بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

‘Uyainah berkata kepada keponakannya:”Hai keponakanku, engkau mempunyai kedekatan dengan Amirul Mukminin. Tolong mohonkan izin untukku kepada Amirul Mukminin“. Ia pun memintakan izin untuk ‘Uyainah, dan Umar Radhiyallahu ‘anhu pun mengizinkannya. Setelah ‘Uyainah masuk, lalu ia berkata:”Hati-hatilah, hai putera Al-Khattab, demi Allah, engkau tidak memberikan banyak pemberian pada kami dan tidak pula menetapkan hukum di antara kita dengan adil”.

‘Uyainah Ibn Hisyam ketika bertemu dengan Umar dia menunjukkan perilaku yang tidak sopan kepada Umar bin Khattab, dalam bahasa arab kata “hii” adalah ucapan yang mengandung ancaman. ‘Uyainah menuntut kepada Umar karena pemberian beliau sedikit dibanding dengan pemberian Rasulullah ketika masih hidup, dan yang dilakukan oleh Umar merupakan ijtihad beliau sendiri karena pada waktu itu Nabi memberikan kepada ‘Uyainah pemberian yang banyak kerena ‘Uyainah baru masuk islam agar beliau kokoh atau istiqamah diatas islamnya, setelah berlalu waktu yang panjang oleh karenanya Umar menganggap ‘Uyainah tidak pantas lagi mendapatkan banyak pembagian zakat. Mendengar ucapan ‘Uyainah yang tidak sopan tersebut membuat beliau marah. Kita tahu bahwasanya syaithan takut kepada Umar Radhiyallahu ‘anhu, Rasululalh bersabda:”Tidaklah engkau melewati suatu jalan wahai Umar kecuali syaithan akan melewati jalan yang lain”, beliau juga sahabat yang ditakuti oleh para wanita ketika berkunjung kerumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan banyak diantara ayat – ayat yang turun kepada Rasulullah yang menyetujui pendapat Umar Radhiyallahu ‘anhu sebagaimana minuman khamr yang diharamkan secara mutlak oleh Allah disebabkan karena pertanyaan Umar kepada Rasulullah. Maka turunlah firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan“. (QS. Al-Maidah : 90). 

Maka dari itu tidak ada sedikitpun keuntungan dari khamr dan tidak pula mendatangkan keberkahan karena ia adalah sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, minuman memabukkan merupakan alat bagi syaithan untuk menciptakan permusuhan diantara sesama manusia.

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa terkadang terjadinya perselisihan dan permusuhan antara sesama kaum muslimin disebabkan karena harta, diantara salah sifat harta dapat membutakan mata dan hati seseorang kecuali orang – orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Umar Radhiyallahu ‘anhu marah sehingga hampir saja beliau menjatuhkan hukuman padanya. Al-Hurr kemudian berkata: “Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallamJadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh“. (QS. Al-A’raf : 199).

Inilah indahnya pendamping yang baik dimana ia jujur dalam pertemanan, jika apa yang kita kerjakan benar dia dukung dan jika yang kita kerjakan salah dia benarkan dan bukan teman yang membenarkan semua apa yang kita lakukan. Ketika Umar mendengar ayat yang dibacakan oleh Al Hurr beliau kemudian tenang, tidak marah dan tunduk kepada ayat – ayat Allah Subhanahu wata’ala, inilah sifat orang – orang yang beriman dimana jika Allah dan Rasulnya yang berbicara maka ia tunduk kepada perintah Allah dan rasulnya.

Suatu ketika setelah Umar Radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah beliau berjalan dengan beberapa sahabat dipasar, tiba – tiba beliau bertemu dengan seorang nenek tua dan nenek tua ini menasehati beliau ditengah pasar seraya berkata:”Ya Umar, aku mengenal mu dahulu adalah umar kecil yang bermain bersama dengan anak – anak kecil, sekarang engkau telah menjadi Umar dan Khalifah maka bertakwalah kepada Allah Subhanahu wata’ala terhadap rakyatmu”, Umar kemudian tunduk sambil mendengarkan nasehat nenek tua tersebut, setelah nenek tua ini pergi, sahabat yang bersama dengan Umar berkata:”Ya Amirul Mukminin engkau membiarkan orang tua ini menasehatimu didepan khayalak dan anda hanya diam mendengarkaannya”, Umar kemudian berkata:”Demi Allah andaikan wanita tua itu menasehati saya sampai pagi saya tidak akan bergeming dan terus mendengarkan nasehatnya, tahukah kalian siapa wanita tua tersebut.?”, sahabat berkata:”Siapa Ya Amirul Mukminin”, Umar menjawab:”Ini adalah wanita yang pernah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan suaminya yang disebutkan dalam surah Al Mujadilah”. Allah berfirman:

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“. (QS. Al-Mujadilah : 1-3).

Kisahnya wanita tua tersebut pernah datang kepada Rasulullah untuk mengadukan suaminya dia berkata:”Ya Rasulullah dulu ketika saya masih muda saya berkhitmah kepada suamiku dan saya menjadikan rahimku sebagai tempat untuk anak – anaknya namun setelah saya tua dia telah menzhiharku, dia berkata kepadaku:”Engaku adalah bagaikan punggung ibuku”.

Perkataan seperti ini tidak dibenarkan dalam islam, bahkan seorang lelaki jika ia berkata  demikian kepada istrinya diharamkan baginya untuk berhubungan (jima) kepadanya sampai ia membayar kaffarah sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al Mujadilah yang telah kita sebutkan diatas.

Kata ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha:”Saya mendengar pengaduan wanita itu dibalik hijab ada diantara perkataannya yang saya dengar namun kebanyakan yang saya tidak dengar dan pada saat itu juga dari langit yang ke tujuh Allah Subhanahu wata’ala menurunkan firmannya surah Al-Mujadilah : 1-3.

Umar berkata kepada para sahabat:”Bagaimana mungkin Umar tidak mendengarkan nasehat wanita tersebut sedangkan Allah medengar pengaduannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam”, Umar termasuk sahabat yang sangat tegas namun ketika berhadapan dengan ayat maka beliau tunduk dan patuh.

Dan ‘Uyainah ini termasuk golongan orang-orang yang bodoh. Demi Allah, Umar tidak melewatinya ketika Al-Hurr membacakan ayat tersebut. Umar adalah seorang yang amat mematuhi Kitabullah

Jahil terbagi menjadi 2 yaitu jahil karena memang tidak punya ilmu dan yang kedua jahil bukan karena bodoh akan tetapi dia melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh orang – orang jahil.

Umar Radhiyallahu ‘anhu tidak berbuat apa – apa setelah mendengarkan ayat tersebut, beliau adalah orang yang selalu berhenti dengan ayat – ayat Allah Subhanahu wata’ala. Ketika ia mendengar beliau kemudian tunduk dan patuh kepada ayat – ayat Allah Subhanahu wata’ala.

Pada peristiwa tersebar berita meninggalnya Rasulullah, Umar kemudian marah kepada orang – orang yang mengatakan:”Rasulullah telah meniggal”, beliau menghunus pedangnya sambil berkata:”Siapa yang berkata, Rasulullah telah meninggal maka saya penggal lehernya”, akhirnya datanglah Abu Bakar menemui Umar dan menenangkannya dengan berkata:”Duduk Ya Umar”, Umar tidak mau duduk akhirnya Abu Bakar berfikir umar tidak bisa duduk dengan perintah akan tetapi beliau duduk dengan ayat, akhirnya Abu Bakar berkata dengan memulai khutbah hajah, orang – orang kemudian berkumpul kepada Abu Bakar dan meninggalkan Umar, beliau berkata:

مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لاَ يَمُوتُ

Barangsiapa menyembah (beribadah) kepada Muhammad Shallallahu alaihi wasallam maka dia telah mati, dan barangsiapa menyembah Allah maka Allah adalah Dzat Yang Mahahidup tidak akan mati”.

Beliau lalu membaca firman Allah:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali Imran : 144).

Ayat ini membuat Umar luluh dan pedangnya terjatuh sambil beliau berkata:”Seakan – akan aku tidak pernah mendengar ayat itu sebelumnya kecuali pada hari ini”, padahal beliau sering membaca ayat tersebut.

Jadi, inilah pentingnya bagi kita untuk selalu saling mengingatkan tentang firman Allah dan hadits Rasulullah ketika ditimpa musibah atau yang butuh untuk dikuatkan agar ia menjadi tenang dan tunduk kepada Allah dan Rasulullah dari musibah yang ia hadapi.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Jum’at, 16 Jumadil Awal 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR