بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

1. Sifat Orang Yang Bertakwa

Allah Subhanahu wata’ala mensifatkan dalam Al-Qur’an ciri-ciri orang yang beriman:

     تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.“. (QS. As Sajadah: 16-17).

Yang dimaksudkan adalah balasan surga bagi orang – orang yang bertakwa dan beriman kepadanya, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا

“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa (yang menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah)”. (QS. Maryam : 63).

Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk meminta surga yang paling tinggi, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Di surga itu terdapat seratus tingkatan, Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah, jarak antara keduanya seperti antara langit dan bumi. Karena itu, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus, karena sungguh dia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya ada Arsy Sang Maha Pengasih, dan darinya sumber sungai-sungai surga”. (HR. Bukhari 2790 & Ibnu Hibban 4611).

2. Kisah Penghuni Surga Yang Paling Rendah

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah Radhyiallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ مَا أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً قَالَ هُوَ رَجُلٌ يَجِيءُ بَعْدَ مَا أُدْخِلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ فَيُقَالُ لَهُ ادْخُلْ الْجَنَّةَ فَيَقُولُ أَيْ رَبِّ كَيْفَ وَقَدْ نَزَلَ النَّاسُ مَنَازِلَهُمْ وَأَخَذُوا أَخَذَاتِهِمْ فَيُقَالُ لَهُ أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلْكِ مَلِكٍ مِنْ مُلُوكِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ رَضِيتُ رَبِّ فَيَقُولُ لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ فَقَالَ فِي الْخَامِسَةِ رَضِيتُ رَبِّ فَيَقُولُ هَذَا لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ وَلَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ وَلَذَّتْ عَيْنُكَ فَيَقُولُ رَضِيتُ رَبِّ قَالَ رَبِّ فَأَعْلَاهُمْ مَنْزِلَةً قَالَ أُولَئِكَ الَّذِينَ أَرَدْتُ غَرَسْتُ كَرَامَتَهُمْ بِيَدِي وَخَتَمْتُ عَلَيْهَا فَلَمْ تَرَ عَيْنٌ وَلَمْ تَسْمَعْ أُذُنٌ وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ قَالَ وَمِصْدَاقُهُ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ { فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ } الْآيَةَ

“Musa bertanya kepada Rabbnya, “Apa ciri penghuni surga yang paling rendah kedudukannya?” Allah menjawab, “Yaitu orang yang datang setelah semua penghuni surga dimasukkan ke dalam surga.” Lalu dikatakan kepada orang ini, “Masuklah ke surga!” Orang ini menjawab, “Wahai Rabbku, bagaimana mungkin aku bisa masuk, sementara mereka sudah menempati tempat masing-masing dan mengambil bagian mereka?” Maka dikatakan kepada orang ini, “Apakah kamu mau mendapatkan bagian kerajaan seperti seorang raja di antara raja-raja dunia?” Orang itu menjawab, “Aku rela, wahai Rabbku.” Rabb mengatakan, “Itu bagianmu ditambah seperti itu, ditambah seperti itu, ditambah seperti itu,” pada kali kelima, orang itu mengatakan, “Aku rela, wahai Rabbku.” Rabb mengatakan, “Ini bagianmu ditambah sepuluh kali lipatnya. Dan kamu mendapatkan apapun yang kamu inginkan dan matamu menyukainya.” Orang itu mengatakan, “Aku rela, wahai Rabbku.” Musa mengatakan, “(Bagaimana dengan) orang yang paling tinggi kedudukannya?” Rabb menjawab, “Mereka itu, orang pilihan-Ku, kemuliaan mereka di tangan-Ku, dan Aku menutup (kemulian itu), ia belum pernah terlihat mata, belum pernah terdengar telinga dan belum pernah terdetik dalam hati.” Perawi berkata, “Dalilnya terdapat dalam firman Allah, “Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang disembunyikan dari mereka …” sampai akhir ayat. (QS. As-Sajdah: 17). (HR. Muslim no. 189)

Didunia ini kita menginginkan sesuatu harus bekerja keras untuk mendapatkannya adapaun nanti didalam surga apapun telah disiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala yang berkuasa atas segala sesuatunya yang pemilik kerajaan langit dan bumi.

Dalam riwayat Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwasanya lelaki yang paling terakhir masuk kedalam surga ia berjalan tertatih – tatih diatas sirath dan setiap diantara kita akan melewati jembatan sirath tersebut, Allah Subhahanahu wata’ala berfirman:

“…dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu, hal itu bagi Tuhanmu adalah kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS Maryam:71-72)yang disifatkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:

بَلَغَنِي أَنَّ الْجِسْرَ أَدَقُّ مِنَ الشَّعْرَةِ، وَأَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ

“Shirath itu lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang”. (HR. Muslim no. 183).
dan yang menyelamatkan kita pada hari itu adalah Allah Subhanahu wata’ala dengan sebab amalan – amalan sholeh yang pernah dikerjakan didunia. Nabi kita menyebutkan:

وَتُرْسَلُ الْأَمَانَةُ وَالرَّحِمُ، فَتَقُومَانِ جَنَبَتَيِ الصِّرَاطِ يَمِينًا وَشِمَالًا، فَيَمُرُّ أَوَّلُكُمْ كَالْبَرْقِ ” قَالَ: قُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَيُّ شَيْءٍ كَمَرِّ الْبَرْقِ؟ قَالَ: ” أَلَمْ تَرَوْا إِلَى الْبَرْقِ كَيْفَ يَمُرُّ وَيَرْجِعُ فِي طَرْفَةِ عَيْنٍ؟ ثُمَّ كَمَرِّ الرِّيحِ، ثُمَّ كَمَرِّ الطَّيْرِ، وَشَدِّ الرِّجَالِ، تَجْرِي بِهِمْ أَعْمَالُهُمْ وَنَبِيُّكُمْ قَائِمٌ عَلَى الصِّرَاطِ يَقُولُ: رَبِّ سَلِّمْ سَلِّمْ، حَتَّى تَعْجِزَ أَعْمَالُ الْعِبَادِ، حَتَّى يَجِيءَ الرَّجُلُ فَلَا يَسْتَطِيعُ السَّيْرَ إِلَّا زَحْفًا “، قَالَ: «وَفِي حَافَتَيِ الصِّرَاطِ كَلَالِيبُ مُعَلَّقَةٌ مَأْمُورَةٌ بِأَخْذِ مَنِ اُمِرَتْ بِهِ، فَمَخْدُوشٌ نَاجٍ، وَمَكْدُوسٌ فِي النَّارِ»

Lalu diutuslah amanah dan rahim (tali persaudaraan), keduanya berdiri di samping kiri dan kanan shirath tersebut. Orang yang pertama melewatinya seperti kilat. Aku bertanya, “Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab , “Tidakkah kalian pernah melihat kilat, bagaimanakah kilat lewat (datang) dalam sekejap mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung, dan seperti kuda yang berlari kencang. Mereka melintas sesuai dengan amal perbuatan mereka. Ketika itu, Nabi kalian berdiri di atas shirath sambil berkata, “Ya Allah,selamatkanlah! Selamatkanlah! Sampai (giliran) para hamba yang lemah amalnya, sehingga datanglah orang tersebut lalu dia tidak bisa melewatinya kecuali dengan merangkak.” Beliau bersabda (lagi), “Di kedua sisi shirath terdapat besi pengait yang bergantungan untuk menyambar siapa saja yang diperintahkan untuk disambar. Maka ada yang terpeleset namun selamat dan ada pula yang terjungkir ke dalam neraka”. (HR. Muslim no. 195).

Penghuni surga yang paling terakhir kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Ia berjalan tertatih – tatih hampir ia masuk kedalam nereka kemudian ia kembali lagi melanjutkan perjalanannya sampai ketika ia tiba diujung jembatan ia kemudian menengok kepada neraka yang ia diselamatkan darinya lalu berkata:“Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala yang telah menyelamatkan aku dari mu.

Pada hari itu ia mengira bahwa hanya dia yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala padahal penghuni surga telah masuk kedalam surga, dalam kondisi demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Tiba – Tiba dimunculkan dihadapannya sebuah pohon yang rindang yang berbuah dengan buah yang sangat lebat”, Lelaki ini kemudian berkata:”Ya Allah Izinkan aku untuk berada dibawah pohon  tersebut  biarkan aku bernaung dibawahnya dan memakan buahnya”, Allah kemudian berkata:”Jangan sampai setelah saya mengizinkanmu untuk berada dibawah pohon itu dan memakan buahnya engkau masih meminta yang lain”, ia kemudian berkata:”Demi kemuliaanmu Ya Rabb, saya tidak akan meminta selain dari itu”, Ketika Allah Subhanahu wata’ala melihat ketidaksabarannya, Allah mengizinkannya untuk bernaung dibawahnya, memakan buahnya dan meminum airnya.

Pada saat itu Rasulullah berkata:”Tiba –tiba dihadapannya muncullah pohon yang kedua yang lebih rindang dan lebih lebat buahnya”, ia kemudian lupa janjinya kepada Allah lalu berkata:”Ya Rabb, izinkan aku untuk berada di pohon itu (Diantara tabiat manusia tatkala ia belum mendapatkan sesuatu ia berjanji dan berjanji namun ketika mendapatkan apa yang ia inginkan iapun lupa dengan janjinya-penj). Allah Subhanahu wata’ala berkata:”Wahai hambaku, bukankah engkau sebelumnya berjanji untuk tidak meminta selain yang telah engkau dapatkan”, lelaki ini kemudian berkata:”Tidak Ya Rabb”, Allah melihat ketidaksabaran hamba tersebut lalu mengizinkan ia untuk mendekati pohon yang kedua, menikmatinya dan bernaung dibawahnya serta memakan buahnya,

Lalu dimunculkan pohon ketiga yang mana ia telah berjanji sebelumnya tidak meminta yang lain,namun Allah Subhanahu wata’ala yang maha kuasa memunculkan pohon yang ketiga yang lebih indah, rindang dan lebat dari 2 pohon sebelumnya, ia kemudian berkata:”Ya Rabb, dekatkanlah aku dengan pohon itu, biarkan aku bernaung dibawahnya , meminum airnya dan memakan buahnya”, Allah kemudian berkata:”Wahai hambaku, betapa cepat engkau lupa dengan  janjimu sesungguhnya engkau telah berjanji untuk tidak meminta yang lain”, ia kemudian berkata:”Tidak Ya Rabb”, dan Allah melihat ketidaksabarannya memberikan izin kepada hambanya tersebut dimana pohon yang ketiga telah berada di dekat pintu surga, ketika ia telah berada didekat pintu surga ia kemudian melihat surga dengan segala fasilitas yang ada didalamnya lalu berkata:”Ya Rabb tolong masukkan aku kedalam surga dan ketika telah diizinkan dan dimasukkan kedalam surga kemudian ditampakkan kepadanya seakan akan surga telah penuh”.

Padahal luasnya surga sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Hadiid: 21).

Ia kemudian berkata:”Ya Rabb, surga telah penuh, kamar – kamar dan istana – istana telah dihuni, para bidadari telah dinikahkan, mereka semua telah mengambil bagiannya, saya tidak memiliki lagi bagian  Ya Rabb”, Allah berkata kepada hamba tarsebut:”Wahai hambaku maukah engkau aku jadikan seperti seorang penguasa yang pernah berkuasa di dunia atau maukah engkau aku berikan seperti dunia dan isinya”, Ia kemudian berkata:”Tentu Ya Allah”.

Sebelumnya ia berkata:”Ya Allah apakah engkau mempermainkan aku sedangkan engkau adalah tuhan semesta alam”, Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu ketika menceritakan hadist ini beliau tertawa, beliau kemudian berkata kepada sahabat yang mendengarkan hadist tersebut :”Apakah engkau tidak bertanya mengapa saya tertawa”, mereka lalu berkata:”Mengapa anda tertawa wahai Ibnu Mas’ud”, Ibnu Mas’ud menjawab:”Karena ketika Nabi menceritakan kepadaku beliau tertawa dan beliau berkata:”ketika Allah menceritakan kepadanya lewat jibril ‘Alaihissalam  Allah juga tertawa”.

Allah Subhanahu wata’ala tertawa kepada hamba yang terakhir masuk surga tersebut dan apa yang ia inginkan diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan bahkan Allah Subhanahu wata’ala berkata:”Wahai hambaku, mintalah apa yang engkau mau”, ia berkata:”Saya ingin ini ya Allah (ia menyebutkan seluruh keinginannya  satu persatu dan Allah menjawab setiap keinginannya dengan berkata:”Engkau akan dapatkan”.  Sampai yang terakhir apa yang ia inginkan terputus (tidak ia ketahui lagi apa yang ia minta), pada saat itu Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan kepadanya dengan berkata:”Apakah engkau mau ini”, ia berkata:”Mau Ya Allah”,  Allah kembali berkata kepadanya dengan perkataan yang sama lalu ia menjawab:”Mau Ya Allah”.

3. Kenikmatan Surga Yang Paling Tinggi

Inilah kisah yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kenikmatan surga yang paling rendah Kemudian Nabi Musa kembali berkata:”Lalu kenikmatan surga yang paling tinggi seperti apa Ya Rabb”, Rabb menjawab:“Mereka itu, orang pilihan-Ku, kemuliaan mereka di tangan-Ku, dan Aku menutup (kemulian itu),

أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر

“Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu, yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas oleh hati manusia…”

“Seorang pun tak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. As-sajdah 17).

4. Tingkatan Penghuni Surga

Penghuni surga derajatnya bertingkat – tingkat keatas adapun neraka bertingkat – tingkat kebawah satu tingkatan dengan tingkatan yang lain bisa jadi jaraknya seperti langit dan bumi, Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan penghuni neraka yang paling bawah:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka“. (QS. An Nisaa: 145).

Diantara penghuni surga ada yang dimasukkan bersama dengan orang – orang yang pertama kali dimasukkan kedalam surga bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ada yang dimasukkan setelah mereka dan ada yang dimasukkan kedalam neraka untuk menghapus dosanya kemudian dimasukkan kedalam surga, sebagaimana Aqidah ahlusunnah waljama’ah terhadap pelaku dosa besar yang pada hari kiamat berada dalam kehendak Allah Subhanahu wata’ala, jika Allah berkehendak dimasukkan kedalam surga maka ia dimasukkan kedalam surga dengan keluasan rahmatnya dan jika Allah berkehendak ia dimasukkan terlebih dahulu kedalam  neraka untuk dicuci dosanya kemudian dimasukkan kedalam surga sebagaimana dalam firmannnya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.(QS. An Nisa’: 48).

Ada yang diantar kedalam surga, sebagaimana dalam firmannya:

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya“.(QS. Az Zumar: 73).

Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam setelah mereka melewati sirath para penghuni surga akan terkurung disebuah jembatan antara surga dan neraka dan disanalah mereka dibersihkan dari dosa kezaliman yang pernah ia lakukan dulu didunia dibayar habis ditempat tersebut kemudian setelah itu ia dimasukkan kedalam surga.

5. Golongan Yang Didekatkan Surga Kepadanya

Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu ketika membaca ayat diatas beliau tidak mau termasuk golongan tersebut karena masih ada golongan yang lebih tinggi, ketika ada yang diantar menuju surga sebaliknya ada penghuni surga dimana surga yang datang menjemputnya dia tidak bersusah payah dan capek untuk digiring menuju surga sebagaimana disebutkan golongan tersebut didalam Al-Qur’an, Allah Azza wa jalla berfirman tatkala orang – orang yang bertakwa didekatkan surga kepadanya sebagaimana dalam firmannya:

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (٣١) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (٣٢) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (٣٣) ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (٣٤) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (٣٥)

  1. Sedangkan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh (dari mereka).
  2. (Kepada mereka dikatakan), “Inilah nikmat yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang senantiasa bertobat (kepada Allah) dan memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).
  3. (Yaitu) orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih, sekalipun tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat,
  4. masukilah ke (dalam surga) dengan aman dan damai. Itulah hari yang abadi.”
  5. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannya. (QS. Qaf : 32 – 35).

Diantara 4 Golongan Orang Yang Dirindukan Surga  yang disebutkan dalam surah Qaf : 32 – 33 adalah:

  1. Orang yang kembali kepada Allah setelah melakukan dosa dan maksiat

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka dengan mengingat Allah dan kebenaran yang diturunkan. Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang sebelumnya yang telah diberikan Al Kitab, masa yang panjang mereka lalui (dengan kelalaian) sehingga hati mereka pun mengeras, dan banyak sekali di antara mereka yang menjadi orang-orang fasik.” (Al Hadid: 16).

Mereka ingat kepada Allah tatkala ditimpa was – was syaithan Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ () وَإِخْوَانُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ ثُمَّ لا يُقْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan).” (QS. Al-A’raf: 201-202).

2. Orang yang menjaga batasan – batasan Allah 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))

Abdullah bin ‘Abbas –Radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”.( HR. At Tirmidzi no. 2516).

Apakah Allah butuh dijaga “tidak” karena dia adalah sebaik – baik penjaga, dialah Allah yang menjaga makhluknya, tapi menagapa Allah mengatakan jagalah Allah maksudnya adalah jagalah batasan – batasan Allah baik berupa perintah maupun larangan, kita berusaha mengerjakan perintah Allah Subhanahu wata’ala sesuai dengan kemampuan kita dan menjaga diri kita dari apa yang dilarang dan diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala demi mengharapkan keridhoan Allah azza Wa jalla dan keridhoan Allah lebih besar dari segala galanya.

3. Orang yang takut kepada Allah tatkala bersendirian (tidak ada yang melihatnya)

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ (12) وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (13) أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ (14) هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ (15)

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya di saat mereka tidak tampak di hadapan yang lainnya, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS. Al Mulk: 12-15).

Tingkat ketakwaan yang paling tinggi adalah “Muraqabatullah“, ketika dorongan syahwat itu mengggoda dan memiliki kesempatan untuk berbuat maksiat namun ia takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Jangan engkau menjadikan Allah menjadi hina dimatamu yang melihat apa yang engkau lakukan, kalau saja seseorang tidak berani bermaksiat ketika anak kecil berada didekatnya lalu ia suruh pergi, lalu kenapa ia tidak takut kepada Allah Subhanahu wata’ala yang maha melihat.

4. Yang datang kepada Allah dengan hati yang kembali kepadanya

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ,  إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. Asy Syu’aro’: 88-89).

Ketika mereka merasakan kenikmatan dalam surga kemudian penghuni neraka juga merasakan siksa yang pedih tiba – tiba ada sebuah panggilan diantara surga dan neraka sebagaimana dalam hadist, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحٍ فَيُنَادِي بِهِ مُنَادٍ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ! فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقًُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ, وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ, ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ وَكُلُّهْمْ قَدْ رَآهُ فَيُذْبَحُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يَقُوْلُ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, ثُمَّ قَرَأَ (وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الأَمْرُ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ وَهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ) وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الدُّنْيَا

Dari Abu Sa’id al-Khudri berkata: Rasulullah bersabda: “Kematian didatangkan pada bentuk kambing berkulit hitam putih, lalu seorang penyeru memanggil: Wahai penduduk surga! Mereka menengok dan melihat, penyeru itu berkata: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, mereka semua telah melihatnya. Kemudian penyeru memanggil: Wahai penduduk neraka! Mereka menengok dan melihat, penyeru itu berkata: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, mereka semua telah melihatnya, lalu disembelih diantara surga dan neraka, lalu berkata: Wahai penduduk surga, kekekalan tiada kematian setelahnya, dan hai penduduk neraka, kekekalan dan tiada kematian setelahnya, lalu beliau membaca (Dan berilah mereka peringatan tatkala ditetapkan perkara sedangkan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman). Dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke dunia”.(Bukhari 4730, 6549, Muslim 2849).

Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu pernah minum seteguk air lalu beliau menangis kemudian sahabat yang lain berkata” Ya Ibnu Mas’ud apa yang membuat anda menangis” beliau berkata:”Barusan saya meminum seteguk air dan saya ingat nanti penghuni neraka permintaan mereka cuman satu tapi permintaan mereka tidak dikabulkan oleh Allah”.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ ۚ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ

Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir”.(QS. Al – Araf: 50).

Penghuni neraka itu akan dihalangi dari apa yang mereka inginkan adapun penghuni surga mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Semoga kita termasuk penghuni surga  yang ditempatkan pada derajat yang tertingi bersama rasulullah dan para sahabatnya.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 10 Syawal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR