عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّينُ النَّصِيحَةُ – ثَلاَثاً- قُلْنَا لِمَنْ? قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ – رواه مسلم

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Agama itu tiang penegaknya adalah nasihat -beliau mengulangnya tiga kali-.” Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapa nasihat itu?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, “Nasihat untuk Allah, kitab Allah, bagi Rasul Allah, para imam umat Islam dan orang awam dari kalangan mereka.” (HR. Muslim)


BACA JUGA: Jalan Islam Jalan Nasihat – Pembahasan Kitab Arba’in Nawawiyah Hadits Ketujuh (Bagian 1)

Bentuk nasihat yang ketiga kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah nasihat yang ditujukan kepada Rasulullah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menjadi panutan dan teladan bagi manusia. Karena itu amalan yang terbaik yang harus dilakukan untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah dengan mengikuti mengikuti sunnah-sunnah beliau dan tentu berusaha untuk menjauhkan diri untuk melakukan bid’ah yang menyelisihi sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya selama kamu berpegang dengan kedua-duanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnahku.” (HR Al-Hakim)

Oleh karena itu, nasihat kepada Al-Qur’an dan nasihat kepada Rasulullah tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain karena al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah dua hal yang saling berkaitan. Jadi tidak semestinya seorang muslim hanya mengikuti al-Qur’an saja atau hanya mengerjakan sunnah Rasulullah saja.

Yang keempat adalah nasihat yang diberikan untuk pemimpin kaum muslimin. Cara memberikan nasihat kepada pemimpin adalah dengan menaati kebijakannya selama perintah atau arahan tidak bertentangan dengan Agama Allah subhanahu wa ta’ala.
Termasuk pula cara memberikan nasihat kepada pemimpin adalah mengingatkannya jika pemimpin tersebut melakukan kesalahan.
Cara yang lain untuk bernasihat kepada pemimpin kata para Ulama adalah tidak memberikan pujian-pujian palsu kepada pemimpin.

Nasihat yang kelima kata Rasulullah adalah memberikan nasihat kepada masyarakat (saudara) kaum muslimin; nasihat ini dilakukan dengan cara menginginkan yang terbaik untuk mereka. Jika kita melihat saudara-saudara kita yang masih tergelincir dalam kemaksiatan, ingatkanlah mereka dengan ahsan serta ajaklah mereka untuk melakukan kebaikan.

Itulah penjelasan hadits ketujuh yang menjelaskan suatu inti penting dalam agama Islam bahwa seorang muslim dituntut untuk memiliki Sifat Nashihah (memiliki keinginan hati untuk menginginkan perbuatan atau amalan yang terbaik untuk orang lain).

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Ustadz Dr. Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si Hafidzahullahu Ta’ala
Ta’lim Kajian Kitab Arbain Nawawiyah – Masjid Nurul Hikmah MIM (Kamis, 23 Januari 2019)

Kunjungi Media MIM:
Website : http://mim.or.id
Fanspage Facenook: http://www.facebook.com/markazimammalikmakasar/
Youtube : http://www.youtube.com/c/MimTvMakassar
Telegram : http://telegram.me/infokommim
Instagram : http://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.