بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau Allah menghendaki kebaikan pada seorang hambaNya, maka ia mempercepatkan suatu siksaan, penderitaan sewaktu dunia, tetapi jikalau Allah menghendaki keburukan pada seorang hambaNya, maka orang itu dibiarkan begitu saja dengan dosanya, sehingga nanti akan dipenuhkan balasan siksaannya pada hari kiamat“. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda juga riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya besarnya balasan pahala itu tergantung pada besarnya bala’ (ujian atau musibah) yang menimpa dan sesungguhnya Allah itu apabila mencintai sesuatu kaum, maka mereka itu diberi cobaan. Oleh sebab itu barangsiapa yang rela menerima bala’ tadi, ia akan memperoleh keridhaan dari Allah dan barangsiapa yang membencinya maka ia memperoleh kemurkaan Allah pula“. (HR. Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini hadits hasan).

Orang yang beriman yang diberikan ujian apapun dari Allah Subhanahu wata’ala maka menjadi bukti bahwa Allah cinta kepadanya sehingga dipercepat ujian tersebut untuk membersihkannya, olehnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika orang munafik menuduh ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha melakukan perbuatan keji sebagaimana  kisahnya pernah kita jelaskan pada pembahasan sebelumnya.

Awal fitnah dan tuduhan keji tersebar dari seorang munafik yang bernama Abdullah ibn Salul dan orang – orang munafik dimadinah, fitnah tersebut menyeret 3 orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka ikut menyebarkan berita tersebut karena termakan isu diantara nama sahabat yang ikut menyebarkan berita fitnah dan keji adalah Mistho, Hamna, Hassan. Ketika turun pembelaan dari Allah Subhanahu wata’ala yang menunjukkan  bahwasanya ‘Aisyah bersih dari segala tuduhan keji, Rasulullah mencambuk  3 orang sahabat tersebut sebagai pembersihan didunia karena mereka adalah termasuk sahabat yang mulia hanya saja terjatuh dalam perbuatan keliru dan salah. Adapun orang – orang munafik mereka tidak dicambuk dan dibiarkan, nanti pada hari kiamat disempurnakan amal keburukannya untuk mendapatkan siksa dari Allah Subhanahu wata’ala,

Adapun hukuman bagi orang – orang yang menuduh orang baik melakukan zina adalah dicambuk dengan 80 kali cambukan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik“. (QS. An-Nuur: 4).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullahu berkata:

و من قذف بالزنى محصنا أو شهد عليه به, ولم تكمل الشهادة: جلد ثمانين جلدة

“Barangsiapa  menuduh berzina seorang “muhshan” [yang menjaga kehormataannya] atau menjadi saksi, dan saksi belum lengkap [empat orang laki-laki] maka dicambuk 80 kali”. (Manhajus Salikin Wa Taudihil Fiqh Fid Din hal. 240, cetakan pertama, Darul Wathan). Jadi syarat ditegakkannya dera atau hukuman cambuk bagi pelaku zina adalah apabila terpenuhi 4 orang saksi, jika tidak terpenuhi maka yang menuduh diberi hukuman cambuk.

Begitupula Allah Subhanahu wata’ala menurunkan hukuman kepada seorang hamba dimana seorang hamba tersebut rajin sholat, sedekah, rajin beribadah, temasuk orang sholeh sehingga dia diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala maka begitulah cara Allah Subhanahu wata’ala membersihkan hamba – hambanya dan ini menjadi bukti bahwa Allah Subhanahu wata’ala cinta pada hamba tersebut.

Dalam riwayat yang lain “Sesungguhnya besarnya balasan pahala itu tergantung pada besarnya bala’ (ujian atau musibah) yang menimpa dan sesungguhnya Allah itu apabila mencintai sesuatu kaum, maka mereka itu diberi cobaan. Oleh sebab itu barangsiapa yang rela menerima bala’, ia akan memperoleh keridhaan dari Allah dan barangsiapa yang membencinya maka ia memperoleh kemurkaan Allah pula“.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Sabtu, 05 Rabiul Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR