“Hendaklah di antara kalian ada suatu umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan kepada umat manusia, kalian memerintahkan kepada yang ma’ruf, mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah…”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Pilar syariat adalah amar ma’ruf nahi mungkar dan menegakkan hudud.”

Inilah yang aku pelajari tentang amar ma’ruf nahi mungkar…Tapi aku tidak pernah menduga bahwa suatu hari nanti kalimat ini memiliki kisah tersendiri dalam hidupku untuk selamanya…Terutama karena aku selalu khawatir jika melihat seorang gadis melakukan maksiat, aku khawatir mendekati dan berbicara dengannya…Tidak ada alasan lain selain aku akan merasa tidak enak mendengarkan jika ia mengatakan: “Biarkan saja aku! Ini bukan urusanmu!” atau jika ia mengatakan: “Siapa yang mengizinkanmu untuk ikut campur dengan apa yang bukan urusanmu?”, atau ungkapan-ungkapan lain yang membuatmu merasa tidak enak…

Maka aku selalu mengalami dilema antara melakukan atau tidak melakukan…antara mendiamkan atau menyampaikannya…Hingga akhirnya aku mengalami sebuah pengalaman yang setelahnya membuatku bertekad untuk memerangi setan dan mewujudkan kehendak Allah yang Maha pengasih. Meskipun pengalaman itu menyedihkan dari luarnya…namun di dalamnya sungguh menggembirakan…Sejak saat itu, aku mempunyai kemampuan untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar…tanpa pernah merasa hanya sekedar ikut-ikutan…

Sebaliknya aku merasa seakan-akan berjihad di jalan perjuangan memerangi kemungkaran ini…meskipun aku harus dipukul dan tidak sekedar mendengarkan beberapa kalimat yang melukai dan tidak mengenakkan di dunia. Memang menyakitkan, namun di akhirat akan mengangkat derajatku di akhirat…

Ini adalah kisah tentang seorang gadis yang belum aku kenal dengan baik kecuali setelah ia meninggal dunia. Semoga Allah merahmatimu, wahai Huda…semoga Allah menempatkanmu di kelapangan surgaNya…

Saudaraku suatu ketika menyampaikan kepadaku bahwa ada seorang gadis yang meneleponku…Gadis itu meninggalkan nama dan nomer teleponnya dengan sebuah pesan: “Saya harap engkau menghubungiku. Penting.”

Ketika aku melihat nomer dan namanya, aku sungguh takjub karena aku sama sekali tidak mengenal seorang pun dengan nama ini…Aku melihat jamku, nampaknya ini sudah terlalu larut untuk meneleponnya. Aku pun memutuskan untuk meneleponnya besok…Saat aku mengatakan itu dalam hatiku, tiba-tiba ibuku memanggilku. Ketika aku mendatanginya, ia memberi tanda bahwa ada telepon untukku…Ketika aku menerimanya, ternyata gadis itu sendiri yang meneleponku terlebih dahulu…

Setelah meminta maaf karena menghubungiku di waktu yang selarut ini, ia mengatakan bahwa ini karena sebuah urusan yang sangat penting…Ia menanyaiku apakah besok aku punya waktu jika ia menziarahiku…Aku pun menyetujuinya. Kami pun menyepakati jamnya…Setelah pembicaraan itu, aku benar-benar bercampur aduk…antara terkejut dan heran, juga rasa takut…Suaranya terdengar begitu menyedihkan..sepertinya ada peristiwa besar yang telah terjadi…

Pada jam yang telah disepakati, ia pun datang…Setelah kami duduk, ia memperkenalkan dirinya. Namanya Hannan. Seorang gadis yang lebih tua dariku beberapa tahun…Matanya redup…pakaiannya hitam…suaranya begitu sedih dan terbata-bata…Ia begitu gelisah…Aku menunggunya berbicara padaku, tapi tampaknya ia menemukan kesulitan untuk berbicara…Aku tidak tahu mengapa…Apakah karena kesedihannya atau rasa takut terhadap tempat ini…atau apa…aku tidak mengetahuinya…Karena itu, aku memilih untuk mengawali pertanyaanku…apa gerangan persoalan penting yang tidak mungkin ditunda itu??

Setelah beberapa lama larut dalam diam, ia pun mengangkat kedua matanya dan menatap mataku. Aku melihat air matanya sudah hampir jatuh…Ia memasukkan tangannya ke dalam tasnya untuk mengeluarkan sebuah surat…Aku melihat surat itu sekilas sebelum kemudian menerimanya…Lalu setelah itu, aku meletakkannya di tangannya…Aku terus menerus bertanya pada diriku dengan penuh keheranan: “Apa gerangan ini?”

Ia mengatakan bahwa surat itu berasal dari saudarinya, Huda. Tentu saja aku heran: “Saudaramu, Huda?! Aku tidak pernah mengenal seorang pun dengan nama ini…Lagi pula mengapa engkau tidak menulis surat saja untukku daripada datang menemuiku??”

Ia menjawabku dengan deraian air mata…Ia tidak berhenti kecuali setelah beberapa saat kemudian dan setelah aku berusaha keras untuk menenangkannya…Aku pun diam untuk memberinya kesempatan memfokuskan pikirannya, dan ia pun memulai kisahnya…hanya beberapa menit namun bagiku sama dengan beberapa jam…

Ia menuturkan:

“Saudariku, Huda, mengalami sebuah kecelakaan mobil sejak 6 bulan yang lalu…Peristiwa itu menyebabkan ia mengalami patah tulang dan cedera yang sangat banyak di tubuhnya…Setelah dirawat selama 1 bulan di rumah sakit, ia mengalami pendarahan hebat yang menyebabkan ia meninggal dunia…Beberapa waktu sebelum ia meninggal, ia memintaku untuk menyerahkan surat yang ditulisnya di rumah sakit ini kepadamu…Aku mohon maaf atas keterlambatanku menyerahkannya…bukan karena apa-apa selain karena keguncangan hebat yang kualami akibat kehilangan adik perempuanku satu-satunya…

Itu membuatku terbaring di tempat tidurku selama beberapa waktu…Aku tidak pernah merasa sehat kecuali sekarang…Dan hal pertama yang kulakukan adalah menghubungimu untuk menyerahkan surat ini kepadamu…Aku tentu tidak bisa mengingkari betapa besar keherananku atas perhatian saudariku, Huda, terhadap surat ini agar ia dapat sampai kepadamu, padahal ia sedang berbaring di rumah sakit!!

 

Pada saat itulah aku bertanya kepadanya: “Huda, sayangku…siapakah gadis ini? Mengapa engkau bersikeras memberikan surat ini kepadanya??”

Ia pun menjawabnya dengan mengatakan: “Wahai Abir, gadis ini telah menyelamatkanku dari neraka dengan mainannya.”

“Apa? Bagaimana bisa demikian? Aku sama sekali tidak mengerti…,” ujarku. Tapi aku tidak menemukan jawabannya…ia ingin sekali melanjutkan pembicaraannya, namun kedua matanya seakan menunggu janjiku untuk menyampaikan surat ini kepadamu…Maka aku katakan kepadanya: “Tenanglah, aku akan menyampaikan suratmu…dan engkau akan bersamaku menyerahkan surat ini…”

Aku tersenyum padanya dan kedua matanya menangis sembari mendoakan semoga Allah mewujudkan harapanku yang terakhir itu…Adik kecilku itu pun akhirnya sembuh…namun kehendak Allah berada di atas segalanya…ia pergi meninggalkanku seorang diri kesepian meski kedua orang tuaku masih hidup. Sebuah tragedi bagiku…membuat air mataku membeku…aku bingung tidak mengetahui apa yang harus aku lakukan, atau apa yang harus aku katakan…Setiap kali aku berusaha mendekati rahasia sang gadis itu, aku melihat persoalannya semakin rumit…semakin aneh…”

Aku pun memandang Hanan, lalu menatap surat itu. Dan tanpa sadar aku membukanya dan mulai membacanya…aku berharap aku akan menemukan sesuatu yang dapat menjawab apa yang selama ini memenuhi pikiranku…Bersama dengan baris pertama yang kubaca, lintasan kenanganku kembali membawaku ke tahun 1999…

Saat itu, aku sedang menghabiskan liburan musim semi di tepi pantai bersama keluargaku…Di sana aku berkenalan dengan 3 orang gadis yang tinggal di apartemen sebelah kami…Tapi aku tidak terlalu banyak berinteraksi dengan mereka karena sibuk membantu ibuku…Saat itu, ibuku sedang melewati masa pemulihan pasca operasinya yang berjalan dengan sukses, alhamdulillah…

Dan karena aku adalah satu-satunya anak perempuan, maka sangat sulit bagiku untuk meninggalkan ibu untuk waktu yang lama…Karenanya aku selalu menemaninya…Aku tidak meninggalkan ibu kecuali jika waktu shalat telah tiba, maka aku meminta izin kepadanya untuk pergi ke mesjid…untuk menunaikan shalat. Setelah itu, aku akan kembali ke tempat penginapan kami. Sepanjang perjalanan itu, aku memperhatikan satu hal yang membuat hatiku sedih…ada sekelompok gadis termasuk di dalamnya gadis-gadis yang tempo hari kuajak berkenalan yang tidak ada seorang pun yang menunaikan shalat…

Meskipun mesjid terletak di lingkungan yang sama dengan tempat di mana kami tinggal…Bahkan setiap kali aku keluar menuju mesjid khususnya untuk menunaikan shalat Isya, aku menemukan mereka malah duduk-duduk di dekat tepi pantai yang sangat dekat dengan mesjid. Dan setiap kali aku bermaksud menasehati mereka, aku menemukan diriku tidak tahu harus mulai dari mana…

Padahal aku tahu bahwa itu adalah kewajibanku sebagai seorang muslimah, kewajiban untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Dan meninggalkan shalat adalah sebuah kemungkaran yang harus kita cegah…tapi aku tidak tahu mengapa aku tidak berani melakukannya…mungkin karena aku masih kecil, karena aku melihat mereka semua setidaknya lebih tua dariku 3 tahun atau lebih…Aku merasa bahwa mereka tidak akan menerima nasehat dari seorang gadis kecil sepertiku…atau aku merasa takut mereka akan membuatku tidak enak dengan ucapan-ucapan mereka, seperti bahwa aku tidak punya urusan dengan urusan pribadi mereka…

Atau…atau alasan-alasan kosong yang digambarkan oleh syetan dalam benakku agar mengurangi semangatku untuk menasehati mereka…Hingga akhirnya tibalah hari itu, hari di mana aku keluar untuk menunaikan shalat Isya. Waktu itu adalah hari terakhir kami berada di sana…Masa liburan itu telah berakhir dan semuanya bersiap-siap untuk kembali ke kampung halamannya…Aku pun pergi menemui mereka untuk mengucapkan selamat tinggal…Selama beberapa saat aku duduk bersama mereka…

Aku hanya mengenal 3 orang saja dari mereka. Sedangkan yang lain aku baru mengenali nama-nama mereka saat aku duduk saat itu bersama mereka. Dan Huda adalah salah satu dari mereka yang hanya kukenali namanya saja, tanpa aku mengetahui siapa orangnya…Masing-masing mereka bercerita tentang pengalaman mereka selama liburan, yang menyenangkan ataupun yang tidak…

Akhirnya tibalah giliranku untuk berbicara. Aku harus memilih antara kisah indah atau peristiwa menggelikan untuk aku ceritakan…Di sinilah aku benar-benar merasa yakin bahwa sudah tiba waktunya untuk melakukan sesuatu…tapi bagaimana…Hingga akhirnya Allah memberiku petunjuk sebuah ide…Aku berdiri di depan mereka semua dan mengatakan:

“Aku tidak mempunyai cerita atau kisah, tapi aku punya sebuah permainan yang akan kita mainkan bersama…dan ada beberapa pertanyaan yang akan aku lontarkan, tapi dengan syarat kalian menjawabnya semua dengan jujur. Nah, bagaimana pendapat kalian?”

Aku melihat mereka begitu semangat dan menyetujui ideku. Kami pun memulai permainan itu dengan pertanyaan pertama, yaitu:

“Bagaimana jika dikatakan bahwa ini adalah hari terakhir dalam hidupmu? Apa yang akan engkau lakukan?”

Jawaban-jawaban mereka ternyata sangat beragam…Namun mereka semua sepakat untuk satu hal: mereka akan menegakkan shalat…Jawaban itu membuatku sungguh gembira…

Setelah itu, aku mengajukan pertanyaan kedua: “Siapa di antara kalian yang mengetahui berapa lama ia akan tinggal dalam kehidupan ini??”

Semuanya menjawabku dengan diam dan ekspresi penuh keheranan mendengar pertanyaanku…Maka aku mengatakan kepada mereka: “Tidak ada seorang pun di antara kalian yang mengetahui kapan ia akan mati…Mungkin sekarang, mungkin pula esok…Mungkin bulan depan atau tahun depan…Tapi satu hal yang pasti kita pada suatu hari nanti akan mati. Namun kapan, hanya Allah yang paling mengetahuinya…”

Aku kemudian melanjutkan dengan pertanyaan ketiga: “Menurut kalian, mana yang lebih baik: dunia atau surga?”

Semuanya sepakat menjawab dengan satu suara: “Tentu saja surga!”

Maka aku pun berpindah kepada pertanyaan keempat: “Surga itu untuk kaum muslimin dan surga itu untuk orang kafir…Tapi ada sekelompok kaum muslimin yang masuk surga. Mengapa?”

Mereka tidak menjawabku…Aku pun tahu bahwa ketiadaan jawaban mereka adalah karena mereka malu menyampaikan jawaban itu…karena mereka telah mengetahui maksudku dari pertanyaan ini…

Maka pertanyaan terakhirku: “Andai saja benar bahwa hari ini adalah hari ini adalah hari terakhir dalam kehidupanmu?? Di manakah tempatmu: di surga atau neraka??”

Kembali hanya diam jawaban yang aku temukan…Saat itu aku menemukan bahwa kondisi mereka telah siap untuk menerima apa yang akan aku sampaikan…Ini akan menjadi jalan masuk terbaik bagiku untuk menyampaikan apa saja yang aku inginkan…Maka aku pun melanjutkan pembicaraanku…

“Aku tidak akan meminta kalian untuk menjawab pertanyaan terakhirku…

Karena tidak ada seorang pun dari kita yang mengetahui bagaimana akhiratnya. Aku sendiri alhamdulillah mengerjakan shalat 5 waktu dan shalat sunnah lainnya. Aku bersedekah dan melakukan umrah semampuku…aku juga berpuasa…

Aku juga membaca al-Qur’an…memakai jilbab…tapi aku selalu takut pada hari kiamat…Apakah kalian tahu mengapa?? Karena sampai sekarang aku belum melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan aku masuk surga…Tapi keinginan akan rahmat Allah begitu besar…Tapi kalian, bagaimana kalian akan menjumpai Allah, sementara kalian mendengarkan sang muadzin menyerukan shalat, tapi aku melihat kalian menolak untuk memenuhi seruannya…Bagaimana kalian akan menjumpai Allah…Ia telah memerintahkan kalian untuk berhijab tapi kalian mendurhakainya…Bagaimana kalian menemui Allah, sementara catatan kebaikan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan kejahatan kalian?!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan sambil berpesan kepada Mu’adz bin Jabal ketika menugaskannya ke salah satu negeri: “Wahai Mu’adz, ajarkan kepada mereka Kitabullah dan perbaiki perilaku mereka dengan akhlak yang baik, dan tempatkanlah mereka sesuai kedudukannya –yang baik maupun yang buruk dari mereka-, dan jalankanlah perintah Allah di tengah mereka…dan padamkanlah urusan jahiliyah kecuali apa yang disunnahkan oleh Islam. Tampakkanlah Islam seluruhnya, yang kecil maupun yang besar. Dan hendaklah perhatian terbesarmu ada pada shalat, karena ia adalah pokok Islam setelah pengakuan terhadap agama…”

Tapi kalian telah memotong pokok (kepala) Islam dengan mengabaikan shalat kalian…Bagaimana mungkin ada tubuh yang hidup tanpa kepala??

Apakah engkau, engkau dan engkau tahu…ketika engkau meletakkan kepalamu di atas bantal untuk tidur, boleh jadi itu akan menjadi malam terakhir untukmu…Dan engkau tidak akan bangun lagi untuk selamanya kecuali ketika dua malaikat datang memperhitungkan amalmu yang kecil maupun besar…Dan ketika mereka bertanya tentang shalatmu…dengan alasan apa engkau akan menjawabnya?? Tentang hijabmu, dengan apa engkau akan menjawabnya??

Bagaimana jadinya kuburmu pada saat itu? Apakah ia adalah salah satu taman surga…atau sebuah pintu menuju Jahannam terbuka untukmu sehingga kuburmu menjadi sempit…yang akan menjadi temanmu adalah seekor ular besar…ia akan meliputi seluruh tubuhmu yang lemah itu dan meremukkanmu, sehingga engkau mendengarkan suara tulang-belulangmu patah dan tercerai-berai…Jangan pernah mengatakan engkau masih muda, karena kematian itu buta dan tidak akan melihat siapa yang akan ia ambil…anak-anak, orang muda atau orang tua, semuanya sama saja baginya…

Aku yakin kalian telah pernah melihat atau mendengarkan bahwa ada orang yang meninggal dunia saat ia masih kanak-kanak atau di awal masa mudanya…Menurut kalian, apakah jika si pemuda ini ditanya sepekan sebelum kematiannya: kapan ia akan meninggal…apakah ia tahu bahwa usianya hanya tersisa satu pekan saja? Hanya Allah yang Maha mengetahui siapa di antara kita sekarang yang waktunya tinggal beberapa hari saja…

Saudari-saudariku, sungguh aku memandang kalian seperti memandang sekumpulan bunga-bunga yang indah, namun kini mulai kehilangan warnanya karena debu-debu dunia telah menodainya dengan kotoran-kotorannya…Maka hilangkanlah debu-debu itu darimu dan kenakanlah hijabmu…

Biarkanlah bunga-bunga itu tidak dilihat kecuali oleh orang yang berhak untuk memandangnya…Maafkan aku jika aku sudah ikut campur dengan urusan kalian akibat pembicaraan ini…tapi ini semua karena aku ingin sekali kalian bersamaku kelak di dalam Surga Firdaus, jika memang aku mendapatkan karunia memasukinya…Ini semua karena aku sangat takut jika api neraka membakar tubuhmu dan melelehkan tulang belulangmu…Engkau bahkan tidak mampu menahan rasa sakitnya sebuah kayu yang menyala di ujung jarimu…lalu bagaimana dengan api yang akan melahapmu hidup-hidup dan engkau tidak akan pernah mati untuk selamanya…

Demi Allah, aku sungguh bergembira dan optimis ketika melihat bahwa hal pertama yang kalian pikirkan tadi adalah mengerjakan shalat…karena adanya keyakinan dalam diri kalian bahwa ia adalah wajib…Tapi kapankah kalian akan mengambil keputusan untuk menunaikan kewajiban ini? Apakah engkau akan mempunyai waktu yang cukup untuk menunaikannya?? Apakah kalian tidak melihat waktu sekarang ini terus berjalan tapi kalian masih saja menunggu kapan lagi dapat menikmati dunia yang hina ini…Kalian telah meninggalkan kenikmatan yang tidak ada lagi kenikmatan yang melebihinya (Surga)…Syetan menyeret kalian sekehendaknya…engkau seperti tawanan dan budak baginya dan bagi syahwatmu…Dan Islammu telah memerdekakanmu dan memuliakan kedudukanmu…

Allah berfirman:

“Dan orang-orang beriman pria maupun wanita, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar. Mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat, mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itulah Allah akan merahmati mereka, sesungguhnya Allah itu Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.”

Ayat ini, kawan-kawanku, yang menyuruhku untuk datang menemui kalian sekarang ini. Dan aku mengatakan itu semua kepada kalian, karena aku adalah seorang wanita muslim dan beriman. Sudah menjadi kewajibanku untuk menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, meskipun kalian menolak untuk mendengarkannya…Tapi yang pasti, siapa yang memperbaiki kondisinya, maka dialah yang beruntung. Namun siapa yang tidak melakukannya, maka dialah yang akan merugi di dunia dan akhirat…

Aku meninggalkan mereka dalam diam mereka untuk berpikir…Aku kembali ke tempatku menginap..untuk menyiapkan barang-barangku. Keesokan paginya, aku mendapati merea di tempat perhentian mobil. Kami saling mengucapkan salam dan saling bertukar nomor telepon…Kami pun saling mengucapkan selamat tinggal…Dan aku menyimpan harapan semoga Allah memperbaiki kondisi mereka…”

Hanan memandangku dalam saat menceritakan rahasia “permainan” itu hingga selesai…Dan wajahnya telah dibasahi air mata sembari mengatakan:

“Sejak saat itu, Huda benar-benar berubah. Ia mulai menjaga shalat lima waktunya…Ia mulai memperhatikan puasa Ramadhannya dengan sempurna…Ia mulai meninggalkan sejumlah kawan-kawannya…

Bahkan ketika ia menamatkan sekolahnya, ia mengubah niatnya untuk masuk ke Fakultas Perdagangan menjadi Fakultas Syariah, agar ia dapat mempelajari dengan benar prinsip-prinsip agama Islamnya…Kami memang dilahirkan tanpa ada yang membimbing kami menuju jalan yang benar…Ayahku hanya sibuk memikirkan bisnis dan hartanya…sementara ibuku, pesta-pesta dan keanggotaannya dalam organisasi jauh lebih penting baginya…Kakak laki-lakiku telah pergi untuk tinggal di Amerika…dan tinggallah aku bersama adikku, Huda semoga Allah merahmatinya…”

Ia mengisahkan itu padaku…dan aku mendengarkannya dengan hati yang teriris-iris…Aku bahkan mulai berusaha menahan air mataku yang hampir berjatuhan…Namun ia bersikeras menyatakan kesedihannya terhadap kondisi banyak keluarga muslim yang hidup seperti ini…Berapa banyak pemuda dan pemudi yang lenyap dalam godaan syetan, dan penyebabnya adalah karena ayah-ibu mereka tidak mengetahui nilai anak-anak mereka…Mereka tenggelam dalam kesenangan dunia dan meninggalkan harta karun yang tak ternilai harganya itu begitu saja!!

Hanan meninggalkanku dengan mata yang dipenuhi dengan air mata…Aku tidak tahu mengapa…Apakah itu air mata kesedihan karena berpisah dengan adik kandungnya?? Atau air mata bahagia karena adiknya pergi dengan husnul khatimah?? Atau karena menangisi kondisi dirinya sendiri?!! Namun sebelum ia pergi, aku memintanya untuk meneleponku nanti agar aku bisa tenang memastikan keadaannya. Dan ia berjanji untuk itu…Setelah ia pergi, aku pun membuka surat itu. Aku merasa kedua tanganku bergetar…

Aku tidak tahu mengapa…Namun aku merasakan getaran yang hebat dan hati penuh debar yang suaranya nyaris menulikan pendengaranku…Aku berharap dapat menuliskan surat itu seutuhnya, tapi maafkan aku, aku tidak mampu karena ada hal-hal pribadi di dalamnya…Tapi aku akan mengutipnya beberapa bagian yang akan menggambarkan kondisi sang muslimah ini…

Bismillahirrahmanirrahim

Dahulu aku hidup dalam lumpur dunia…Aku tidak menemukan orang yang menuntunku ke jalan yang benar…Aku melakukan apa saya dan kapan saja aku mau…Semua yang kukerjakan adalah benar meskipun sebenarnya salah…Tujuanku adalah menjadi orang yang bahagia, meskipun hanya kebahagiaan yang palsu…Namun aku persaksikan padamu bahwa aku tidak pernah tenang dalam tidurku…Aku selalu merasakan ketakutan yang hebat yang tidak kuketahui…Perasaan yang hampa…benar-benar hampa…Dan hatiku selalu tertekan…

Kebahagiaanku bercampur dengan kepahitan yang tak kuketahui sumbernya…Ibu dan ayahku…mereka tidak cukup amanah terhadap karunia Allah untuk mereka…Mereka justru berperan dalam kehampaanku dan kehampaan saudara-saudaraku yang lain…Kenapa?? Demi harta yang kini aku tidak bisa lagi menikmatinya…karena sekarang aku tidak punya apa-apa selain 1 x 2 meter saja…Aku tidak punya apa-apa selain amalku…

Sedangkan harta dan kedudukan mereka sama sekali tidak berguna untukku sekarang, karena aku telah berada di hadapan malaikat yang akan menghisabku…Untuk mereka itu semua juga esok tidak akan berguna ketika mereka datang ke tempat ini. Mereka tidak akan selamat dari siksa Allah…

Namun setelah hari itu dan setelah “permainan” itu, aku sudah memutuskan untuk mematikan gadis yang ada dalam diriku, agar aku dapat lahir kembali menjadi seorang gadis lain…Gadis yang selalu berpegang dengan jalan kebenaran…betapapun beratnya, namun aku selalu dapat tidur dengan nyaman, dengan hati yang tenang…perasaan yang diliputi kenyamanan…dengan kebahagiaan yang puncak…sembari tetap berdoa semoga Allah memperbaiki dan menunjuki ayah-ibuku ke jalan yang benar meninggalkan semua kesesatan…”

Itulah kutipan surat Huda…semoga Allah merahmatinya dan memasukkannya ke dalam surga Firdaus…Suratnya telah membuat hatiku menangis sebelum kedua mataku…Hany tidak mampu mengucapkan selain kata: alhamdulillah.

 

***

Alih bahasa:
Muhammad Ihsan Zainuddin
Pembina http://KuliahIslamOnline.com
Sumber:  al-Mausu’ah al-Kubra li al-Qashash al-Mu’atstsirah li al-Fatayat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.