Telah tercatat dalam sejarah, bahwa tak seorang pun sahabat yang berani mengajukan masukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pernikahan beliau setelah wafatnya Ummul Mukminin at-Thahirah Khadijah yang telah mengimani beliau di saat manusia mengkufurinya, menyerahkan seluruh hartanya di saat orang lain menahan bantuan terhadapnya, dan bersamanya pula Allah mengaruniakan kepada Rasul putra-putri.

Akan tetapi, hampir-hampir kesusahan menjadi berkepanjangan hingga Khaulah binti Hakim memberanikan diri mengusulkan kepada Rasulullah dengan cara yang lembut dan ramah:

Khaulah : Tidakkah Anda ingin menikah ya Rasulullah?

Nabi : (Beliau menjawab dengan suara sedih) dengan siapa saya akan menikah setelah dengan Khadijah?

Khaulah : Jika Anda ingin bisa dengan seorang gadis dan bisa pula dengan janda

Nabi : Jika dengan seorang gadis, siapakah gadis tersebut?

Khaulah : Putri dari orang yang paling Anda cintai yakni Aisyah binti Abu Bakar

Nabi : (setelah beliau diam untuk beberapa saat kemudian bertanya) Jika dengan seorang janda?

Khaulah : Dia adalah Saudah binti Zam’ah, seorang wanita yang telah beriman kepada Anda dan mengikuti apa yang Anda bawa

Beliau adalah Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdi Syams bin Abud al-Qursyiyah al-Amiriyyah. Ibunya bernama asy-Syamus binti Qais bin Zaid bin Amru dari Bani Najjar. Beliau juga seorang sayyidah yang mulia dan terhormat. Sebelumnya pernah menikah dengan as-Sakar bin Amru saudara dari Suhail bin Amru al-Amiri. Suatu ketika beliau bersama delapan orang dari Bani Amir hijrah meninggalkan kampung halaman dan hartanya, kemudian menyebrangi dahsyatnya lautan karena ridha menghadapi maut dalam rangka memenangkan diennya. Semakin bertambah siksaan dan intimidasi yang dialami, karena mereka menolak kesesatan dan kesyirikan. Hampir-hampir tiada hentinya ujian menimpa Saudah belum usai ujian tinggal di negeri asing (Habsyah), beliau harus kehilangan suami beliau sang muhajir. Maka beliau pun menghadapi ujian menjadi seorang janda di samping juga ujian di negeri asing.

Rasulullah shallallahu alahi wa sallam menaruh perhatian istimewa terhadap wanita tersebut. Oleh karena itu Khaulah binti Hakim as-Salimah menawarkan Saudah untuk beliau hingga pada gilirannya beliau mengulurkan tangannya yang penuh rahmat untuk Saudah muhajirah beriman dan telah menjanda tersebut. Apalagi umurnya telah mendekati usia senja, sehingga membutuhkan seseorang yang dapat menjaga dan mendampinginya.

Beliau menginginkan Aisyah akan tetapi terlebih dahulu beliau nikahi Saudah binti Zam’ah yang mana dia menjadi satu-satunya istri beliau (setelah wafatnya Khadijah) selama tiga tahun kemudian masuklah Aisyah dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, disusul kemudian istri-istri yang lain seperti Hafshah, Zainab, Ummu Salamah dan lain-lain.

Saudah radhiyallahu anha menyadari bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mengawini dirinya melainkan karena kasihan melihat kondisinya setelah kepergian suaminya yang lama. Dan itu telah jelas tatkala Nabi ingin menceraikannya dengan cara yang baik untuk memberikan kebebasan kepadanya, namun Nabi merasa itu menyakiti hatinya. Beliau merasa seolah-olah itu adalah mimpi buruk yang menyesakkan dadanya, maka beliau merengek dengan merendahkan diri berkata, “Pertahankanlah aku ya Rasulullah! Demi Allah, tiadalah keinginanku diperistri itu karena ketamakan saya akan tetapi saya berharap agar Allah membangkitkan aku pada hari kiamat dalm keadaan menjadi istrimu.”

Begitulah Saudah lebih mendahulukan keridhaan suaminya yang mulia, maka beliau berikan giliran beliau kepada Aisyah untuk menjaga hati Rasulullah dan beliau sudah tidak memiliki keinginan sebagaimana layaknya wanita lain.

Maka Rasulullah menerima usulan istrinya yang memiliki perasaan yang halus tersebut, maka turunlah ayat Allah:

“Maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisa:128)

Saudah tinggal di rumah tangga Nubuwwah dengan penuh keridhaan, ketenangan, dan bersyukur kepada Allah yang telah menempatkan posisinya di samping sebaik-baik makhluk di dunia. Dia bersyukur mendapat gelar Ummul Mukminin dan menjadi istri Rasul di Surga. Akhirnya wafatlah Saudah radhiyallahu anha pada akhir pemerintahan Umar bin Khattab radhiyallahu anhu.

Ummul Mukminn Aisyah radhiyallahu anha senantiasa mengenang dan mengingat perilaku beliau dan terkesan akan keindahan kesetiaannya. Aisyah berkata, “Tiada seorang wanita pun yang paling aku sukai agar aku memiliki sifat seperti dia melebihi Saudah binti Zam’ah tatkala berusia senja yang mana dia berkata, “Ya Rasulullah aku hadiahkan kunjungan Anda kepadaku untuk Aisyah” hanya saja beliau berwatak keras.


Referensi :

  • Buku karangan Mahmud Mahdi al-Istanbuli, Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi, dan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya yang berjudul “Mereka Adalah Para Shahabiyat”

Artikel Infokom Muslimah MIM

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.