بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

4. Ikhlas Menghapuskan Dosa

Ikhlas merupakan sebab utama dosa seorang hamba dihapuskan oleh Allah Subhanahu wata’ala, dalam hadist

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

“Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya:”Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab:”Tidak sama sekali wahai Rabbku”. Allah bertanya lagi:”Apakah yang mencatat hal ini berbuat zholim padamu?”, Lalu ditanyakan pula:”Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?”, Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata:”Tidak”. Allah pun berfirman: “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Sehingga kamu tidak termasuk orang zalim pada hari ini”. Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat “laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasulullah”. Lalu ia bertanya:”Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?”, Allah berkata padanya:”Sesungguhnya engkau tidaklah zalim”. Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh “laa ilaha illallah” di daun timbangan lainnya.Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh “laa ilaha illalah’” tadi. (HR. Ibnu Majah no. 4300, Tirmidzi no. 2639 dan Ahmad 2: 213. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy yaitu kuat dan perowinya tsoiqoh termasuk perowi kitab shahih selain Ibrahim bin Ishaq Ath Thoqoni. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dalam khutbah hajah yang sering dibaca ketika khutbah jum’at  terdapat kalimat persaksian syahadat  kepada Allah Subhanahu wata’ala:

الْحَمْدُ لِلَّهِ (نَحْمَدُهُ وَ) نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا (وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا) مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ) وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Dari Abdullah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajari kami khutbah untuk keperluan: “Alhamdulillah”. artinya Segala puji bagi Allah (kami memujiNya), mohon pertolongan kepadaNya, dan memohon ampunan kepadaNya. Serta kami memohon perlindungan kepadaNya dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amalan kami. Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, tidak ada seorangpun yang menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi, kecuali Allah (semata, tidak ada sekutu bagiNya), dan saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusanNya”.

Ulama kita berkata:”Persaksian haruslah dengan masing – masing orang dan tidak diwakilkan oleh orang lain”.

Inilah keutamaan tauhid dan ikhlas kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam amalan, perbuatan dan dalam keyakinan yaitu ketika seseorang hamba hanya mengharapkan keridhaan dan wajah Allah Subhanahu wata’ala.

Oleh karenanya amalan seorang wanita pezina yang memberikan air kepada seekor anjing yang haus, Allah memasukkannya ke dalam surga disebabkan karena niatnya yang ikhlas walaupun ia banyak melakukan dosa zina.

5. Dengan niat yang tulus dan ikhlas seseorang bisa dimasukkan ke dalam golongan orang – orang yang mengerjakan sebuah amalan walaupun ia belum mengerjakannya.

Allah menyebutkan sahabat Rasulullah yang fakir dan miskin datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengatakan:”Ya Rasulullah, kami juga igin ikut berjihad namun kami tidak memiliki kendaraan dan perbekalan“. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan bekal kepada mereka sesuai dengan kemampuan beliau  kemudian diperintahkan kepada sahabat yang punya kendaraan untuk dipinjamkan kepada saudaranya sehingga mereka ikut berjihad bersama dengan Rasulullah dan sahabat yang lain.

Diawal islam kondisi dan keadaan mereka masih sangat sederhana dan berada dalam kekurangan, sehingga tidak semua sahabat yang fakir dan miskin berangkat jihad, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada mereka yang tidak ikut:”Kami tidak mendapatkan kendaraan yang dapat membawa kalian”, padahal sahabat yang miskin dan fakir ini sangat ingin ikut bersama dengan Rasulullah, maka turunlah firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”. lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan“. (QS. At-Taubah : 92).

Pulanglah mereka kerumahnya sambil mencucurkan air mata, mereka sangat bersedih ingin berangkat bersama Rasulullah dalam jihad untuk mengakhiri hidupnya dijalan Allah Subhanahu wata’ala. Pelajaran bagi kita bahwasanya yang harus kita bersedih dizaman sekarang adalah tatkala ingin menghadiri majelis ilmu namun tidak mampu disebabkan karana kekurangan harta atau tidak punya kendaraan, kita bersedih karena akhirat bukan bersedih karena dunia, dunia ini sangat hina untuk membuat kita menangis, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allahtidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir“. (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’).

Lalu mengapa dunia membuat kita menangis bahkan rela mengakhiri hidup karena larut dalam kesedihan menangisi karena dunia padahal dunia tidak bernilai disisi Allah.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ’anhu, beliau bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melewati pasar melalui sebagian jalan dari arah pemukiman, sementara para sahabat menyertai beliau. Lalu beliau melewati bangkai seekor kambing yang telinganya cacat (berukuran kecil). Beliau pun mengambil kambing itu seraya memegang telinga nya. Kemudian beliau berkata:”Siapakah di antara kalian yang mau membelinya dengan harga satu dirham?”. Mereka menjawab:“Kami sama sekali tidak berminat untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”. Beliau kembali bertanya:”Atau mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”. Mereka menjawab:”Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat, karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati?”, Beliau pun bersabda:”Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian”. (HR. Muslim : 2957).

Jadi yang harus kita fikir adalah akhirat, bukan berarti didunia kita hanya berleha – leha dan bermalas malasan akan tetapi mencari dunia hanya sebatas sekedarnya saja dan tidak berlabihan.

Ketika Rasulullah kembali dari perang tabuk, dijalan beliau berkata kepada para sahabatnya :”Ada saudara – saudara  kita dikota Madinah yang kita tinggalkan dan tidak ikut bersama dengan kita, tidaklah kita melewati sebuah lembah atau sebuah jalan melainkan mereka juga bersama dengan kita, mereka juga mendapatkan pahalanya”. Sahabat kemudian heran dan berkata:”Ya Rasulullah mereka hanya duduk di kota Madinah”, Rasulullah menjawab:”Iya, akan tetapi mereka terhalangi karena udzur syar’i”. Sebagian sahabat tidak ikut berjihad karena cacat, sakit, buta. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. At-Taubah : 91).

Begitupula  seseorang yang berniat untuk menghadiri ta’lim namun sebelum ia berangkat motornya mengalami masalah sehingga tidak bisa menyala atau masalah yang semisal denganya maka ia mendapatkan pahala seakan akan seperti orang yang hadir dimajelis ilmu. Diantara yang menjadi besarnya pahala yang kita kerjakan adalah tergantung seberapa sulit dan beratnya amalan dan ibadah tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan”. (HR. Muslim, no. 1211).

Dalam hadist yang lain dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu beliau bersabda:

Barangsiapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan kejujuran, maka Allah akan mengantarkannya ke derajat kematian sebagai seorang syahid, kendati dia meninggal di atas tempat tidurnya“. (HR. Muslim).

Dalam hadist yang lain:

Diriwayatkan olah Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya menyebutkan, dunia ini dihuni empat golongan manusia.

Pertama, seorang hamba diberi Allah Swt harta kekayaan dan ilmu pengetahuan, lalu bertakwa kepada Robbnya, menyantuni sanak-keluarganya, dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya, maka dia berkedudukan paling mulia.

Kedua, seorang yang diberi Allah ilmu pengetahuan saja, tidak diberi harta, tetapi dia tetap berniat untuk bersungguh-sungguh. Sebenarnya jika memperoleh harta dia juga akan berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka pahala mereka berdua ini adalah (kelompok pertama dan kedua) sama — berkedudukan paling mulia.

Ketiga, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan, tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan. Dia membelanjakan hartanya dengan berhamburan (foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak mempedulikan hak Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji.

Keempat, seorang hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari Allah, lalu dia berkata:”Seandainya aku memiliki harta kekayaan, maka aku akan melakukan seperti layaknya orang-orang yang menghamburkan uang, serampangan, dan membabi-buta (kelompok yang ketiga)”. maka timbangan keduanya sama berkedudukan paling jahat dan keji.

Ketika melihat orang yang rajin berinfak, bersedekah, membangun masjid kemudian kita berkata:”Ya Allah, andaikan saya memiliki harta seperti dia maka saya akan melakukan seperti apa yang dilakukannya”.

Hal ini menjadi sensitive karena syaithan dapat menggoda sehingga muncul rasa iri dengan apa yang ia lakukan disebabkan karena ia menjadi terkenal dan dikenal oleh banyak orang. oleh karena itu Allah melarang melihat orang yang rajin berinfak, bersedekah, membangun masjid kemudian kita berkata:”Saya ingin kaya seperti dia agar saya mengerjakan seperti apa yang ia kerjakan supaya saya menjadi terkenal dan dipuji oleh banyak orang”.

Ketika kita memberi dan tidak mengharapkan pujian lalu kemudian tanpa disengaja ada orang yang memuji kita dengan amalan yang kita kerjakan, apakah hal ini diharamkan dan pertanda amalan kita tidak diterima ?, misalkan ada ikhwa yang mengerjakan sebuah amalan luar biasa dalam sebuah kepengurusan dan kepanitiaan  kemudian kita memujinya:”Antum ini Subhanallah, dedikasi dan sumbangsi antum sangat luar biasa”, apakah ini salah jika ada orang yang memuji kita”, hal ini pernah ditanyakan oleh Rasulullah Shallallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:”Itu adalah kabar gembira yang dipercepat kepada seorang mukmin didunia”,  Oleh karenanya ketika kita dipuji ucapkan Alhamdulillah (segala pujian hanya milik Allah) kembalikan segala sesuatunya hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam dan Nabi Daud  ‘Alaihissalam diberi harta yang belebih oleh Allah Subhanahu wata’ala keduanya berkata:”Ini keutamaan dari tuhanku”, bukan karena saya cerdas dan kaya akan tetapi semuanya keutamaan dari Allah Subhanahu wata’ala”.

Bersambung (Ikhlas (Silsilah Amalan Hati) sesi 6)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 22 Jumadil Awal 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR