بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman didalam Al-Qur’an

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيه

Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya“. (QS. Abasa : 34-38).

Allah menggambarkan kondisi dan keadaan manusia dihari kemudian dimana ketika telah datang hari kiamat dan sangkakala telah ditiup kemudian manusia telah dibangkitkan untuk menuju Allah Subhanahu wata’ala, pada hari itulah manusia berusaha berhindar dari keluarganya, berlepas diri dari bapak dan ibunya, sahabat-sahabat serta anak – anaknya karena pada hari itu masing masing manusia sibuk dengan dirinya sendiri sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah dalam hadistnya:

إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا ثُمَّ قَرَأَ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

“Sungguh kalian akan dibangkitkan dalam keadaan tidak mengenakan sandal (pelindung kaki), telanjang dan masih berkulup (belum dikhitan)”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca firman Allah :”Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya”. (QS. Al- Anbiya : 21). (HR. Al-Bukhari).

Kita dikembalikan sebagaimana keadaan kita ketika lahir diatas bumi dalam keadaan telanjang, belum dikhitan tidak berpakaian dan tidak beralas kaki begitulah keadaan dan kondisi ketika dibangkitkan dari kubur – kuibur kita.

Dalam hadist yang lain:

يُحْشَرُ النَّاسُ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ جَمِيْعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ

Manusia digiring (di Padang Mahsyar) dalam keadaan tidak mengenakan sandal (pelindung kaki), telanjang dan masih berkulup (belum dikhitan)”. Lalu ‘Aisyah berkata: Aku bertanya:”Laki-laki dan perempuan semuanya? Sebagian mereka melihat sebagian lainnya?” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :“Keadaannya lebih mengerikan dari membuat mereka berpikir demikian”. (Muttafaqun ‘alaih).

Penafsiran yang lain dari ayat (QS. Abasa :34-38) Sebagaimana kata para Ulama bahwasanya setiap manusia berusaha menghindar dari orang – orang yang pernah berbuat dzalim kepadanya sampai seorang bapak yang pernah berbuat dzalim kepada istrinya, anaknya, saudaranya karena ia tahu ketika berdiri dihadapan Allah Subhanahu wata’ala dan pada pengadilan Allah yang mana tak satupun diantara makhluk yang tidak terdzalimi disisi Allah Subhanahu wata’ala. Tidak seperti didunia ini banyak orang yang berperkara yang datang ke pangadilan namun kemenangan belum tentu didapatkan oleh seseorang yang berada diatas kebenaran, oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam didalam hadistnya pernah berkata:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّهُ يَأْتِينِي الْخَصْمُ فَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَبْلَغَ مِنْ بَعْضٍ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ صَدَقَ فَأَقْضِيَ لَهُ ذَلِكَ فَمَنْ قَضَيْتُ
لَهُ بِحَقِّ مُسْلِمٍ فَإِنَّمَا هِيَ قِطْعَةٌ مِنَ النَّارِ فَلْيَأْخُذْهَا أَوْ لِيَتْرُكْهَا.

Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa. Ketika aku didatangi orang yang bertengkar, bisa jadi sebagian lebih fasih dari yang lain, sehingga aku menduga ia jujur. Lalu aku memutuskan untuk memenangkannya. Maka barangsiapa yang telah aku putuskan perkaranya namun mengambil hak seorang muslim, maka itu hanyalah bagian dari Neraka. Ia boleh mengambil, boleh pula meninggalkannya”. (HR. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (V/107, no. 2458), Shahiih Muslim (III/ 1337, no. 1713 (5)).

Adapun pengadilan Allah Subhanahu wata’ala tak satupun yang terdzalimi disisinya, oleh karenanya wahai orang yang berbuat dzalim ketahuilah bahwa kelak engkau akan berdiri dihadapan Allah Subhanahu wata’ala dan engkau akan dimintai pertanggung jawaban, dan wahai orang yang terdzalimi bergembiralah , berbahagialah karena yang berbuat dzalim akan dibalas oleh Allah Subhanahu wata’ala atas kedzaliman yang ia lakukan terhadapmu.

Rasulullah Shalalllahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada para sahabatnya bahwasanya setiap hak-hak yang tergadaikan didunia ini akan dikembalikan pada hari kemudian sampai seekor hewan yang bertanduk yang pernah menanduk hewan yang tidak memiliki tanduk akan dibangkitkan dihari kemudian untuk di qishas oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Suatu ketika Rasulullah berserta para sahabat diantaranya adalah Abu Dzar Al Gifari Radhiyallahu ‘anhu mereka melihat 2 ekor hewan yang saling menanduk antara yang satu dengan yang lain, Rasulullah bertanya kepada Abu Dzar :”Wahai Abu Dzar tahukah engkau apa sebab hewan itu menanduk hewan yang lain”, Abu Dzar berkata:”Allah dan Rasulnya lebih tahu”, beliau berkata:”Namun Allah tahu apa sebab ia menanduk hewan yang lain, keduanya pada hari kiamat akan dibangkitnkan kemudian diqishas dan setelah di qishas  Allah berkata kepada hewan tersebut :”Jadilah engkau tanah”,  dan pada saat hewan – hewan itu berubah menjadi tanah orang – orang kafir kemudian berkata:”Aduhai andaikan aku menjadi tanah saja”.

Mereka berkata demikian karena berdiri dihadapan Allah mempertanggungjawabkan apa yang pernah ia lakukan selama ia hidup dipermukaan bumi ini, dalam hadist yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Seorang perempuan disiksa gara-gara seekor kucing. Dia mengurung kucing itu sampai mati. Karena itulah dia masuk neraka. Perempuan itu tidak memberi makan dan minum kepadanya -tatkala dia kurung-. Dan dia pun tidak melepaskannya supaya bisa memakan serangga atau binatang tanah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika saja hewan diqishas dihari kemudian bahkan menjadi sebab wanita itu dihukum karena mendzalimi seekor kucing lalu bagaimana jika kedzaliman itu terjadi diantara manusia, oleh karenanya Allah Subhanahu wata’ala mewanti– wanti kita didalam Al-Qur’an untuk berhati – hati dari kedzaliman apapun bentuk dan jenisnya, Allah berfirman didalam Al-Qur’an:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ * مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لَا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ ۖ وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاءٌ

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mangangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip dan hati mereka kosong. (QS. Ibrahim: 42-43).

Bahkan ketika doa orang-orang yang terdzalimi diangkat kelangit Allah berkata kepadanya:“Demi kemuliaanku dan demi kekuasaanku aku akan menolongmu walaupun sekian waktu yang berlalu”.

Dalam hadist yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala terkadang memberi tangguh kepada orang – ornag yang berbuat dzalim dengan kedzalimannya namun ketika ia diambil dan dihukum oleh Allah maka tidak ada yang mampu menyelamatkannya kemudian Rasulullah membaca firman Allah:”Demikianlah hukuman Allah  kepada suatu kaum yang berbuat dzalim, sesungguhnya hukumannya sangatlah pedih dan dahsyat disisi Allah”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan:

اِتَّقِ دَعْوةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”. (Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38).

Kata para ulama kedzaliman terbagi menjadi 3:

  1. Kedzaliman seorang hamba kepada tuhannya

Bentuk kedzaliman seorang hamba kepada Allah dijelaskan didalam Al-Qur’an lewat lisan hamba yang sholeh bernama Lukman Hakim , Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman: 13).

Dalam ayat yang lain:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An Nisa’: 48). Dalam artian ketika ia meninggal dalam kesyrikannya dan belum sempat bertaubat maka sebanyak papapun amalannya tidka akan bermanfaat dihari kemudian.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Az Zumar: 65).

Dalam hadits dari Jabir, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

Barangsiapa yang mati dalama keadaan tidak berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang mati dalam keadaan berbuat syirik pada Allah, maka ia akan masuk neraka”. (HR. Muslim no. 93).

  1. Kedzaliman seorang hamba kepada dirinya sendiri

Yaitu ketika ia meninggalkan perintah Allah Subhanahu wata’ala dan terjatuh dalam pelanggaran dan kemaksiatan, ketahuilah bahwa Allah tidak rugi dengan pembangkangan  yang kita lakukan, kemaksiatan yang kita kerjakan, kesombongan kita tampakkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadist qudsi:

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga”. (HR. Muslim no. 2577).

Terkadang ketika kita mengajak orang kepada kebaikan dia berkata:”Uruslah dirimu sendiri“, dan kadang pula ada yang ketika dicegah dari kemungkaran ia berkata:”Jangan perdulikan diriku”, padahal kita menawarkan kebaikan kepadanya agar mendapatkan hidayah untuk keselamatannya, sholat yang kita tunaikan tidak akan dinikmati oleh siapapun  akan tetapi pahalanya kita yang akan menikmatinya dihari kemudian begitupula dengan kedzaliman tidak akan didapatkan balasannya kepada orang lain kecuali yang melakukannya, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ ۚ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan”. (QS. Al-An’am: 164).

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri“. (QS. Yunus: 44).

  1. Kedzaliman seorang hamba kepada saudaranya yang lain

Kedzaliman seorang hamba kepada saudaranya yang lain adalah kedzaliman yang sangat berbahaya didunia sebelum diakhirat dan tidak ada dosa yang dipercepat hukumannya didunia ini kecuali perbuatan dzalim kepada orang lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Sesungguhnya orang – orang yang berbuat dzalim itu akan tahu buah dari kedzaliman yang mereka lakukan“.

Fir’aun yang berbuat dzalim kepada kaumnya begitupula qarun, haman dan penguasa yang lain yang berbuat dzalim dizamannya, namun pada hari ini tidaklah mereka disebut melainkan didoakan laknat kepadanya, Rasulullah berpesan didalam hadistnya

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

Siapa yang pernah menzalimi saudaranya berupa menodai kehormatan atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman tersebut hari ini. Sebelum tiba hari kiamat yang tidak akan bermanfaat lagi dinar dan dirham. Pada saat itu bila ia mempunyai amal shalih maka akan diambil seukiran kezaliman yang ia perbuat. Bila tidak memiliki amal kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil kemudian dibebankan kepadanya”. (HR. Bukhari no. 2449).

Olehnya karenanya jauhilah kedzaliman dan selesaikan kedzaliman yang pernah kita kerjakan kepada orang lain karena kedzaliman adalah kegelapan pada hari kiamat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنﱠ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Jagalah diri kalian dari perbuatan zalim, karna sesungguhnya kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat”. (Hadits Shahih, Riwayat Ahmad. Lihat Shahiihul jaami’ no.101).

Selesaikan kedzaliman kita dengan meminta maaf kepada orang – orang yang kita dzalimi sebelum tiba hari dimana tidak ada lagi maaf kecuali pahala yang kita kerjakan diambil oleh orang yang didzalimi sebagaimana dalam hadist Rasulullah menyebutkan orang yang bangkrut pada hari kiamat disebabkan karena kedzaliman, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab,”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka“. (HR. HR Muslim no. 2581, at Tirmizi no. 2418 dan Ahmad (2/303, 334, 371), dari Abu Hurairah).

Termasuk kedzaliman yang paling berbahaya adalah mengambil hak orang lain seperti harta milik mereka,  apalagi yang diserahi amanah dan kewenangan namun ia mengambil uang dari orang yang ia pimpin dengan cara yang dzalim. Betapa banyak pada hari kiamat orang yang datang meminta keadilan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan betapa ruginya orang – orang yang akan dihisab kedzalimannya pada hari kiamat, oleh karenanya kita berlindung kepada Allah dari perbuatan kedzaliman untuk berbuat dzalim kepada orang lain, diantara cara berlindung dari sifat kedzaliman adalah dengan senantiasa membaca doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kemiskinan, kehinaan. Dan aku berlindung kepada-Mu jangan sampai aku mendzalimi atau didzalimi”. (HR. Ahmad 8053, Abu Daud 1546 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Jum’at, 05 Rabiul Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR