بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Isbal adalah menurunkan pakaian dibawah mata kaki, hal ini berlaku untuk sarung, celana, gamis, dll. Isbal hukumnya haram dalam agama kita. Diantara salah satu ciri dosa besar kata para ulama yaitu ketika didalamnya disebutkan ancaman bagi orang yang melakukannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam hadist:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ » قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka tidak juga mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda demikian tiga kali. Abu Dzarr berkata: “Merugi sekali, siapa mereka wahai Rasulullah ?”, Beliau bersabda:”Musbil (orang yang memakai kain melebihi mata kakinya), dan orang yang selalu mengungkit pemberiannya, dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR. Muslim).

Ketika Rasulullah menjelaskan tentang isbal beliau mengatakan dalam hadist yang lain:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ

Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka”. (HR. Bukhari no. 5787).

Ancaman dalan hadist diatas sangat jelas dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya siapa yang isbal ia barada di neraka. Ada sebuah hadist yang dijadikan subhat oleh sebagian orang lain yang mengatakan isbal itu tidak mengapa selama tidak didasari dengan kesombongan, diantaranya adalah hadist tentang Abu bakar as Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu ketika beliau isbal Rasulullah berkata:”Angkat pakaianmu”, beliau kemudian berkata:”Ya Rasulullah, pakaian ku ini sering melorot jika saya tidak menjaganya dengan baik”, Rasulullah berkata:”Wahai Abu Bakar sesungguhnya engkau tidak termasuk orang yang melakukannya dengan kesombongan”.  Dalil ini dijadikan oleh orang – orang yang mengatakan:”Tidak mengapa isbal yang asalkan tidak sombong”,

Betulkah demikian..?, berikut penjelasannya:

  1. Yang mengatakan bahwasanya engkau tidak termasuk orang yang sombong kepada Abu Bakar As Shiddiq adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan siapa Rasulullah, dialah Nabi yang mendapatkan wahyu dari Allah yang tidak berkata-kata dengan hawa nafsunya kecuali wahyu dari Allah, ketika beliau berkata kepada Abu Bakar beliau berkata berdasarkan wahyu dari Allah. Lantas apakah kita bisa memposisikan diri kita seperti Rasulullah sehingga kita berkata kepada orang yang isbal:”Tidak mengapa, anda tidak termasuk orang yang sombong”, kemudian berkata kepada orang yang lain:”Anda sombong”.
  2. Rasulullah berkata kepada Abu Bakar as Shiddiq, beliau sahabat yang mulia setelah Rasulullah dan para Nabi Allah Subhanahu wata’ala. Jika dibandingkan hati kita dengan hati Abu Bakar as Shiddiq tidaklah sama.
  3. Abu Bakar as Shiddiq berkata:”Pakaian ku ini sering melorot jika saya tidak menjaganya dengan baik”, jadi asalnya Abu Bakar As Shiddiq tidak isbal, Abu Bakar as Shiddiq termasuk sahabat yang kurus, oleh karenanya jika pakaian kita melorot dengan tidak sengaja maka itu di maafkan sebagaimana yang terjadi kepada Abu Bakar as Shiddiq, oleh karenanya ketika dikatakan kepada kita angkat pakaianmu maka angkat karena secara asal Abu Bakar as Shiddiq tidak isbal.

Imam Nawawi Rahimahullah dengan tegas menuliskan dalam kitab Riyadhussholihin satu bab tentang tidak diterimanya sholat bagi orang yang isbal walaupun ini pendapat yang lemah adapun pendapat yang shahih sholatnya tetap sah akan tetapi ia berdosa dengan isbalnya.

Untuk memadukan semua riwayat yang menjelaskan bahwasanya Allah tidak memandang kepada orang musbil dengan hadist yang mengatakan:”Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka”, ulama kita mengatakan:”Barangsiapa yang isbal maka ia telah diancam dengan hadist yang mengatakan:”Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka”,  baik ia sombong ataupun tidak, namun jika didasari dengan kesombongan maka azabnya akan lebih pedih dengan tiga ancaman sebagaimana disebutkan pada hadist pertama yaitu diazab oleh Allah, tidak disucikan dan tidak dipandang oleh Allah pada hari kiamat.

Tentang kesombongan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi”. Ada seseorang yang bertanya:”Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab:”Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim no. 91).

Mungkin sebagian kita mengatakan:”Ini adalah masalah pakaian, jangan terlalu dipermasalahkan dan dilebih –lebihkan”, sebagian lagi berkata:”Allah itu indah dan suka yang indah – indah”, standar keindahan itu adalah menurut Allah dan Rasulnya sehingga orang yang tidak isbal terlihat indah, oleh karena itu jangan memberi gelar ciri-ciri teroris kepada orang yang tidak isbal dengan celananya atau pakaiannya.

Pada hari kiamat Allah tidak memandang orang yang isbal dan diancam oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, andaikan pun kita mengatakan:”Ini adalah masalah yang sepele”, maka mari kita renungkan peristiwa yang terjadi di zaman Umar Radhiyallahu ‘anhu ketika beliau ditikam oleh lelaki yang bernama Abu Lulu’ Al Majusi sehingga usus beliau terburai,  maka datanglah orang – orang menjenguk beliau, ada diantara pemuda yang hadir menjenguk beliau memberikan pujian kepada Umar Radhiyallahu ‘anhu, namun ketika pemuda ini pergi, Umar berkata:”Panggil kembali anak muda itu”, Umar dalam kondisi kepayahan menahan sakit masih bisa melihat pemuda tersebut dalam keadaan isbal, Umar lalu berkata:”Wahai anak ku angkat pakaian mu, sesungguhnya itu menunjukkan ketakwaan kepada tuhanmu dan akan lebih bersih pada pakaian mu”. Hal ini menunjukkan ketakwaan kepada Allah. Jadi Allah yang menyuruh kita sholat, melarang kita minum – minuman keras dia juga yang melarang kita isbal. Dalam agama islam tidak dikenal dengan urusan yang sepele bahkan mari kita mulai dengan sesuatu yang mungkin remeh atau sederhana dimata manusia, kita tidak bisa menerapkan hukum potong tangan jika celana saja kita tidak potong.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 16 Rajab 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR