بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ada beberapa keadaan dusta dibolehkan walaupun asalnya dusta dilarang diantaranya adalah:

  1. Mendamaikan orang yang berselisih.

Misalkan 2 orang saling berselisih kemudian kita datangi salah satunya kemudian kita mengatakan:”Si fulan itu sebenarnya senang sama anda karena anda adalah orang yang baik”, kemudian setelah itu kita datangi yang lain dengan mengatakan:”Si fulan sangat rindu dengan anda hanya saja ia malu untuk berjumpa dengan anda”, dusta seperti ini dibolehkan untuk mendamaikan orang yang berselisih, karena mendamaikan orang yang berselisih adalah kemuliaan dan merupakan bahaya merusak ukhuwah dan hubungan diantara saudara muslim, karena mendamaikan boleh dengan dusta maka dosa besar merusak hubungan seseorang dengan saudaranya disebut dengan namimah, Dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَرَّ النَّبِيُّ n بِقَبْرَينِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ. فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَا فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Nabi melewati dua kuburan. Beliau  bersabda:“Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan tidaklah keduanya diazab disebabkan suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.” Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah, kemudian beliau belah menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada masing-masing kuburan. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?” Beliau menjawab: “Mudah-mudahan diringankan azab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering”. (Muttafaqun ‘alaih dari sahabat Ibnu Abbas).

2. Suami berdusta kepada istri untuk menambah keharmonisan atau disebut dengan at tauriyah (mengucapkan sesuatu kemudian dia memahami yang tidak seperti hakikat yang ada dalam hati kita).

Misalkan istri memasak dirumah kemudian suami pulang dari kerja ternyata masakannya agak kurang enak kemudian istri bertanya:”Bagaimana masakan saya hari ini”, kemudian suami menjawab:”MasyaAllah sangat enak”, begitu pula jika seorang istri boros kemudian suami medapatkan rezeki yang banyak kemudian suami tahu bahwa jika semua uang diberikan kepada istri bisa habis seketika, kemudian istri minta lalu kita mengeluarkan 100 ribu lalu kita mengatakan hanya ini yang saya miliki, walaupun pada kenyataannya seorang suami memiliki lebih dari apa yang ia berikan kepada istrinya.

3. Dusta dibolehkan ketika terjadi peperangan

Sebagaimana kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam:”Perang itu adalah tipu muslihat”, suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam dan Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu ‘anhu dalam perang badar ketika keduanya kemudian bertemu dengan seseorang keduanya meminta informasi darinya, lalu orang ini kemudian bertanya:”Siapa orang ini sambil ia menunjuk kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”, Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu ‘anhu kemudian berkata:”Dia adalah dalil saya”, orang yang bertanya ini memahami perkataan Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia (Rasulullah) adalah penunjuk jalan supaya tidak tersesat, akan tetapi Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu ‘anhu memahami dalil adalah yang menunjukkan kejalan yang lurus di dunia dan diakhirat.

Hal ini juga pernah dilakukan oleh sahabat Nu’aim bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu dan ini menjadi sebab kemenangan kaum muslimin dalam perang ahzab , dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dikepung oleh pasukan sekutu yaitu Quraisy, gatafan dan pengkhiatan bani Quraizah yang ada di kota madinah pada waktu itu sudah digali parit sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya hanya melemparkan panah dari jarak jauh adapun mereka (musuh) tidak mampu melewati parit yang menjadi penghalang, namun Subhanallah orang – orang kafir ini berusaha untuk mencari jalan bagaimana untuk bisa menyerang kota madinah, mereka kemudian memanfaatkan keberadaan orang – orang yahudi bani Quraizah yang pada akhirnya mereka bani Quraizah bergabung pada pasukan sekutu dan hal ini menjadi ancaman bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat dan kota madinah secara umum karena dalam kota madinah ada musuh yaitu bani Quraizah.

Ada salah satu pasukan yang bersama pasukan Quraisy bermana Nu’aim bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu  datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seorang diri dan tidak ada yang tahu bahwasanya ia datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan keislamannya ia berkata:”Ya Rasulullah tidak ada yang tahu jika saya masuk islam, perintahkan apa saja yang anda mau !”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:”Wahai Nuaim lakukan apa saya yang engkau mau. Tipu mereka karena sesungguhnya perang adalah tipu daya”.

Nu’aim bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu kemudian mendatangi suku Bani Quraizah yang berkhianat beliau berkata kepada mereka:”Sesungguhnya bani Quraisy yang bersama dengan pasukan dari gatafan itu boleh jadi mereka setelah kalah dari pasukannya Muhammad mereka meninggalkan kalian dan tinggallah kalian disini yang kemudian kalian dihabisi oleh Muhammad dan pasukannya, oleh karenanya coba minta 100 jaminan dari mereka dari orang – orang komandan mereka atau orang – orang yang terpandang dari pasukan itu supaya tinggal bersama kalian agar mereka tidak mengkhianati kalian”, akhirnya mereka percaya dengan perkataan Nu’aim bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, mereka Bani Quraizah berkata:”Benar juga jangan sampai nanti mereka kalah kemudian meninggalkan kita lantas kita dihabisi oleh Muhammad dan para sahabatnya karena kita berada di kota madinah”.

Nu’aim bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu juga mendatangi orang – orang Quraisy dan sekutunya, beliau berkata kepada mereka:”Sesungguhnya bani Quraizah itu menyesal bergabung dengan kalian dan mereka itu mau meminta dari kalian sebagai jamian jika mereka datang meminta jangan berikan kepada mereka”, jadi yang dilakukan oleh Nu’aim bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu adalah mengadu domba mereka antara pasukan sekutu dan bani Quraizah, akhirnya setelah Nu’aim bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu kembali, datanglah utusan dari Bani Quraizah yang meminta jaminan dari orang – orang quraisy akhirnya mereka mengatakan:”Ternyata apa yang dikatakan oleh Nu’aim benar mereka telah berkhianat dan kembali kepada Muhammad“, akhirnya terjadilah perselisihan diantara mereka, ditambah dengan hembusan angin yang sangat kencang yang dikirimkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan para malaikat yang turun membantu Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam dan para sahabatnya, sehingga Allah Subhanahu wata’ala memenangkan kaum muslimin pada perang ahzab tersebut.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala membersihkan hati kita dari kemunafikan dan membersihkan hati kita dari sifat kedustaan.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 25 Jumadil Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR