بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pada hadist ini, orang itu menanyakan tentang islam, tapi Rasulullah hanya menjawab dengan menyebutkan Rukun Islam (bersyahadat لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ , menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah), maka sebagian Ulama berkata pelajaran (ketiga) yang dapat dipetik adalah jika orang bertanya sesuatu dengan pertanyaan yang begitu luas cakupannya, maka kita hanya menjawab dengan memberikan penjelasan bagian terpenting dari yang ia tanyakan.

BACA JUGA: Islam, Iman dan Ihsan – Pembahasan Kitab Arba’in Nawawiyah Hadist Kedua (Bagian 1)

Orang itu kembali bertanya, “Kabarkanlah kepadaku tentang Iman”. Nabi shallallahu alahi wa sallam memberikan jawaban yang paling mendasar yaitu yang kita kenal dengan istilah Rukun Iman; Rasulullah mengatakan “Anda beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari Akhir dan Anda beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Kemudian orang itu mengatakan “Benar jawabanmu Wahai Muhammad.”

Orang itu bertanya kembali “Sampaikan kepadaku tentang Ihsan”, maka Nabi shallallahu alahi wa sallam menjawab bahwa Ihsan itu engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya. Semua kebaikan, semua amal shaleh yang kita lakukan dengan kesadaran yang penuh, dengan keikhlasan yang bulat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Kalau tidak bisa pada level itu kita diberi pilihan yang kedua. Lanjut Rasulullah, “Kalau engkau tidak bisa seakan-akan melihatnya maka lakukanlah ibadah itu dengan kesadaran bahwa Allah pasti melihatmu”. Inilah yang diistilahkan oleh para Ulama Muraqabatullah (kesadaran bahwa kita selalu diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala). Ini adalah level penghambaan yang tertinggi kata para ulama.

Jika kita bisa melakukan dua hal tersebut, ini akan melahirkan perasaan penting; jika kita merasa bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan selalu dilihat Allah, maka kita akan selalu yakin kalau Allah melihatnya tentu tidak akan luput dari pengawasan Allah, terlepas dari sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan dan yakin atas balasan dari kebaikan kita. Maka seorang mukmin selalu berusaha berada dalam kondisi melakukan kebaikan, bahkan tanpa seorangpun yang melihatnya.

Orang itu melanjutkan pertanyaannya, “Kabarkan kepadaku tentang hari Kiamat”, maka Rasulullah menjawab “Tidaklah yang ditanya lebih tau daripada yang bertanya”. Pelajaran penting yang bisa dipetik dari jawaban Rasulullah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala melalui Malaikat Jibril yang diutus untuk menemui Rasulullah ingin mengajarkan kepada kita bahwa Nabi shallallahu alahi wa sallam, manusia paling mulia sejagat raya dengan semua kemuliaannya tidak mengetahui sedikitpun perkara yang ghaib kecuali apa yang diinformasikan Allah kepada beliau, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah memberikan informasi kepada Nabi Muhammad shallallahu alahi wa sallam tentang kapan terjadinya hari kiamat, maka Rasulullah tidak tau. Itulah sebabnya Jibril mengatakan “Sampaikan kepadaku tentang tanda-tandanya”.

Didalam hadist ini Rasulullah menyebutkan dua tanda kiamat; yang pertama adalah seorang budak wanita melahirkan tuannya. Yang kedua adalah ketika engkau melihat orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin dan penggembala kambing saling bermegah-megahan meninggikan bangunan.

Mari kita telaah, Nabi shallallahu alahi wa sallam adalah manusia yang paling tau tentang detail dan rincian tanda-tanda kiamat itu, tetapi dia tidak membuat prediksi-prediksi tertentu tentang kapan kiamat terjadi. Beliau hanya mencukupkan diri dengan apa yang Allah arahkan kepada beliau menyebutkan tanda-tandanya. Oleh karena itu, ini menjadi sangat penting bagi kita untuk menghindari pembahasan-pembahasan yang mencoba mengarahkan untuk mendetailkan kapan kiamat terjadi. Kita belum tentu mengalami hari kiamat, tetapi sudah pasti kita akan mengalami kematian, maka yang lebih terpenting adalah apa yang telah kita siapkan untuk menghadapi kematian.

Setelah mengajukan pertanyaan, orang itu pergi kemudian Umar duduk sebentar bersama Nabi shallallahu alahi wa sallam. Rasulullah kemudian berkata “Wahai Umar! Tahukah kamu siapa yang bertanya itu?”. Umar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Nabi shallallahu alahi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dia Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”
Dari jawaban Umar ini kita bisa belajar bahwa kita tidak boleh sembarangan menjawab suatu hal yang kita sendiri tidak ketahui, terlebih lagi jika yang ditanyakan itu adalah perkara agama. Para Ulama mengatakan ” لَا أَدْرِي – saya tidak tau”, itu adalah setengah dari ilmu, maka jika kita tidak tau jika ditanyakan suatu hal katakan “saya tidak tau”. Ini adalah adab dalam menuntut ilmu.

Pelajaran terakhir dari hadist ini adalah tentang pentingnya seorang penuntut ilmu menghadirkan diri, menghadirkan hati, menghadirkan pikirannya pada saat berada di majelis ilmu supaya bisa mengingat, menangkap setiap pesan dan pelajaran yang disampaikan di dalam majelis itu. Ini yang ditunjukkan Umar radhiyallahu anhu didalam hadist ini.

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Ustadz Dr. Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si Hafidzahullahu Ta’ala
Ta’lim Kajian Kitab Arbain Nawawiyah – Masjid Nurul Hikmah MIM (Kamis, 6 Desember 2019)

Kunjungi Media MIM:
Website : http://mim.or.id
Fanspage Facenook: http://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/
Youtube : http://www.youtube.com/c/MimTvMakassar
Telegram : http://telegram.me/infokommim
Instagram : http://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

BACA JUGA: Kepedulian Terhadap Palestina, Muslimah MIM Menghadirkan Pemateri Aktivis Internasional dari Palestina

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.