantinopel yang megah itu, lalu beliau berkata “namamu nak adalah nama nabi kita Muhammad shallallahualaihi wa sallam, nabi kita yang pernah mengatakan ‘benteng itu pasti akan ditaklukan’ dan kamu adalah penakluknya”. Ada pelajaran berharga bagi para ibu dari ratu Valide, pelajaran itu adalah bersungguh-sungguhlah menanamkan misi besar kepada anak.

Penutup

Diakhir tulisan ini kami ingin mengangkat kalimat Dr Ali Muhammad Ash Shalabi dalam bukunya “Ash Shultan Muhammad Al Fatih, Fatih Al Qanstantiniyah”, beliau mengatakan “keberhasilan penaklukan Konstantinopel bukan keberhasilan Muhammad Al Fatih semata, tetapi keberhasilan Sulthan Murad II, Bayazid, Orkhan, Utsman dan para pendahulunya”. Inilah gambaran yang sangat singkat mulianya keluarga besar sang penakluk, maka mari kita belajar dari keluarga Muhammad Al Fatih.

Wallahu Alam

Ya Rabb bimbinglah kami

 Zulqadri Ramadhan

(Manajer Kuttab Imam Malik)

Rujukan :

  1. Ash Shultan Muhammad Al Fatih, Fatih Al Qanstantiniyah, Karya : Syekh Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi, yang telah diterjemahkan dalam buku Muhammad Al Fatih Sang Penakluk
  2. Ceramah Ust.Budi Ashari, Lc pada tayangan Khalifah yang berjudul Mendidik Anak Menjadi Sultan Al Fatih

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR