بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَرَدٌّ.   [رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَرَدٌّ ]

“Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dia berkata: Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda: “Siapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka dia tertolak.” (Riwayat Bukhari dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: “Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka dia tertolak.”


BACA JUGA: Jangan Berbuat Bid’ah – Pembahasan Kitab Arba’in Nawawiyah Hadist Kelima (Bagian 1)

Bid’ah secara bahasa adalah mengada-adakan sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya. Maka semua bentuk inovasi manusia dalam teknologi misalnya secara bahasa itu disebut sebagai bid’ah. Contohnya, dulu tidak ada pesawat, sekarang manusia terbang dengan pesawat. Contoh lain, dulu untuk berhubungan satu dengan yang lain harus mengirimkan pesan dengan menulis surat dan dikirimkan lewat burung merpati, sekarang ditemukan alat yang namanya telepon untuk berkomunikasi. Ini semuanya adalah bid’ah dari segi bahasa.

Bid’ah ini jika dibawa ke konteks syariat Islam, maka itulah yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam, mengada-adakan sesuatu yang baru kemudian melekatkan sesuatu yang baru itu sebagai ajaran Islam. Itulah yang dimaksudkan didalam hadist ini bahwa mengada-adakan sesuatu yang baru yang tidak pernah ada contoh sebelumnya kemudian dia sebut itu sebagai ajaran Islam, maka ini dikatakan Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam bahwa sesuatu yang baru itu tertolak.

Perbedaan bid’ah dari segi bahasa dengan bid’ah didalam agama adalah pertama “dia” sesuatu yang baru kemudian diklaim sebagai ajaran Islam; kedua karena “dia” diklaim sebagai ajaran Islam, maka orang yang mengerjakannya menyakini itu sebagai sebuah ibadah.

Termasuk pula bid’ah orang yang mengkafirkan pelaku dosa besar seperti yang dilakukan orang khawarij karena Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam tidak pernah mencontohkan demikian, seorang muslim yang melakukan dosa besar tidak boleh serta-merta dikeluarkan dari Islam. Maka keyakinan seperti ini juga termasuk Bid’ah.

Oleh karena itu, para Ulama mengatakan hadist pertama dari Kitab Arba’in Nawawiyah tentang niat dalam beribadah adalah paramater diterimanya amal kaitannya dengan hati kita pada saat melakukan amal itu karena ada hubungannya dengan niat. Kemudian Hadist kelima ini adalah parameter diterimanya amal kita dilihat dari sisi lahiriyahnya. Itulah sebabnya para Ulama menyimpulkan syarat diterimanya amal ada dua: Pertama Mengikhlaskan niat hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala; kedua amal itu dilakukan dengan Ittiba‘ (dengan mengikuti contoh yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam). Itulah sebabnya, jika kita meringkas perjalanan hidup kita didunia ini adalah untuk mewujudkan dua hal tersebut, semua yang kita kerjakan harus kita pastikan dua hal ini (mengerjakan amal dengan niat yang ikhlas dan mengerjakan amal sesuai petunjuk Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam).

Poin terakhir yang bisa kita petik didalam hadist ini bahwa sesungguhnya jika kita berkomitmen untuk menjalankan agama Islam ini sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam, maka kita akan dapatkan bahwa Islam ini adalah agama yang mudah. Oleh karena itu, orang yang membuat perkara baru dalam agama Islam (baca: bid’ah) sebenarnya dia hanya mempersulit dirinya sendiri. Cukuplah beribadah dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam.

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Ustadz Dr. Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si Hafidzahullahu Ta’ala
Ta’lim Kajian Kitab Arbain Nawawiyah – Masjid Nurul Hikmah MIM (Kamis, 2 Januari 2019)

Kunjungi Media MIM:
Website : http://mim.or.id
Fanspage Facenook: http://www.facebook.com/markazimammalikmakasar/
Youtube : http://www.youtube.com/c/MimTvMakassar
Telegram : http://telegram.me/infokommim
Instagram : http://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.