بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

9. Dengan ikhlas Allah menghilangkan kita dari segala permasalahan

Ada 3 orang pemuda yang menyelamatkan keyakinannya kepada Allah Subhanahu wata’ala dari penguasa yang dzalim yang banyak melakukan kesyirikan dan kekufuran, mereka kemudian berlari dalam sebuah hutan hingga mereka berlindung didalam gua. Sebagaimana kisah mereka disebutkan dalam Surah Al-Kahfi, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. (QS. Al-Kahfi : 10).

Kisah 3 Pemuda yang bertawassul dengan amalan sholeh disebutkan dalam hadist, Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

Suatu ketika tiga orang laki-laki sedang berjalan, tiba-tiba hujan turun hingga mereka berlindung ke dalam suatu gua yang terdapat di gunung. Tanpa diduga sebelumnya, ada sebongkah batu besar jatuh menutup mulut gua dan mengurung mereka di dalamnya. Kemudian salah seorang dari mereka berkata kepada temannya yang lain:”lngat-ingatlah amal sholeh yang pernah kalian lakukan ikhlas hanya karena mengharap ridha Allah Subhanahu wata’ala semata. Setelah itu, berdoa dan memohonlah pertolongan kepada Allah dengan perantaraan amal sholeh tersebut, mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala akan menghilangkan kesulitan kalian”.

Kemudian salah seorang dari mereka berkata:“Ya Allah ya Tuhanku, dulu saya mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia. Selain itu, saya juga mempunyai seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil. Saya menghidupi mereka dengan menggembalakan ternak. Apabila pulang dari menggembala, saya pun segera memerah susu dan saya dahulukan untuk kedua orang tua saya. Lalu saya berikan air susu tersebut kepada kedua orang tua saya sebelum saya berikan kepada anak-anak saya. Pada suatu ketika, tempat penggembalaan saya jauh, hingga saya baru pulang pada sore hari. Ternyata saya dapati kedua orang tua saya sedang tertidur pulas. Lalu, seperti biasa, saya segera memerah susu. Saya berdiri di dekat keduanya karena tidak mau membangunkan dari tidur mereka. Akan tetapi, saya juga tidak ingin memberikan air susu tersebut kepada anak-anak saya sebelum diminum oleh kedua orang tua saya, meskipun mereka, anak-anak saya, telah berkerumun di telapak kaki saya untuk meminta minum karena rasa lapar yang sangat. Keadaan tersebut saya dan anak-anak saya jalankan dengan sepenuh hati hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa saya melakukan perbuatan tersebut hanya untuk mengharap ridha-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami hingga kami dapat melihat langit“!. Akhirnya Allah Subhanahu wata’ala membuka celah lubang gua tersebut, hingga mereka dapat melihat langit.

Orang yang kedua dari mereka berdiri sambil berkata:”Ya Allah, dulu saya mempunyai seorang sepupu perempuan (anak perempuan paman) yang saya cintai sebagaimana cintanya kaum laki-laki yang menggebu-gebu terhadap wanita. Pada suatu ketika saya pernah mengajaknya untuk berbuat zina, tetapi ia menolak hingga saya dapat memberinya uang seratus dinar. Setelah bersusah payah mengumpulkan uang seratus dinar, akhirnya saya pun mampu memberikan uang tersebut kepadanya. Ketika saya berada diantara kedua pahanya (telah siap untuk menggaulinya)“, tiba-tiba ia berkata:”Hai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu membuka cincin (menggauliku) kecuali setelah menjadi hakmu”. Lalu saya bangkit dan meninggalkannya. Ya Allah, sesungguhnya Engkau pun tahu bahwa saya melakukan hal itu hanya untuk mengharapkan ridha-Mu. Oleh karena itu, bukakanlah suatu celah lubang untuk kami!“, Akhirnya Allah Subhanahu wata’ala membukakan sedikit celah lubang lagi untuk mereka bertiga.

Seorang lagi berdiri dan berkata:”Ya Allah ya Tuhanku, dulu saya pernah mengupah seseorang untuk mengerjakan sawah padi saya. Ketika ia telah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun berkata:‘Berikanlah hak saya kepada saya! ‘ Maka saya memperlihatkan kepadanya haknya tersebut akan tetapi dia tidak suka dan meninggalkan haknya itu. Setelah itu, saya pun menanami sawah saya sendiri hingga hasilnya dapat saya kumpulkan untuk membeli beberapa ekor sapi dan menggaji beberapa penggembalanya“. Selang berapa lama kemudian, orang tersebut datang kepada saya dan berkata:”Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah berbuat zhalim terhadap hak orang lain!“, Lalu saya berkata kepada orang tersebut:”Pergilah ke beberapa ekor sapi beserta para penggembalanya itu dan ambillah semuanya untukmu!“, Orang tersebut menjawab:”Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu mengolok-olok saya!“, Kemudian saya katakan lagi kepadanya:”Sungguh saya tidak bermaksud mengolok-olokmu. Oleh karena itu, ambillah semua sapi itu beserta para pengggembalanya untukmu!“, Akhirnya orang tersebut memahaminya dan membawa pergi semua sapi itu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa apa yang telah saya lakukan dahulu adalah hanya untuk mencari ridha-Mu. Oleh karena itu, bukalah bagian pintu gua yang belum terbuka! ‘ Akhirnya Allah Subhanahu wata’ala pun membukakan pintu gua secara sempurna untuk mereka”. (HR. Bukhari).

Menyebutkan amalan sholeh kepada Allah bukanlah perkara riya dan yang termasuk perkara riya adalah ketika menyebutkan amalan sholeh kepada manusia, jadi jika kita bertawassul menyebutkan amalan sholeh dihadapan Allah Subhanahu wata’ala maka boleh, sebagaimana didalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti“. (QS. Ali ‘Imran: 193).

Tanda – Tanda Keikhlasan

Telah kita ketahui bersama bahwa ikhlas adalah perkara yang sangat berat, Sofyan At Tsaury Rahimahullah berkata:”Tidak ada perkara yang berat yang saya obati pada diri saya melebihi niatku atau keikhlasanku”,

Diantara Tanda – Tanda Ikhlas dalam Beramal adalah:

  1. Tidak senang dengan kemasyhuran atau popularitas.
    Ubay bin Ka’ab beliau adalah salah seorang sahabat yang direkomendasikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diambil bacaan Al-Qur’annya, diantara sahabat yang direkomendasikan khusus oleh Rasulullah untuk diambil bacaan Al-Qur’annya adalah Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Abdullah Ibnu Mas’ud dan Salim Maula Abi Huzaifah. Rasulullah pernah datang langsung kepada Ubay bin Ka’ab, Ka’ab heran dengan kedatangan Rasulullah beliau kemudian bertanya:”Ya Rasulullah ada apa gerangan.?, Rasulullah menjawab:”Telah diturunkan kepada ku sebuah surah dan Jibril menyampaikan pesan dari Allah agar membacakan surah ini khusus kepadamu”, Ka’ab  berkata:”Apakah Allah menyebut namaku Ya Rasulullah dari atas langit.?, Rasulullah berkata:”Benar”, akhirnya beliau menangis karena terharu.

Ubay bin Ka’ab pernah diikuti oleh beberapa orang, beliau kemudian menengok dan berkata kepada orang yang mengikutinya:”Apa yang kalian inginkan.?”, mereka berkata:”Kami hendak mengikuti anda”, Ka’ab berkata:”Pergilah kalian, tinggalkan aku, andaikan kalian mengetahui apa yang saya lakukan setelah saya menutup pintu maka tidak ada diantara kalian yang ingin mengikutiku”.

Umar Radhiyallahu ‘anhu pernah memukul Ubay bin Ka’ab dan mengingatkan dengan berkata:”Wahai Ubay jangan banyak orang yang mengikutimu seperti itu”, oleh karenanya diantara tanda ikhlas adalah tidak menginginkan kemasyhuran akan tetapi Allah yang memasyhurkannya.

Salah seorang dari negeri Yaman membawa beberapa pertanyaan dari kaumnya untuk ditanyakan kepada Imam Malik bin Anas, ketika pertanyaan disampaikan satu demi satu kepada Imam Malik, Imam Malik hanya menjawab beberapa pertanyaan dan selebihnya beliau berkata:”Wallahu A’lam”, sampai – sampai orang ini berkata:”Ya Imam, apa yang saya katakan kepada kaum saya, saya datang dari kampung yang sangat jauh hanya untuk bertanya kepada anda”, Imam Malik bin Anas berkata kepadanya:”Sampaikan kepada mereka Malik bin Anas tidak tahu”. Imam Malik tidak menginginkan ketenaran akan tetapi dimasyurkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Faidah: Jika ada sebuah amalan yang kita kerjakan kemudian tanpa sengaja ada orang yang memuji kita maka ini bukan sesuatu yang tercela, namun perlu untuk menjaga diri jangan sampai tertipu dengan pujian tersebut, hal seperti ini merupakan kabar gembira yang dipercepat, sebagaimana ketika disampaikan kepada Rasulullah seseorang yang mengerjakan kebaikan kemudian orang memujinya, Rasulullah mengatakan:”Itu adalah kabar gembira yang dipercepat untuk seorang muslim”.

2. Tidak menunggu pujian dari siapapun

3. Semangat untuk mengerjakan amalan sholeh

4. Berlomba dengan orang lain dalam kebaikan

5. Mengharapkan pahala dan ganjaran disisi Allah Subhanahu wata’ala dan,

6. Bersabar menahan beban dari amalan yang dikerjakan dan berusaha menyembunyikan amalan yang dikerjakan.

Dalam kondisi tertentu menampakkan amalan terkadang disyariatkan sebagaimana amalan-amalan yang memang harus ditampakan seperti sholat wajib, haji dan umrah, sedekah untuk memberi semangat kepada orang lain sebagaimana Rasulullah pernah melakukan penggalangan dana kepada para sahabat ketika datang Bani Mudhar dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, Rasulullah kasihan melihat kondisi mereka, akhirnya Rasulullah menyuruh para sahabat untuk bersedekah namun para sahabat telat merespon seruan Rasulullah, akhirnya Rasulullah masuk ke dalam rumahnya dengan hati galau tiba – tiba datanglah salah seorang sahabat membawa sedekahnya dengan kedua tangannya sampai – sampai dia tidak mampu membawanya ia lalu meletakkan dihadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sahabat yang lain melihat pemandangan tersebut akhirnya mereka berlomba – lomba melakukan seperti apa yang dilakukan oleh sahabat tersebut, Rasululah kemudian bergembira dan mengucapkan perkataan yang masyur:

مَنْ سَنَّ فِـي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ ، وَمَنْ سَنَّ فِـي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِـّئَةً ، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang memberi teladan (contoh) perbuatan yang baik, ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun”. (HR. Ahmad, IV/357, 358-359, 360, 361, 362; Muslim, no. 1017).

Contoh yang baik yang dimaksud adalah yang ada sunnahnya dan disyariatkan dan hadist ini bukan untuk dijadikan dalil tentang bolehnya melakukan bid’ah hasanah.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 04 Jumadil Akhir 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR