Malam itu adalah saat pernikahannya…Semua telah diatur sedemikian rupa…Semua orang malam itu benar-benar memperhatikannya…Ibunya, saudari-saudarinya dan semua  kerabatnya…

Setelah Ashar, pegawai salon akan datang untuk meriasnya…Waktu berjalan, dan pegawai salon yang ditunggu ternyata terlambat datang. Ah, itu dia. Akhirnya ia datang juga lengkap dengan peralatannya…Ia pun memulai pekerjaannya dengan penuh semangat…dan waktu berjalan begitu cepat…

“Cepatlah! Jangan sampai kita terkena waktu magrib!” begitu ujar mereka kepada si pegawai salon.

Detik demi detik terus berlalu…dan tiba-tiba…meluncurlah suara menggema…suara kebenaran…Yah, itulah adzan magrib…

Sang pengantin mengatakan: “Tolong lebih cepat, karena waktu magrib terlalu singkat!”

Namun si pegawai salon menjawab: “Kita butuh sedikit waktu lagi. Bersabarlah, ini tinggal sedikit.”

Waktu pun berjalan, dan waktu magrib hampir saja habis.

Sang pengantin bersikeras untuk melakukan shalat magrib. Namun semua orang berusaha menahan dan membuatnya mengurungkan niatnya…”Kamu harus berwudhu lagi dan merusak semua riasan yang telah disiapkan berjam-jam ini,” ujar mereka.

Mereka pun menyebutkan berbagai fatwa “ulama” untuknya: kamu boleh menjamak shalat magrib dengan isya…ada juga yang mengatakan kamu cukup bertayammum saja…

Tapi dia tetap bersikeras…Ia bersikeras untuk shalat seperti biasanya, karena ia yakin apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dari dunia dan seisinya ini…

Sang pengantin itu kemudian bangkit dengan kebanggaan sebagai seorang muslim untuk berwudhu dan mengabaikan semua nasehat keluarganya…Ia memulai wudhunya dengan membaca basmalah…Air wudhunya mulai merusak semua make up yang telah menghiasi wajahnya…Ia berdiri di atas sejadahnya dan memulai shalatnya…

Allahu Akbar…

Yah, Allah Mahabesar atas segala apapun yang ada…

Yah, Allah Mahabesar meski persoalan yang ada begitu berat…

Dan inilah dia, kini ia telah sampai pada tasyahud akhir shalatnya…

Dan inilah malam di mana ia akan bertemu dengan mempelai prianya…Dan kini ia telah menyelesaikan shalatnya.

Namun belum lagi ia menuntaskan salamnya ke sebelah kiri, ia pun menyerahkan ruh kepada Sang Penciptanya…

Ia pergi dengan penuh ketaatan kepada Tuhannya dan penuh pembangkangan kepada syetannya…

Aku berdoa semoga ia diiringkan masuk ke dalam surganya…

Alih Bahasa:
Muhammad Ihsan Zainuddin
Pembina https://kuliahislamonline.com
Sumber: Qashash Mu’atstsirah Jiddan Lil Fatayat

1 KOMENTAR

  1. Maa syaa Allaah, tulisannya bagus kak, cuma saran untuk judul kalo bisa jangan sampai membongkar inti ceritanya, jadinya orang udah tau endingnya sebelum baca ceritanya

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.