Cinta yang akan melahirkan jiwa-jiwa yang kuat. Dengan syarat, cinta itu harus karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebagai pejuang takwa kita harus merasakan cinta yang berakhir bahagia. Karena cinta dari zaman dahulu sampai hari akhir adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dari manusia. Bahkan hampir mengambil sebagian sendi kehidupan kita.

Lalu, cinta yang bagaimana membuat derita?

  • Ketika cinta itu tidak diperuntukkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
    Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah. Ibadah itu bukan hanya sekedar sholat, puasa, zakat dll. Tapi ibadah itu yang mencakup seluruh kehidupan manusia. Maka jadikan ibadah kita sebagai tanda dan bukti cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Ketika cinta itu menyebabkan banyaknya pelanggaran.
    Seperti cinta yang memabukkan, tidak terjaganya penglihatan dan pendengaran lalu mengerjakan maksiat.
  • Cinta yang mengajak kita menjauh dari Allah subhanhu wa ta’ala. Karena tidak mengerjakan perintah-perintah-Nya.

Bagaimana cinta yang membahagiakan?

Bahagia itu saat kita banyak-banyak bersyukur. Mensyukuri tiap pemberian Allah, tiap takdir Allah.

Cinta adalah rasa yang menelusup dihati tanpa ada sebab, itulah cinta sejati. Cinta karena Allah menghendaki.
Jadi, jika ada yang mengatakan dirinya mencinta dengan mengikutkan beberapa syarat dunia, bisa dipastikan itu bukan cinta sejati karena Allah subhanahu wa ta’a

Ustadzah Dhee-AR 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.