بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Para ulama kita sangat memberi perhatian terhadap pembahasan seputar amalan hati, bahkan Syaikh bin Baz Rahimahullah disebutkan bahwa diantara doa yang sering beliau baca adalah:

Ya Allah perbaikilah hatiku yang rusak

Ketika beliau thawaf mengelilingi ka’bah beliau hanya mengulang – ulangi doa tersebut, beliau kemudian ditanya:”Betapa banyaknya anda membaca doa itu ya Syaikh.?“, beliau menjawab:”Karena kebaikan hati merupakan kebaikan seorang hamba didunia dan di akhirat“, Cukuplah hadist Rasulullah yang menegaskan pentingnya amalan hati, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)”. (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Disebut dengan Qalbu karena ia berbolak balik dari Ummu Salamah menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam memperbanyak dalam doanya:

اللَّهُمَّ مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Ya Allah, yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu“, Ia berkata: “Wahai Rasululah! Apakah hati itu berbolak balik?”. beliau menjawab:“Ya, tidaklah ciptaan Allah dari manusia anak keturunan Adam kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari-jari Allah. Bila Allah Azzawajalla berkehendak, Ia akan meluruskannya, dan jiwka Allah berkehendak, Ia akan menyesatkannya”.

Dalam hadist yang lain beliau juga sering membaca doa:

‎اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Ya Allah yang memalingkan (membolak-balikkan) hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan kepadaMu“. (HR. Muslim (no. 2654)).

Oleh karenanya sepantasnya kita meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala agar memperbaiki hati-hati kita dan mengokohkannya diatas keistiqamahan karena hati kita lemah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia”. (HR. Muslim no. 118).

Apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari hadist tersebut merupakan teguran bagi kita yang hidup dizaman keterbukaan dimana kita melihat, mendengar, membaca lewat medsos dan berbagai wasilah yang lain betapa mudahnya seseorang keluar dari agamanya, ada yang sampai mengolok – olok agamanya dan ada yang sampai menghina tuhannya, ada yang menghina Nabinya, mempermainkan ayat – ayat Allah Subhanahu wata’ala, menghina wali – wali Allah dan lain – lain.

Ada yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya, sebagaimana hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan kondisi akhir zaman bahwasanya akan datang suatu waktu dimana manusia tidak lagi peduli  ketika ia mencari nafkah apakah dia dapatkan dengan cara yang halal atau dengan cara yang haram.

Salah satu tujuan diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu untuk mensucikan jiwa – jiwa manusia.

Adapun pembahasan tentang ikhlas, ulama kita berkata:”Barangsiapa yang melihat keikhlasan pada keikhlasannya maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan”,

Salah seorang salaf pernah berkata:”Tidak ada perkara yang berat yang saya obati dari pada penyakit – penyakit yang ada didalan hatiku melebihi niat – niatku”, salah seorang salaf yang lain mengatakan:”Barangsaipa yang meninggalkan amalan karena manusia maka itulah riya dan baranngsiapa yang mengerjakan sebuah amalan karena manusia maka itu adalah musyrik”.

Jadi meninggalkan ibadah karena manusia adalah riya dan mengerjakan ibadah karena manusia adalah syirik dan yang terbaik kata beliau adalah engkau berlepas dari keduanya yaitu berlepas dari kesyirikan dan berlepas dari riya.

Contoh dari kalangan salafussholeh Rahimahullah yang menunjukkan rasa takut mereka akan bercampurnya amalan – amalan sholeh yang mereka kerjakan dengan riya akan kita sebutkan berikut:

  1. Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

Umar bin Khattab merupakan salah seorang sahabat yang juga khalifah yang terkenal dengan keadilannya . disebutkan dalam biography beliau bahwa kedua kelopak matanya terdapat 2 garis yang berwarna hitam karena banyaknya beliau menangis karena rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wata’ala , kita tahu bahwa Umar ibaratnya seperti singa disiang hari dan seperti rahib dimalam hari, Umar yang kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:”Tidaklah engkau melewati sautu jalan wahai Umar melainkan syaithan akan melalui jalan yang lain”, Umar yang ketika bertamu dirumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam maka para wanita bersembunyi dibalik hijab atau rumhanya karena mereka sangat segan kepada Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi beliau adalah sahabat yang sangat takut kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Umar pernah berulang kali mendatangi Huzaifah Ibnu Yaman beliau adalah sahabat pemegang rahasia Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah menyebutkan nama – nama orang munafik kepada Huzaifah, akhirnya Umar khawatir jangan sampai namanya termasuk golongan orang – orang munafik walaupun berulang kali beliau mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang dirinya dan keutaamannya.

Umar sangat menjaga amalan – amalan sholeh yang ia kerjakan, ketika menjadi khalifah hampir setiap malam beliau keluar untuk melihat kondisi dan keadaan rakyatnya tanpa ada media dan pencitraan sebagaimana dizaman sekarang akan tetapi semata – mata beliau takut pada suatu hari dimana semua amalan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Subhanahu wata’ala, bahkan diakhir kehidupannya ia berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala:

Ya Allah sesungguhnya kekuatanku sudah mulai melemah, tulang – tulangku sudah mulai rapuh, rakyatku sudah tersebar dimana – mana, matikan aku dan gabungkan aku bersama dengan orang – orang yang sholeh”.

Beliau pernah berkata:”Saya khawatir jangan sampai dihari kiamat ada seekor hewan yang datang kepada Allah Subhanahu wata’ala disebabkan karena kakinya pernah tersandung di jalan lalu dikatakan kepadaku mengapa engkau tidak membuatkan jalan untuknya wahai Umar”. Kepemimpinan bisa menjadi nikmat dan bisa menjadi penyesalan pada hari kiamat yang akan dipertanggung jawabkan kepada Allah Subhanahu wata’ala,

Kepemimpinan membuat seseorang tamak untuk mendapatkannya dan menajdi lupa bahwasanya tidaklah seseorang yang datang kepada Allah dalam keadaan ia mengkhianati orang – orang yang dipimpinnya maka akan diharamkan baginya mencium bau surga, inilah yang ditakutkan oleh Umar bin Khattab sehingga beliau ketika menjadi khalifah keliling untuk melihat keadaan rakyatnya.

Umar pernah keluar di suatu malam, beliau masuk dari rumah ke rumah dan salah seorang sahabat yang bernama Thalhah mengikutinya ditengah kegelapan malam dan Umar tidak tahu ada Thalhah yang mengikutinya, Umar masuk disebuah rumah dan beliau lama didalam rumah tersebut , Thalhah kemudian bertanya- tanya dari dalam hati apa yang dilakukan Umar dalam rumah tersebut,

keesokan harinya Thalhah mendatangi rumah tersebut dan ternyata rumah tersebut ditinggali oleh seorang nenek tua yang buta, Thalhah bertanya kepadanya:”Siapa lelaki yang sering mendatangi anda”, wanita itu mengatakan:”Saya tidak tahu siapa dia, namun sejak waktu yang lama ia senantiasa datang diwaktu malam menyiapkan makanan untuk saya kemudian membersihkan rumah saya lalu pergi”, jadi wanita tua ini tidak tahu bahwa dia adalah Umar Radhiyallahu ‘anhu, inilah beberapa amalan beliau yang tidak ingin orang lain mengetahuinya karena beliau mengharapkan wajah Allah Subhanahu wata’ala Allah menjadikan orang – orang sholeh yang ikhlas dalam beribadah terkenal dilangit dan terkenal dibumi, walaupun ia menyembunyikan amalannya didunia akan tetapi kelak Allah akan menampakkan amalannya setelah meninggalnya.

Bersambung (Ikhlas (Silsilah Amalan Hati) sesi 2)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 05 Jumadil Awal 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR