بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala mensifatkan didalam Al-Qur’an surah yang masyur yang kita dianjurkan untuk membacanya setiap malam sebelum tidur yaitu surah Al-Mulk yang terdiri dari 30 ayat. Pada ayat ke 2 Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun“. (QS. Al-Mulk: 02).

Allah mendahulukan kematian sebelum kehidupan karena memang kita semua berasal dari sesuatu yang mati, dari sesuatu yang belum ada sampai menjadi ada, kita selalu mengigatkan diri – diri kita bahwa hidup didunia ini adalah menjalani ujian dari Allah Subhanahu wata’ala. Fudhail bin Iyadh menafsirkan ayat diatas dengan berkata:”Amalan yang baik adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar“, beliau ditanya:”Apa yang dimaksud yang paling ikhlas dan yang paling benar”, beliau menajwab:”Sesungguhnya amalan jika dikerjakan dengan penuh keikhlasan tetapi tidak benar maka tidak diterima sebaliknya amalan pun jika benar namun jika tidak ikhlas juga tidak diterima disisi Allah Subhanahu wata’ala”, jadi syarat diterimanya amal ibadah haruslah dengan ikhlas dan benar dan amalan yang ikhlas maksudnya adalah karena Allah dan yang benar maksudnya adalah yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Banyak manusia yang mengerjakan perbuatan bid’ah kita tidak meragukan keikhlasannya, meragukan air mata yang mengalir dipipinya , tidak meragukan harta yang ia keluarkan dijalan Allah namun apakah syarat yang kedua terpenuhi yaitu mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketika Said bin Al-Musayyib melihat seseorang melaksanakan sholat setelah sholat subuh dan pada waktu tersebut adalah waktu yang dilarang mengerjakan sholat setelah terbit matahari beliau kemudian mendatanginya dan berkata:”Mengapa anda melaksanakan sholat setelah sholat subuh“. ia menjawab:”Apakah Allah akan menghukum saya karena saya sholat.?, beliau menjawab:”Engkau tidak akan dihukum dengan sholat yang engkau kerjakan akan tetapi engkau dihukum disebabkan karena engkau menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”. 

Begitupula banyak saudara – saudara kita yang mengerjakan amalan bid’ah mereka berkata:”Apakah Allah akan menghukum saya karena mengerjakan perbuatan ini padahal kita mengisinya dengan mendengarkan tilawah, tausiah, sholawat, dll.

Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah beliau menyempurnakan perkataan Fudhail bin Iyadh beliau berkata:”Itu adalah pembuktian dari Allah Subhanahu wata’ala yang terdapat dalam surah Al- Kahfi pada ayat 110, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah:”Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“. (QS. Al-Kahfi : 110).

Dalam surah Al-Kahfi ayat 28, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas“. (QS. Al-Kahfi : 28).

Doa terbagi menjadi 2 makna, yang pertama disebut dengan doa Al Mas’alah dan yang kedua disebut doa Al-Ibadah, jadi dalam ayat ini jika disebut يَدْعُونَ رَبَّهُمْ maka bisa juga diartikan beribadah kepada tuhan mereka, adapun doa Al-Mas’alah yaitu doa permintaan seorang hamba langsung kepada Allah sesuai dengan yang ia inginkan, adapun doa Al-Ibadah adalah semua ibadah yang dikerjakan oleh seorang hamba, mengapa demikian karena inti dari doa adalah mengharapkan rahmat Allah dan semua ibadah yang kita kerjakan juga mengharap rahmat Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala tentang perkataan Ibrahim kepada bapaknya:

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku“. (QS. Maryam : 48).

Setelah itu Allah berfirman dalam lanjutan ayat:

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا

Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi“. (QS. Maryam : 49). Jadi disini Allah menyamakan antara doa dan ibadah.

Dalam surah Al-Lail ayat 17 – 21 Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan“. (QS. Al-Lail : 17 – 21).

Ayat ini turun sebagai ujian kepada salah seorang sahabat yang bernama Abu Bakar as Shiddiq, jadi ayat ini diturunkan untuk Abu Bakar as Shiddiq dalam kaidah tafsir disebutkan yang menjadi pelajaran bagi kita adalah keumuman dari lafadz dan bukan kekhususan sebabnya, jadi walaupun ada ayat tertentu yang turun kepada Nabi yang memiliki sebab khusus tapi juga berlaku secara umum yang bisa diambil pelajaran darinya.

Dalam surah Al-Insan pada ayat ke 9, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih“. (QS. Al-Insan : 9).

Dalam surah An Nisaa’  ayat 114. Allah berfirman:

 لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar“. (QS. An Nisaa’ : 114).

Jadi tujuan dari ibadah yang kita kerjakan adalah bagaimana mengharapkan keridhaan Allah bukan mengharapkan pujian, bukan pula untuk didengarkan oleh orang lain bahkan bukan pula ucapan terima kasih dari orang lain.

Jadi ayat – ayat yang telah dijelaskan diatas menunjukkan tentang pentingnya menjaga keikhlasan dan dipertegas dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat”. (QS. Asy-Syura : 20).

Selanjutnya akan kita sebutkan beberapa hadist tentang ikhlas:

Dari ‘Umar bin Al Khattab, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, mkaa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju”. (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

Ikhlas berkaitan dengan tauhid sebagaimana hadist dari Rasulullah:

Tidaklah seorang hamba (Allah) mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas, kecuali pintu-pintu langit terbuka sehingga ucapannya itu mencapai Arsy Allah ( yang diterima ) asalkan ia bersabar dari dosa-dosa besar“. (HR. Tirmidzi).

Dalam hadist yang lain:

Dan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:“Shalat seorang (muslim) secara berjama’ah (di masjid) dilipatgandakan (pahalanya lebih daripada) shalatnya (sendirian) di rumah dan di pasar (sebanyak) dua puluh lima kali lipat. Yaitu ketika dia berwudhu dengan benar (di rumahnya) kemudian dia pergi ke masjid, dengan tujuan semata-mata untuk (melakukan) shalat (berjama’ah), maka tidaklah dia melangkahkan (kakinya) satu langkah kecuali dengan itu ditinggikan satu derajat baginya dan dihapuskan satu kesalahan (dosa) darinya. Lalu ketika dia shalat, maka para Malaikat senantiasa mendo’akan kebaikan baginya selagi dia (berada) di tempat shalatnya, selama dia belum berhadats (betal wudhunya). Para Malaikat berdo’a: “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan baginya, ya Allah, berikanlah rahmat untuknya”. Dan dia senantiasa dalam shalat (mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan shalat) selama dia menunggu (tibanya waktu) shalat (di masjid)”. (HR. Al-Bukhari (no. 2013) dan Muslim (no. 649).

Jadi, disunnahkan berwuduh dirumah sebelum berangkat  ke masjid ini yang lebih utama dan ia tidak ke masjid kecuali untuk melaksanakan sholat (tidak ada niat yang lain). Makna As Sholah jika ia dari Allah maka diangkat derajatnya namun jika disebutkan As Sholah dari malaikat maka ia berupa doa dari malaikat dan jika As Sholah dari Nabi maka ia berupa shalawat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di doakan oleh malaikat Allah Subhanahu wata’ala dengan 3 doa selama syaratnya terpenuhi yaitu Ikhlas karena Allah Subhanahu wata’ala.

Puasa

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni”.  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Jadi, dia berpuasa bukan karena ingin menurunkan berat badan akan tetapi dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala disisi Allah Subhanahu wata’ala. Dalam hadist yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

Barangsiapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah (dalam melakukan ketaatan pada Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun”. (HR. Bukhari no. 2840). 

Sedekah

Dalam bersedekah juga membutuhkan keikhlasan sebagaimana yang disebutkan 7 golongan yang akan dinaungi pada hari kiamat, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دعته امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan ‘Arsy Allah Ta’ala dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan Allah Ta’ala. Yaitu:
1. Pemimpin yang adil
2. Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Ta’ala
3. Seorang yang hatinya senantiasa bergantung di masjid
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala. Mereka berkumpul karena Allah dan mereka pun berpisah juga karena Allah Ta’ala.
5. Seorang yang diajak wanita untuk berbuat yang tidak baik, dimana wanita tersebut memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia mampu mengucapkan, “Sungguh aku takut kepada Allah”.
6. Seorang yang bersedekah dan dia sembunyikan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
7. Seorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian sehingga kedua matanya meneteskan air mata.

Semua amalan yang disebutkan dalam hadist diatas tidaklah ia mengerjakannya kecuali mengharapkan wajah Allah Subhanahu wata’ala. 

Bersambung (Ikhlas (Silsilah Amalan Hati) sesi 4)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 09 Jumadil Awal 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR