Saudariku Muslimah..
Cerita akan negeri terjajah Palestina tentu belum hilang diingatan kita, bagaimana tiap jengkal tanahnya menjadi saksi penderitaan kaum muslimin yang tak selayaknya mereka dapatkan sebagai penduduk asli setempat.

Beberapa bulan kemarin, kita kembali dikejutkan dengan berita penindasan dan pembantaian di Suriah, bagian dari negeri Syam, negeri yang pertama kali dibuka oleh khalifah Umar bin Khattab Rhadiayllahu ‘anhu , kaum muslimin terusir dari negerinya sendiri.

Dan hari ini, hal serupa melanda kaum muslimin di Burma (dulu Myanmar), Warga Arakan atau Rohingya yang sebenarnya telah menempati negeri Burma sejak masa Khalifah Harun ar Rasyid, abad ke-7 Masehi, sebelum Myanmar ada, kini harus terusir dari negerinya karena dianggap minoritas dan bukan sebagai bagian dari Burma.

Sebenarnya penindasan yang dialami saudara-saudara kita di Burma bukanlah baru-baru ini saja, penderitaan mereka telah berpuluh tahun. Sayangnya, pemerintah Myanmar seoalah tak mau peduli, masalah yang terkait perlindungan HAM dan tempat tinggal seolah tak mendapat perhatian, hingga kaum mayoritas Budha semakin semena-mena dalam memperlakukan mereka.

Sebagian dari mereka akhirnya hidup terkatung-katung di dalam negeri sendiri dan sebagiannya lagi melarikan diri ke negeri-negeri tetangga seperti Bangladesh untuk mencari perlindungan HAM.

Penindasan demi penindasan terus digencarkan oleh kaum Budha, mulai dari pengusiran sampai pembantaian yang brutal, tak sedikit dari orang tua, anak-anak bahkan wanita warga Arakan yang menjadi korban kezhaliman mereka.

Dalam angka-angka, republika.co.id melaporkan bahwa hampir 650 dari hampir satu juta Muslim Warga Arakan tewas selama bentrokan terjadi di wilayah barat Rakhine, Myanmar. Sementara 1200 lainnya hilang dan 90 ribu lebih terlantar. Bahkan hari ini, para pendeta Budha memerintahkan pemblokiran bantuan kemanusiaan ke provinsi Arakan, segala bentuk sumbangan dialihkan, bahkan mereka membuat pamflet-pamflet yang berisi larangan untuk bergaul dengan Muslim Arakan.

Beberapa waktu yang lalu perwakilan United Nations, Mr Tomas Ojea Quintana, berkunjung ke Burma, dan sandiwara yang apik pun dimainkan oleh pasukan Budha agar seolah keadaan di Arakan baik-baik saja, diantaranya :

1.Memaksa para pemimpin Arakan di Maung Daw dan Buthidaung untuk melaporkan bahwa keadaan aman . Adapun Muslim yang ditangkap oleh kerajaan adalah yang melakukan pemberontakan.
2.Pihak kerajaan berpura-pura memberikan bantuan makanan kewarga Arakan, yang kemudian diambil kembali setelah sesi foto dokumentasi diambil.
3. Masjid-masjid dicat dan dipercantik
4. Pimpinan kaum mayoritas Budha mengunjungi kemah-kemah kaum muslim Arakan dan bersikap manis dengan memanggil mereka saudara, agar terkesan hubungan mereka sangatlah harmonis.

Saudariku Muslimah…
Tentu apa yang telah dialami oleh saudara-saudara kita di palestina, Suriah, juga Burma bukanlah penderitaan mereka saja. Tapi adalah penderitaan bagi seluruh kaum muslimin. Persaudaraan antar muslim tidaklah terbatas ruang, waktu, dan suku. Namun, lebih luas dari semua itu, sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Alaa : “ dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman. walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.” ( QS. Al Anfal : 63 )

Ketika berita penindasan dan pembantaian kaum muslimin terdengar di telinga, tentu akan menyulut amarah seluruh kaum muslimin diseluruh dunia, tak terkecuali kita disini, Indonesia. Muslim Arakan yang digambarkan oleh PBB sebagai Palestina dari Asia dan kaum minoritas paling teraniya di dunia adalah tetangga kita, maka kita berkewajiban untuk membantu dan mengambil peran untuk menuntaskan permalasahan mereka.

Namun pula tidak tergesa-gesa dalam bertindak, kita tak perlu menggerakkan pemuda-pemudi Islam untuk berdemonstrasi, meneriakkan kemerdekaan muslim Arakan, karena hal demikian bisa menjadi pemicu dari hal-hal yang semakin memperkeruh permasalahan.

Tidaklah pula kita harus terpancing dengan media pemberitaan yang berujung bentrokan antarumat beragama. Karena Islam yang mulia ini telah mengajarkan kita saling menghargai dan bukan saling menghakimi atau balas dendam tak bertanggungjawab. Islam telah mengatur segalanya lebih hikmah, dan lebih bijaksana. Tanpa harus mencoreng nama kaum muslimin dan Islam sendiri.

Maka, Saudariku Muslimah..
Saatnya kita berhenti sejenak, merenungi segala apa yang tengah terjadi atas umat Islam. Mengapa ujian demi ujian menghampiri kita, terasa tak ada henti-hentinya. Ingatlah ketika Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman : “ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” ( QS. Al Baqarah : 214 )

Maka kita tak perlu galau, kita tak perlu tergesa dalam berprasangka pada-Nya. Tiap ujian yang melanda kaum muslimin tidaklah selamanya hukuman, bahkan ia adalah cobaan untuk menguatkan kita di jalan perjuangan menegakkan kalimat tauhid. Semakin banyaknya ujian yang datang, maka semakin mengajarkan kita kesetiaan pada Allah ‘Azza waJalla,untuk tetap berpegang teguh pada dinul Islam.

Lihatlah saudara-saudara seiman kita di Palestina, Suriah, pun Burma saat ini. Ketika penderitaan belum beranjak pergi dari hari-hari mereka, ketika ketenangan hidup yang kita rasakan di negeri ini belum mereka rasakan pula, ketika tiap waktunya tak terlewatkan dengan rintihan kesakitan dan kelaparan. Semuanya tidaklah menjadikan mereka lemah dalam bertauhid, malah menjadikan mereka semakin yakin untuk berpegang hanya pada tali pertolongan Allah Subhanallahu wa ta’ala tanpa hendak menyerah pada kezhaliman pasukan-pasukan durjana Israel, Pemimpin yang Zhalim atau pada kaum mayoritas negeri mereka.

Mereka hanya butuh do’a dan dukungan kita, jikalau bantuan materi atau pergerakan tak mampu kita berikan. Mereka butuh perlindungan HAM yang bisa kita salurkan lewat dukungan-dukungan suara untuk mereka. Mereka butuh kita, saudara seiman untuk menyebarkan kekuatan Islam dan menegakkan kebangkitan umat dengan semangat dan mujahadah yang tak pernah putus asa atas cobaan.

Disinilah kita. Di tempat yang jauh dari mereka, namun dengan ikatan iman dan do’a untuk seluruh kaum muslimin maka kebersamaan yang akan menjadikan kekuatan mampu kita rasakan. InsyaAllah!

#dheear

*catatan 31 Juli 2012, permintaan redaksi salah satu majalah Islam

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR