بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dari Abu Ibrahim, Abdullah bin Abi Aufa Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari di waktu beliau bertemu dengan musuh, beliau menantikan sehingga matahari condong, lalu beliau berdiri didepan banyak orang kemudian bersabda:“Hai sekalian manusia! janganlah kalian semua mengharapkan bertemu musuh dan mohonlah kepada Allah akan diberi keselamatan. Akan tetapi, jika kalian semua telah bertemu musuh, maka bersabarlah. Ketahuilah bahwa syurga itu berada dibawah naungan pedang”.

Selanjutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Ya Allah yang menurunkan Kitab, yang menjalankan awan, yang memporak-porandakan pasukan musuh. Porak-porandakanlah mereka itu dan berilah kami semua kemenangan atas mereka”. (Muttafaq ‘alaih, Shahih: Al-Bukhari (2965, 2966); Muslim (1742)).

Pasukan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah dalam peperangan disebut dengan Ghazwah dan yang beliau utus seorang sahabat untuk memimpin perang disebut dengan Sariyyah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus sebanyak 50 Sariyyah dan yang beliau pimpin dalam perang sebanyak 29 Ghazwah dan beliau terlibat langsung dalam perang sebanyak 9 Ghazwah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hisyam walaupun hal ini terjadi khilaf dikalangan para ulama.

Oleh karenanya beliau disebut dengan Nabiyu Rahmah dan Nabiyu Malhamah, Nabiyu Rahmah adalah Nabi yang sangat penyayang dan Nabiyu Malhamah dimana beliau  menyebarkan agama Allah Subhanahu wata’ala dengan kedamaian, beliau bersurat terlebih dahulu kepada mereka dan kepada raja atas perintah dari Allah untuk menyebarkan tauhid, oleh karenanya ketika Rasulullah mengutus pasukan, beliau melarang para mujahidin untuk membunuhi wanita, orang tua yang tidak berdaya, mengganggu orang yang ibadah ditempat ibadahnya atau bahkan memotong pohon – pohon  yang tidak dibutuhkan, ini diantara hal yang dilarang  oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peperangan.

Jihad terbagi menjadi 2 yaitu jihad dhafa’i (Menahan atau membela diri ketika ada musuh yang menyerang sehingga hukumnya menjadi fardhu ‘ain bukan lagi fardhu kifayah untuk perang dengan mereka adapun jihad thalab yaitu kaum muslimin yang memulai menyerang orang-orang kafir setelah memberikan kepada mereka tawaran masuk islam atau membayar jizyah (upeti).

Diantara hal yang dianjurkan adalah berniat untuk berjihad walaupun tidak ada peperangan yang diikuti sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam didalam hadist:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaih wasallam bersabda: “Barangsiapa mati dan tidak pernah berperang (di jalan Allah) dan tidak pernah bercita-cita untuknya, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafikan”. (HR. Muslim : 3533).

Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu tiada satupun peperangan melainkan beliau bersama dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ditubuh beliau dengan jarak satu jari terdapat sobekan pedang, tusukan tombak atau anak panah, diakhir hidupnya beliau menangis mengharapkan mati syahid dijalan Allah, beliau berkata:”Saya akan mati diatas pembaringan seperti matinya seekor unta“, karena beliau telah berniat mati syahid sehingga niatnya sampai kepada Allah Subhanahu wata’ala dan beliau tercatat sebagai syahid sebagaimana disebutkan dalam hadist diatas.

Beliau menantikan sehingga matahari condong, lalu beliau berdiri didepan banyak orang kemudian bersabda:“Hai sekalian manusia! janganlah kalian semua mengharapkan bertemu musuh dan mohonlah kepada Allah akan diberi keselamatan. Akan tetapi, jika kalian semua telah bertemu musuh, maka bersabarlah. Ketahuilah bahwa syurga itu berada dibawah naungan pedang”.

Kata para ulama bahwasanya Nabi sangat sayang kepada pasukannya beliau tidak mau menyerang ketika panas terik yang sangat membakar,  Anas bin Nadhar dalam perang uhud beliau maju dan mengatakan:”Saya sudah mencium bau surga dibalik gunung uhud“, Umair bin Humam juga mengalami kondisi demikian ketika dalam perang badar Rasululah mengatur barisan kaum muslimin, beliau memotivasi mereka dengan berkata:”Bersegerah kalian untuk masuk ke dalam surga yang luasnya seperti langit dan bumi”, Umair bin Humam berkata:”Bakhil – bakhil“, Rasulullah mendengar dan berkata:”Ya Umair mengapa engaku berkata bakhil –bakhil”, belaiu berkata:”Ini adalah ekspresi ketidaksabaran saya“, Umair bin Humam mengeluarkan perbekalan beberapa biji kurma ia makan 1-3 dan yang sisanya ia lemparkan kemudian berkata:”Demi Allah, ini adalah kehidupan yang panjang jika saya masih sempat memakan sisa dari kurma ini”, Allah Subhanahu wata’ala menerima persaksian beliau.

Salah seorang sahabat pernah datang kepada Rasulullah kemudian membaiat beliau dan Nabi berkata kepada para sahabat:”Berikan ia sesuatu untuk menguatkan agama dan islamnya”, ia kemudian berkata:”Ya Rasulullah bukan untuk itu saya membaiat anda, saya membaiat anda untuk kemudian ditembakkan panah disini tembus disini Ya Rasulullah“, Rasulullah berkata:”Jika ia jujur, Allah akan memperlihatkan apa yang ia inginkan”. Akhirnya dia meninggal dan mati dalam keadaan demikian.

Rasulullah berkata:”Mohonlah kepada Allah akan diberi keselamatan”.

Rasulullah melarang untuk mencari musuh dan menganjurkan untuk selalu meminta keselamatan dan jika dalam kondisi terpaksa dimana telah berhadapan dengan musuh maka Rasulullah melarangnya untuk lari dan menganjurkan untuk bersabar menghadapi mereka dalam perang. Umat muslim yang berjihad dimedan perang kemudian terbunuh dalam keadaan syahid maka ia terhindar dari fitnah dan azab kubur,  sahabat bertanya:”Ya Rasulullah mengapa orang yang mati tidak mendapatkan siksa kubur“, Rasulullah  menjawab:”

“Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya itu sebagai ujian/fitnah baginya”. (HR. An Nasa’i). Dalam hadist yang lain:“Sesungguhnya pintu-pintu surga itu dibawah naungan pedang”. Bahkan orang yang berjihad tidak merasakan sakitanya terbunuh dimedan jihad kecuali kata Rasulullah seperti orang yang digigit serangga.

Rasulullah kemudian berdoa dengan berkata:“Ya Allah yang menurunkan Kitab, yang menjalankan awan, yang memporak-porandakan pasukan musuh. Porak-porandakanlah mereka itu dan berilah kami semua kemenangan atas mereka”. Doa merupakan senjata kaum muslimin dalam menghadapi segala kesulitan sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika perang badar beliau masuk ke dalam kemahnya dan berdoa:”Ya Allah, jika engkau membinasakan pasukan islam, tentulah engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi ini”, selendangnya jatuh maka datanglah Abu Bakar mengambil selendang beliau dan berkata:”Cukup ya Rasulullah“.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 19 Jumadil Awal 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR