بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sebagai seorang mukmin yang yakin kepada Allah Subhanahu wata’ala dan meyakini Al-Qur’an sebagai kitabnya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabinya hendaknya kita kembalikan kepada pandangan syariat, yaitu Al-Qur’an dan sunnah dari apa yang terjadi disekitar kita. Bencana demi bencana dan musibah demi musibah, ujian demi ujian yang menimpa bangsa kita dan bangsa yang lain tidak lain merupakan ujian dari Allah Subhanahu wata’ala.

Berikut diantara beberapa hikmah dibalik Ujian Allah Subhanahu wata’ala

  1. Musibah merupakan ujian bagi orang yang beriman

Ini merupakan sunnatullah dan penegasan dari Allah Subhanahu wata’ala  salah satu hal yang telah digariskan dan ditetapkan oleh Allah dan tidak ada yang mampu menentang Allah Subhnahu wata’ala. Allah Subhnahu wata’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar“. (QS. Al Baqarah: 155)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah“. (QS. Al Hadid:22)

Dalam ayat yang lain :

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal“. (QS. At Taubah : 51).

Musibah bukan hanya menimpa oleh suatu kaum akan tetapi musibah dipergilirkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada setiap kaum sebagaimana dalam firmannya:

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS. Ali Imran : 140).

Ketika salah seorang diantara kita ditimpa musibah maka berbaik sangkalah kepada Allah Subhanahu wata’ala, boleh jadi musibah yang menimpa salah seorang diantara kita merupakan kebaikan yang Allah inginkan untuk kita sekalipun kita membenci musibah tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“…..Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al-Baqarah : 216). 

2. Musibah Penghapus Dosa dan Kesalahan

Diantara cara Allah Subhanahu wata’ala mensucikan dan membersihkan dosa seorang hamba yaitu dengan musibah yang diturunkan kepadanya sebagaimana dalam Hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

من يرد الله به خيرا يصب منه

Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR. Al-Bukhari).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

Dalam hadist  yang lain beliau bersabda:

Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya”. (HR. Bukhari no. 5641).

Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya”. (HR. Muslim no. 2573).

3. Musibah orang lain merupakan ujian iman kita  

Ujian yang menimpa saudara kita merupakan ujian keimanan bagi kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam hadist:

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Dalam hadist yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau berkata:“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi penderitaan saudara kita adalah juga merupakan penderitaan bagi kita dan kita dianjurkan untuk membantu saudara kita yang tertimpa musibah sesuai dengan kemampuan yang kita miliki, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam hadist :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا ، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًـا ، سَهَّـلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَـى الْـجَنَّةِ ، وَمَا اجْتَمَعَ قَـوْمٌ فِـي بَـيْتٍ مِنْ بُـيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ ، وَيَتَدَارَسُونَـهُ بَيْنَهُمْ ، إِلَّا نَـزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ ، وَغَشِـيَـتْـهُمُ الرَّحْـمَةُ ، وَحَفَّـتْـهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ ، وَذَكَـرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ، وَمَنْ بَطَّـأَ بِـهِ عَمَلُـهُ ، لَـمْ يُسْرِعْ بِـهِ نَـسَبُـهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allâh (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allâh menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi-red), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya“. (HR. Muslim).

4. Musibah merupakan teguran Allah Subhanahu wata’ala agar kita kembali kepadanya

Musibah yang telah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wata’ala juga merupakan hasil tangan dan ulah manusia yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagai khalifah dipermukaan bumi ini, Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar Rum :41).

 Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Ali imran 165)

Jadi peringatan dari Allah hendaknya kita menjadikannya sebagai ibrah dan pelajaran dari bencana yang terjadi disekitar kita, jangan menganggap sebagai bencana alam semata akan tetapi marilah kita ruju dan kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala karena sesungguhnya air, udara, angin, adalah merupakan tentara – tentara Allah Subhananhu wata’ala,

Allah Subhanahu wata’ala berfirman didalam Al-Qur’an:

“…..Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti. (QS. Al Isra: 59). Allah menakuti dengan musibah dan bencana agar kita kembali ke jalan Allah Subhanahu wata’ala. Akan tetapi sungguh sangat disayangkan kebanyakan manusia sombong, melakukan banyak maksiat ketika tanda – tanda diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana Allah sebutkan didalam Al-Qur’an.

وَإِذْ قُلْنَا لَكَ إِنَّ رَبَّكَ أَحَاطَ بِالنَّاسِ ۚ وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ ۚ وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيَانًا كَبِيرًا

“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka”. (QS. Al Isra’ :60).

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. Al An’am : 43).

Allah Subhanahu wata’ala mengancam penduduk negeri yang menyombongkan diri dari peringatan Allah, sebagaimana dalam firmannya:

أفأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا بياتاً وهم نائمون أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?, Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?”. (QS. Al-A’raf: 97-98).

أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لا يَشْعُرُونَ * أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُمْ بِمُعْجِزِين

Maka apakah orang-orang yang membuat makar dengan melakukan maksiat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. Atau Allah mengazab mereka di waktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu).” (QS. An-Nahl: 45 – 46).

5. Belajar dari musibah ummat terdahulu

Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan pelajaran didalam Al-Qur’an tentang ummat – ummat terdahu yang telah membangkang kemudian dihancurkan oleh Allah Subhnahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Artinya:”Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?,Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?, dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”. (QS. Al Fil : 1-5).

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih. yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”. (QS. Al Ahqaf : 24-25).

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu krikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ankabut: 40).

6. Musibah bukan hanya menimpa orang dzalim

Bencana yang diturunkan oleh Allah bukan hanya mengenai orang – orang yang berbuat kemaksiatan akan tetapi menyeluruh ketika kemaksiatan itu meraja lela kemudian pengingkaran sudah mulai ditinggalkan dan terang – terangan dilakukan maka tunggulah putusan dari Allah orang – orang sholeh juga terkena dampaknya, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Takutlah pada musibah yang tidak hanya menimpa orang zhalim di antara kalian saja. Ketahuilah bahwa Allah memiliki hukuman yang pedih”. (QS. Al Anfal: 25).

عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “إذا ظهرت المعاصي في أمتي، عَمَّهم الله بعذاب من عنده” . فقلت: يا رسول الله، أما فيهم أناس صالحون؟ قال: “بلى”، قالت: فكيف يصنع أولئك؟ قال: “يصيبهم ما أصاب الناس، ثم يصيرون إلى مغفرة من الله ورضوان

Dari Ummu Salamah, istri Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: Jika maksiat telah menyebar diantara umatku, Allah akan menurunkan adzab secara umum”. Ummu Salamah bertanya: Wahai Rasulullah, bukankah di antara mereka ada orang shalih? Rasulullah menjawab: Ya.  Ummu Salamah berkata: Mengapa mereka terkena juga? Rasulullah menjawab: Mereka terkena musibah yang sama sebagaimana yang lain, namun kelak mereka mendapatkan ampunan Allah dan ridha-Nya”. (HR. Ahmad no.27355. Al Haitsami berkata: “Hadits ini ada 2 jalur riwayat, salah jalurnya diriwayatkan oleh para perawi yang shahih”, Majma Az Zawaid, 7/217).

Namun kematian mereka berbeda – beda ada yang dimatikan dalam keadaan husnul khatimah dan ada yang dalam keadaan Su’ul Khatimah nanti pada hari kiamat mereka dibangkitkan sesuai dengan niat – niat mereka.

7. Ada 2 sebab musibah tidak diturunkan

Dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan 2 syarat bencana tidak diturunkan:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Allah tidak akan menyiksa mereka selama kamu ada di tengah mereka. Dan Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun”. (QS. al-Anfal: 33).

Syarat pertama telah hilang karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia, adapun syarat kedua maka selama kita mengatahui bahwa tidak ada manusia yang sempurna kemudian bertaubat dan beristighfar karena sebaik – baik orang yang berdosa yang memperbaharui dirinya dan kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala, sehingga Allah akan menurunkan rahmatnya kepada kita dan menahan kemarahannya. dan tahukah kita dalam  hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad Rahimahullah:

Tiada suatu hari pun melainkan lautan meminta izin kepada Tuhannya untuk menenggelamkan anak Adam, dan malaikat meminta izin untuk segera menghukum dan membinasakannya, tetapi Allah Ta’ala berfirman, ‘Biarkanlah hamba-Ku, karena Aku lebih tahu tentang dia, sebab Akulah yang menciptakannya dari tanah. Jika dia itu hambamu, maka terserah kamu; dan jika dia itu hamba-Ku, maka dari-Kulah dia dan kepada-Kulah urusannya. Hamba-Ku, demi kemuliaan-Ku dan keluhuran-Ku, jika dia datang kepada-Ku pada malam hari maka Aku menerimanya; dan jika dia datang kepada-Ku pada siang hari maka Aku menerimanya. Jika dia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekatinya sehasta; dan jika dia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia berjalan menuju kepada-Ku maka Aku berlari menuju kepadanya. Jika dia meminta ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni, dan jika dia meminta ditarik kesalahannya maka Aku menariknya. Dan jika dia bertaubat kepada-Ku niscaya Aku terima taubatnya. Siapakah yang lebih dermawan dan pemurah dari-Ku, padahal Aku Maha Dermawan dan Maha Pemurah? Pada malam hari hamba-hamba-Ku melawan-Ku dengan melakukan dosa-dosa besar, namun Aku menjaga mereka di tempat tidur mereka dan melindungi mereka di ranjang mereka. Siapa yang datang menghadap kepada-Ku maka Aku telah menyambutnya dari jauh. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Aku, maka Aku akan memberinya kelebihan. Barangsiapa berbuat dengan daya dan kekuatan-Ku maka akan Aku lunakkan besi untuknya. Barangsiapa yang berkehendak sesuai dengan kehendak-Ku, maka Aku berkehendak sesuai dengan kehendak-Nya. Ahli dzikir-Ku adalah teman duduk-Ku. Orang yang ahli bersyukur kepada-Ku adalah orang yang berhak mendapatkan tambahan karunia-Ku. Orang yang ahli melakukan ketaatan kepada-Ku maka dia adalah orang yang ahli mendapatkan kemuliaan-Ku. Dan ahli maksiat kepada-Ku tidaklah Aku jadikan mereka putus asa terhadap rahmat-Ku. Jika mereka bertaubat kepada-Ku maka Aku adalah kekasih mereka. Dan jika mereka tidak bertaubat, maka Aku adalah dokter mereka, Kucoba mereka dengan musibah-musibah, untuk menyucikan mereka dari aib dan dosa.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Sabtu, 14, Syawal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR