Judul ini terinspirasi dalam surah Al-Baqarah ayat 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Di dalam Al-Qur’an terdapat kandungan 14 pertanyaan, yang kesemuanya diawali dengan kata “Yas’aluunaka”  yang artinya “Mereka bertanya kepadamu”, dan jawaban dari pertanyaan tersebut selalu dating dalam kata “Qul” artinya “Katakanlah”. Kecuali di satu kalimat, yang Allah betul-betul menghadirkan satu pola kalimat yang menunjukkan Allah ingin dekat kepada hamna-Nya.

Syeikh menyebutkan, semua ayat yang di awali dengan kata “Jika” sehingga harus ada kata “Maka”. Tapi dalam kalimat ini, Allah mengistimewakan ini. Di dalam ayat-ayat lain Allah selalu meyebutkan kata “Wayas’aluunaka”, tapi di ayat ini Allah menghilangkan kata “Qul”nya. Apa maksudnya? Seolah-olah Allah menghilangkan pembatas antara dirinya dengan hamba-Nya. Bahkan dalam pola kalimatnya sja, kalau harus ditengahi dengan kata “Qul” pada ayat-ayat lain, seorang hamba ketika dia meminta kepada Allah, berdo’a kepada Allah, maka Allah langsung menjawabnya yanpa ada perantara-perantara. Seolah-olah Allah ingin menunjukkan kepada kita, bahwa siapapun yang berdo’a kepada Allah, meminta kepada Allah, maka Allah sangat dekat. Maka ini menunjukkan bahwa jawaban di setiap do’a kita, kita hanya butuh dekat kepada Allah

BACA JUGA: Sirah: Khadijah binti Khuwailid, Membuka Hati untuk Laki-Laki Mulia

Orang-orang shalih pada zaman dahulu, di zaman para salaf, ketika mereka berdo’a kepada Allah, mereka tidak hanya menjadikan do’a itu sebagai wasilah mereka sampai pada keinginan-keinginan duniawinya. Do’a itu adalah cara kita dekat kepada Allah, cara kita agar bersama denga Allah. Kalau seseorang sudah dekat kepada Allah, hilang semua masalah, tidak ada kekhawatran, tidak ada kerisauan dan sebagainya.

Allah tidak mengatakan pasti mengabulkan, pengabulan itu dating dalam bentuk Allah dekat kepada kita, ini yang harus ditanamkan dalam diri setiap hamba. Kita percaya kepada Allah, kita mengaku memiliki iman, tapi ada keragu-raguan dalam diri kita, karena kita belum mengenal Allah.

(عِبَادي) hamba-hambaKu, yang menunjukkan berapa banyak kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya yang dilafazkan dalam kata ini. Dimana Allah menisbatkan kepada diriNya, yang Maha Segala-galanya. Salah satu ciri hamba Allah adalah mereka yang selalu menengadahkan tangan meminta, berdo’a kepada Allah.  Kalau kita sudah merasa menjadi hamba Allah, maka kita akan bersikap sebagaimana hamba. Allah menyuruh kita untuk berusaha, segala sesuatu ada dalam takdir Allah, namun Allah juga menyuruh kita untuk berikhtiar. Orang yang beriman, orang yang yakin bahwa dirinya bukan kepemilikan diirnya, tapi takdirnya itu dalam kekuasaan Allah, maka dia tidak akan risau.

(فَإِنّي قَرِيبٌ) , Syeikh menyebutkan pada kalimat ini, terkandung penetapan kedekatannya dengan hamba—ambaNya. Kedekatan yang khusus, bagi orang-orang yang menyembah dan berdo’a kepada Allah. Ibadah yang Allah perintahkan adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya.

(أُجِيبُ) Aku mengabulkan, Allah akan mengabulkannya atau sedang mengabulkan. Apapun yang terlisankan atau tidak, tersimpan di dalam dada kita, dan itu adalah hal yang sangat kita inginkan, hanya Allah yang mampu mengetahui dan  bisa mengabulkannya, pemilik segalanya, dengan meminta dan memohon dengan sungguh-sungguh penuh pengharapan. Terdapat syarat dikabulkannya do’a, hendaknya orang yang berdo’a tersebut menghadirkan hatinya dengan ikhlas, merasa butuh kepada Allah.

Allah biasanya mengakhirkan do’a hamba-hambaNya agar kita tersebut terus berdo’a kepada Allah , Allah senang dengan do’a-do’a kita., bahkan Allah biasanya mengalihkan do’a-do’a kita untuk menjauhkan kita dari bala’ atau musibah. Allah tidak mengabulkannya karena Allah tahu itu memberikan mudhorot pada hidup kita. Allah pasti mengabulkan do’a-do’a hambaNya dengan pengabulan terbaik.


Sumber: Materi taklim Muslimah MIM oleh Ustadzah Nafisah Ikhwan

Artikel Infokom Muslimah MIM

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.