بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala Berfirman:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan“. (QS. Asy-Syua’ra : 43).

Ketika seorang hamba mengucapkan istighfar menunjukkan ia meminta dan memohon kepada Allah agar dosanya ditutupi oleh Allah dan tidak menyingkap aib yang ia kerjakan kepada manusia.

Nasehat Sahabat Umar bin Khattab 

Dari Tsabit bin Hajjaj berkata, Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata:”Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Sesungguhnya hisab kelak akan ringan bila pada hari ini kalian menghisab diri kalian. Berhiaslah kalian untuk hari penampakan amal yang besar, di mana:“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (QS. Al-Haqqah: 18). (Shifatush Shafwah, 1/286).

Hari yang besar (hari ditampakkan semuanya) orang kafir, pelaku maksiat disingkap dosa – dosa mereka dan dilihat oleh seluruh makhluk, adapun orang – orang yang beriman yang terjatuh dalam dosa dan maksiat kemudian ia menyesal dan bertaubat kepada Allah pada dihari kiamat kelak Allah memanggil mereka dan berbicara kepadanya tanpa penerjemah antara dia dengan Allah, mereka ditanya diruangan yang khusus yang tidak dilihat oleh makhluk Allah, lalu dibentangkan catatan amalan hamba tersebut kemudian diperlihatkan kepadanya segala perbuatan dosa yang ia kerjakan, ketika ia merasa dirinya berada diambang kebinasaan yang pasti akan mendatanginya, Allah Subhanahu wata’ala kemudian berkata saya telah menutupinya untukmu didunia dan saya telah mengampunkan untukmu pada hari ini masuklah engkau ke dalam surga.

Jadi untuk meringankan kesulitan pada hari kiamat maka mari hisab diri- diri kita dimana hisab tersebut membuat kita senantiasa bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala. “Timbang – timbanglah amalan kalian sebelum ditimbang hari kemudian“, siapa yang menimbang amalannya didunia ini maka ringan timbangannya dihari kemudian untuk dosa – dosanya.

Kesabaran kepada saudara – saudara kita adalah ketika dalam pergaulan dengan mereka dimana ketika hak kita dilanggar oleh mereka sehingga membuat kita marah padanya, namun didalam islam kita diajarkan membalas keburukan dengan kebaikan, para ahlu hikmah mengibaratkan:”Seperti mangga dipinggir jalan, dilempar batu dibalas dengan buah”, inilah sikap orang yang beriman.

Diakhir ayat Allah berfirman:”Sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”, apatahlagi dalam kondisi dan keadaan dimana kita mampu melampiaskan kemarahan kita untuk membalas perlakuan buruk tersebut namun kita menahannya karena Allah Subhanahu wata’ala.

Keutamaan Orang Yang Bersabar

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah“. (QS. Al-Bukhari (no. 5763) dan Muslim (no. 2609).

Jika tidak memiliki kemampuan melampiaskan kemarahan saat marah maka ini disebut dengan kesabaran yang dipaksa untuk bersabar, tetapi orang yang mampu membalas sebagaimana atasan kepada bawahan, antara majikan dengan pembantu, antara dosen dengan mahasiswa, seorang suami pada istrinya, seorang guru pada muridnya mereka memiliki peluang dan mampu untuk melampiaskan kemarahannya namun ia tidak membalasnya maka inilah yang dimaksud dalam hadist diatas. Bukan orang yang memang tidak mampu akan tetapi yang mampu melampiaskannya namun ia menahannya karena Allah Subhanahu wata’ala. Inilah makna dari firman Allah:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS Ali ‘Imran:134).

Artinya: Jika mereka disakiti orang lain yang menyebabkan timbulnya kemarahan dalam diri mereka, maka mereka tidak melakukan sesuatu yang diinginkan oleh watak kemanusiaan mereka (melampiaskan kemarahan), akan tetapi mereka (justru berusaha) menahan kemarahan dalam hati mereka dan bersabar untuk tidak membalas perlakuan orang yang menyakiti mereka.

Kisah Kesabaran Seorang Salaf 

Salah seorang salaf pernah didatangi seorang tamu maka keluarlah pembantunya sambil membawa makanan untuk tamunya, tanpa sengaja kaki pembantunya tersandung dan makanan yang ia bawa tumpah didepan tamu, setelah tamu pulang  sang ‘alim hendak melampiaskan kemarahannya ia lalu memanggil pembantunya,  ketika pembantunya melihat sang ‘alim mulai melampiaskan kemarahannya, pembantunya lantas membaca firman Allah yang telah kita sebutkan pada (QS Ali ‘Imran:134).

Akhirnya sang ‘alim tenang dan menahan amarahnya dan berkata kepada pembantunya:”Saya memafkanmu dan membebaskanmu dijalan Allah”.

Inilah keutamaan yang didapatkan ketika tinggal dirumah bersama seorang ‘alim agar kita mengambil manfaat dan faedah dari ilmun yang ia miliki, dalam kisah yang lain disebutkan:

Seorang salaf terpaksa menjual budaknya kepada orang lain, sebelum masuk waktu subuh kebiasaan budak ini adalah membangunkan majikannya agar melaksanakan sholat malam sehingga  ia kemudian keliling kamar dirumah majikan barunya dengan mengetuk pintu sambil berkata:”As sholah, As sholah”, majikan kemudian bangun dan berkata:”Apakah telah masuk waktu fajar, sudah azan dan masuk waktu subuh”, sang pembantu kemudian sedih, ia pulang kepada majikan yang pertama dan berkata:”Tolong beli saya kembali  dari rumah itu, mengapa anda menjual saya kepada orang yang tidak mengenal sholat kecuali sholat 5 waktu saja”.

Memilih Bidadari Karena Bersabar

Dalam hadist lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ

Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya”. (HR. Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), Ibnu Majah (no. 4186) dan Ahmad (3/440), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani).

Pada hadist diatas para ulama memberikan beberapa perincian dimana pada suatu kondisi dan keadaan perlu untuk memberi pelajaran kepada seseorang, dimana ketika tidak memaafkannya akan menimbulkan maslahat yang lebih besar, akan tetapi ketika dia dimaafkan namun mafsadatnya lebih besar yang bisa membahayakan orang lain maka lebih baik jangan dimaafkan, sebagai contoh salah satu perkara yang dianjurkan dan disunnahkan adalah hutang. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (QS. Al Baqarah: 280).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ

Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan utangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah”. (HR. Muslim no. 3006).

Maka dalam hal seperti ini hendaknya melihat karakter orang yang diberi hutang jangan sampai ia terbiasa melakukan hal tersebut apatahlagi ketika ia melakukan penipuan yaitu menunggu agar dia dimaafkan, maka orang yang seperti ini perlu diberi pelajaran karena jika dimaafkan mafsadatnya lebih besar kepada orang lain dan juga pada dirinya.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@ Senin, 05 Muharram 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR