Allah azza wa jalla memberi petunjuk dan pelajaran kepada hambanya dengan berbagai pendekatan yang harus di cermati. Pada satu bagian yang besar di dalam Al Qur’an Allah menjadikan kisah sebagai jembatan pendidikan, di bagian yang lain Allah menetapkan berbagai hukum agar tercipta tatanan kehidupan yang baik, dan di bagian yang lain pula Allah memberikan kepada manusia tamtsil atau permisalan untuk lebih mendekatkan pengertian ke dalam hati dan lebih meresap di dalamnya. Dalam surah Al Kahfi dan Az Zumar Allah menjelaskan manfaat tamtsil

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan.” (Al Kahfi : 54)

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran (Az Zumar : 27)

*Generasi Utrujah*

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda menggunakan kalimat permisalan untuk menjelaskan kondisi orang beriman dalam interaksinya dengan Al Qur’an, Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ، رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ

Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Quran bagaikan buah utrujjah baunya semerbak dan rasanya sedap”. (Muttafaq ‘alaih)

Dalam hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pelajaran tentang keutamaan seorang mu’min, bahwa keimanan yang ada di dalam diri seseorang sudah membuatnya memiliki rasa yang sedap, artinya keimanan tersebut membuatnya senantiasa berada diatas jalan yang lurus, Allah azza wa jalla berfirman di dalam surah Al An’am ayat 82

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk

Kebaikan orang beriman akan bertambah dengan interaksinya bersama Al Qur’an yakni mempunyai aroma yang semerbak, artinya Al Qur’an akan semakin menampakkan kebaikannya.

Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah radhiallahu anha tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aisyah menjawab, “Akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Alquran.” (HR Muslim).

Generasi Utrujah adalah generasi yang menggabungkan dua kebaikan; kebaikan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Hal ini hanya didapatkan dengan syarat; keimanan dan interaksi bersama Al Qur’an. Jika keimanan telah didapatkan maka berikutnya adalah membiasakan diri dengan Al Qur’an yaitu dengan 7 T; tahsin (memperbaiki bacaan sesuai dengan tajwid yang benar), tilawah (mewiridkan Al Qur’an sebagai bacaan setiap hari), tahfidz (menghafal 30 juz), tathbiq (mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari), tadabbur (merenungi dan mengambil pelajaran untuk kehidupan), tafsir (memahami Al Qur’an dengan pemahaman ahli tafsir), ta’lim (mengajarkan kepada orang lain).

Semoga kita semua bisa menjadi generasi utrujah. Amin

Ya Rabb bimbinglah kami

Zulqadri Ramadhan (Menejer Kuttab Imam Malik)

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR