بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Uyainah bin Hish datang ke Madinah, kemudian ia singgah di tempat keponakannya, Al-Hurr bin Qais”. Al-Hurr adalah salah seorang yang mempunyai kedekatan dengan Umar Radhiyallahu ‘anhu. Karena memang para ahli baca Al-Qur’an merupakan teman-teman majelis Umar Radhiyallahu’anhu dan orang-orang yang diajak bermusyawarah, baik orang-orang tua maupun yang masih muda usianya.

‘Uyainah berkata kepada keponakannya:”Hai keponakanku, engkau mempunyai kedekatan dengan Amirul Mukminin. Tolong mohonkan izin untukku kepada Amirul Mukminin“.

Ia pun memintakan izin untuk ‘Uyainah, dan Umar Radhiyallahu ‘anhu pun mengizinkannya. Setelah ‘Uyainah masuk, lalu ia berkata:”Hati-hatilah, hai putera Al-Khattab, demi Allah, engkau tidak memberikan banyak pemberian pada kami dan tidak pula menetapkan hukum di antara kita dengan adil”. Umar Radhiyallahu ‘anhu marah sehingga hampir saja beliau menjatuhkan hukuman padanya. Al-Hurr kemudian berkata: “Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallamJadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh“. (QS. Al-A’raf : 199). Dan ‘Uyainah ini termasuk golongan orang-orang yang bodoh. Demi Allah, Umar tidak melewatinya ketika Al-Hurr membacakan ayat tersebut. Umar adalah seorang yang amat mematuhi Kitabullah”. (HR. Al-Bukhari (4642, 7286)).

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu beliau salah satu sahabat yang didoakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan doa :”Ya Allah berilah pemahaman kepada Ibnu Abbas dalam agama dan ajarkan kepadanya ilmu ta’wil (tafsir)”, beliau merupakan sahabat Rasulullah yang terkenal dan masyur akan kecerdasan ilmunya beliau masih berumur belia setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia, kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu sehingga Allah berikan kepadanya ilmu yang begitu luas. Pada musim haji beliau menafsirkan Al-Qur’an, ada yang mengatakan beliau menafsirkan surah An Nur dari awal sampai terakhir, beliau mengeluarkan kandungan, tafsir dan makna ayat tersebut sampai ada yang berkata:”Andaikan kaisar atau raja romawi melihat apa yang dilakukan oleh Ibnu Abbas, melihat kedalaman ilmu beliau maka mereka akan masuk ke dalam agama islam.

Uyainah Ibn Hisyam ini merupakan salah satu diantara kepala suku disebuah kabilah di tanah Arab yang pernah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dimana Rasulullah memberikan pemberian yang begitu banyak kepadanya, terutama ketika Rasulullah kembali dari perang hunain dan mendapatkan ghanimah yang banyak. Pada perang hunain kaum muslimin kalah pada awalnya dan menang pada akhirnya adapun pada perang uhud dimana Rasulullah dan para sahabatnya menang pada awalnya dan kalah pada akhirnya.

Beliau mendapatkan ghanimah yang begitu banyak dan Uyainah Ibn Hisyam salah satu diantara yang hatinya hendak dilembutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga beliau memberikan kepadanya bagian yang banyak sampai – sampai ketika ia kembali kepada kaumnya dengan berkata:“Wahai kaumku masuklah kalian ke dalam agama islam sungguh aku telah datang dari seorang lelaki yang mengeluarkan pemberian dimana ia tidak takut akan ke fakiran”. Jadi ia tersentuh dengan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan daintara yang boleh mendapatkan zakat yaitu seseorang yang diharapakn kelembutan hatinya seperti non muslim yang diharapkan agar ia masuk ke dalam islam atau yang ditakutkan keburukannya kepada kaum muslimin sehingga ia diberi pemberian agar tidak mengganggu kaum muslimin.

Para ahli baca Al-Qur’an merupakan teman-teman majelis Umar Radhiyallahu’anhu dan orang-orang yang diajak bermusyawarah, baik orang-orang tua maupun yang masih muda usianya.

Kejadian ini terjadi setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.  Al-Hurr beliau adalah salah satu pendamping Umar Radhiyallahu ‘anhu yang dimintai padangannya dan juga termasuk majelis syuro beliau.

Yang dimaksudkan para ahli baca Al-Qur’an adalah para penghafal Al-Qur’an, para fuqaha dan ulama terutama dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Umar memasukkan para orang tua dan orang muda ke dalam majelis beliau jika dianggap layak. Ibnu Abbas merupakan salah satu diantara sahabat yang umurnya masih sangat belia yang diikutkan dalam majelis Umar bin Khattab. Sebagian sahabat protes dengan kehadiran Ibnu Abbas dengan berkata:”Kami juga punya anak seumuran Ibnu Abbas namun mengapa ia diistimewakan hadir di majelis kita”, akhirnya Umar Radhiyallahu anhu menunjukkan kecerdasan dan kepintaran Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu yang tidak sama dengan pemuda – pemuda yang lain, pada suatu majelis dimana semua sahabat telah berkumpul Umar lalu membaca firman Allah Subhanahu wata’ala:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ، وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا، فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat“. (An-Nasr : 1-3).

Umar bertanya kepada para sahabat yang hadir:”Apa tafsiran atau komentar kalian tentang ayat ini.?”, akhirnya mereka mengomentari sesuai dengan nash dzahir dari ayat tersebut, namun ketika Umar bertanya kepada Ibnu Abbas:”Apa yang engkau katakan tentang ayat ini wahai Ibnu Abbas”, beliau menjawab:”Surah ini diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berita dari Allah bahwasanya ajal beliau telah dekat”, ayat ini termasuk surah yang terakhir yang diturunkan kepada Nabi, Umar lalu berkata:”Saya pun tidak mengetahui maksud dan makna dari surah tersebut kecuali setelah saya mendengarnya darimu wahai Ibnu Abbas”, dari sinilah mereka semua mengakui akan kecerdasan ilmu Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu.

Setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan risalah yang diamanahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan orang – orang telah masuk ke dalam islam secara berbondong – bondong,  Allah kemudian berkata kepada Nabi:”Bertasbilah engkau wahai Muhammad pujilah tuhanmu dan perbanyaklah istighfar kepadanya”. Ini menunjukkan amanah, tugas, kenabian, risalah telah disempurnakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan jika telah sempurna maka tibalah ajal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Faedah : Hendaknya seorang pemimpin menjadikan orang – orang sholeh sebagai pendamping karena betapa banyak pemimpin yang rusak walaupun awalnya baik disebabkan karena adanya pendamping – pendamping yang buruk. Fir’aun dihancurkan dan berada diatas kesesatan disebabkan karena pendamping yang buruk yang bernama Haman, ketika Fir’aun didakwahi oleh Musa Radhiyallahu ‘anhu sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan”. (QS. An Naml : 41).

Ketika Fir’aun bertanya kepada istrinya Asiah, Asiah berkata:”Ikuti dia”, Fir’aun lalu bertanya kepada Haman:”Wahai Haman apa pendapatmu tentang apa yang disampaikan oleh Musa.?”, Haman berkata:”Jika engkau mengikuti Musa maka kemarin dimana engkau menyampaikan bahwa engkau adalah tuhan yang disembah oleh manusia, engkau akan menjadi hamba seperti mereka”. Akhirnya Fir’aun mengikuti pendapat dari Haman.

Jadi banyak yang menjadi sesat disebabkan karena pendamping-pendamping yang buruk termasuk paman Rasulullah yang bernama Abu Thalib dimana beliau lebih mencintai Rasulullah dibandingkan anak – anaknya sendiri, ia rela untuk menjadi tameng bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga orang kafir Quraisy tidak berani mengganggu Rasulullah secara fisik kecuali setelah kematiannya beliau. Diakhir hayatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Thalib:”Wahai pamanku ucapkanlah Lailahaillallah satu ucapan dimana saya akan membelamu dihadapan Allah Subhanahu waa’ala pada hari kemudian”, namun disebelah Abu Thalib turut pula hadir Abu Jahal, Abu Lahab dan pembesar Quraisy lainnya mereka seraya berkata:”Wahai Abu Thalib jika engkau mengikuti ajaran Nabi Muhammad dan meninggalkan ajaran nenek moyang kita, maka apa yang akan kita katakan kepada wanita – wanita Quraisy dimana engkau menyembunyikan rasa malumu wahai Abu Thalib“. Akhirnya ia memilih untuk berada diatas agama nenek moyangnya dan ia mati dalam kesesatan dan ini merupakan takdir dari Allah Subhanahu wata’ala. Ketika Abu Thalib meninggal Rasulullah sangat bersedih maka turunlah firman Allah Subhanahu wata’ala:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk“. (QS. Al Qashash : 56). Setelah ayat ini turun Nabi berkata kepada Ali bin Abi Thalib anak Abu Thalib:”Wahai Ali bangkitlah dan kuburkan syaikh yang tersesat ini”.

Intinya adalah bahaya pendamping atau teman yang buruk, oleh karenanya penyesalan yang paling besar dihari kemudian sebagaimana yang digambarkan oleh Allah didalam Al-Qur’an , Allah berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (QS. Al – Furqan : 27-29).

Menggigit jari kedua tangannya adalah merupakan bentuk penyesalan yang sangat besar. Barulah ia mengingat semua teman temannya didunia yang selalu mengajaknya kepada kebathilan dan kemungkaran, apatahlagi jika dia adalah orang yang memegang jabatan penting olehnya Allah berifiman di dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya“. (QS. Ali ‘Imran: 118).

Ayat ini merupakan peringatan dari Allah Subhanahu wata’ala agar tidak menjadikan orang orang kafir, orang – orang fasik, orang – orang dhalim sebagai pendamping, oleh sebab itu Umar menjadikan orang – orang sholeh sebagai pendamping – pendamping beliau dan begitupula dengan orang – orang sholeh setelah mereka yaitu para salaf bahkan Umar bin Abdul Azis memiliki majelis setiap pekannya bersama dengan para ulama, para masyaikh  yang bernama Raja’ bin Haiwah Rahimahullah dan beliau mempersyaratkan bahwasanya dimajelis kita adalah majelis akhirat didalamnya tidak boleh membicarakan tentang dunia dan gibah.

Bersambung (Jadilah Pemaaf dan Penyabar Sesi 2)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 14 Jumadil Awal 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

ustadz harman tajang, pemaaf, memaafkan, sabar, kesabaran, bersabar, pendamping yang baik, pendamping yang buruk, tazkiyah, penyucian jiwa, penyucian hati, sifat pemaaf, keutamaan memaafkan dan kesabaran, markaz imam malik, sekolah tahfidz markaz imam malik, madrasah markaz imam malik, kuttab imam malik, darwis, memaafkan kesalahan orang lain, mencintai orang lain, kisah umar, khalifah umar, umar bin khattab, kecerdasan ibnu abbas, kemuliaan ibnu abbas

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR