بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Kita memakmurkan masjid – masjid Allah dibulan suci ramadhan tahu kita jama’ah rahimakumullah bahwasnaya memakmurkan masjid Allah itu pada setiap waktu, pada setiap saat bahkan indikasi dan alamat keimanan seorang hamba kepada Allah dan hari akhir yaitu ketika hatinya bergantung dengan masjid – masjid Allah, Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”(QS. At-Taubah : 18).

Dalam hadist Rasulullah bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ

Apabila kalian melihat seseorang biasa ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia beriman. . (HR. Ibnu Majah, no. 802; Tirmidzi, no. 3093. Al-Hafih Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali menyatakan sanad hadits ini dha’if)

Ketahuilah jama’ah idul fitri rahimakumullah dihari kemudian nanti matahari akan didekatkan di ubun – ubun kita, kita bisa membayangkan betapa payahnya, betapa gerahnya, betapa sulitnya hari tersebut, kita berada dibumi jarak matahari berjuta – juta kilo meter namun kita masih membutuhkan bantuan kipas angin, anak – anak kita menangis karena gerah kepanasana lalu bagaimana jika dihari kemudian nanti kita dikumpulkan dipadang mahsyar dari manusia yang paling awal sampai yang paling terakhir dan matahari didekatkan diubun – ubun kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan bahwasanya ada diantara golongan yang langsung mendapatkan naungan dari Allah Subhanahu wata’ala, ketika manusia merasakan kepanasan dan kepayahan justru dia merasakan kesejukan dan ketenangan, siapa mereka diantaranya adalah orang yang hatinya senang bergantung pada masjid – masjid Allah Subhanahu wata’ala, qiyamullail bukan cuma dibulan ramadhan bahkan Nabi menyebutkan bahwasanya ibadah dan sholat yang paling dicintai oleh Allah setelah sholat 5 waktu adalah sholat diwaktu malam yang dikenal dengan Qiyamullail, jika selama bulan suci ramadhan kita sholat dengan imam dengan jumlah 8 rakaat dan ada yang 11 rakaat ada yang 20 rakaat, ada yang kurang dan lebih dari itu alhamdulillah namun jangan tinggalkan qiyamullail lakukan setiap malamnya walaupun minimal satu rakaat witir itu sudah disebut qiyamullail sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit. ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya”. ( HR. Muslim no. 783).

Begitupula tilawah Al-Qur’an mungkin ada diantara kita yang telah mengkhatamkan 5 kali dalam bulan ramadhan, ada yang 4 kali, ada yang mengkhatamkan minimal sekali atau ada yang banyak membaca Al-Qur’an dibulan suci ramadhan, olehnya jangan menyimpan mushaf di dalam rak untuk kita membukanya tahun depan, usahakan setiap harinya kita memiliki waktu khusus untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an karena sesungguhnya kata para ulama:“Jika kita melihat bagaimana kecintaan Allah kepada seorang hamba maka lihatlah bagaimana kecintaannya kepada Al-Qur’an”, kitab yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mujizat yang akan dijaga hingga akhir zaman begitupula ibadah – ibadah yang lain seperti bersedekah, menyambung tali silaturrahim memberi makan kepada orang lain, lanjutkan kebiasaan – kebiasaan baik itu agar kita meninggal dunia dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan inilah yang disebutkan Allah di dalam Al-Qur’an: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali-‘Imran :102).

Kata para ulama tafsir: “Barangsiapa yang terbiasa hidup diatas sesuatu maka ia akan dimatikan dengan sesuatu itu“. Kita mendengar husnul khatimah dan kita mendengar su’ul khatimah ada orang yang meninggal baik pada akhir kehidupannya adapula yang buruk pada akhir kehidupannya, kita mendengar dan membaca ada yang meninggal dalam keadaan sujud, kita mendengar ada yang meninggal dunia ketika dia sementara mengaji, sementara berdzikir dan sementara mengerjakan ketaatan, berbuat baik kepada orang tua, berdakwah, silaturrahim, dll, sebaliknya kita sering mendengar ada orang yang meninggal dunia sementara meminum minuman keras, ada orang yang meninggal dunia sementara berzina, ada yang meninggal dunia sementara melakukan pencurian dan seterusnya dan kata Rasulullah seseorang dibangkitkan dihari kemudian tergantung bagaimana cara kematiannya.

Pengalaman sebelum kami berangkat ke Sudan ada orang yang kecelakaan kemudian dibawa kerumah sakit dia dalam sekarat, orang tua kami ditelpon dan saya mendampingi beliau untuk mentalqinkan kalimat tauhid karena kata Nabi:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga”(HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621).

Orang ini terdapat banyak luka ditubuhnya saya menyaksikan sendiri bagaimana ayah saya membisikkan ditelinganya ‘lailaha illallah namun saya kaget karena yang telontar dimulutnya adalah 72, 59, 43, 22 demi Allah saya menyaksikan dan mendengarnya sendiri dan ternyata ketika dicek orang ini selama hidupnya selalu memasang judi togel dan dia dimatikan dalam kondisi dan keadaan yang seperti itu.

Oleh karennaya siapa diantara kita yang masih larut dalam kemaksiatan, belum terlambat, Allah  berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allâh dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Hadid :16).

Dihari yang fitrah ini mari kita mengikat janji yang baru dengan Allah Subhanahu wata’ala bagaimana pun kondisi dan keadaan masa kelam kita Allah maha luas ampunannya sebagaimana dalam hadist qudsi Allah berfirman:

عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  يَقُوْلُ :  قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً 

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata:”Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Allah Azza wa Jalla berfirman:”Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi“. (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih).

Ada seorang lelaki yang sudah sangat tua bahkan alisnya telah beruban datang menghadap kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan dosa – dosanya, Nabi kemudian berkata:”Apakah engkau bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan aku adalah muhammad utusan Allah ia kemudian berkata:”Ashadu anla ilaha illallah wa annaka muhammadarrasulullah”, ia bertaubat dari dosa – dosanya Nabi kemudian berkata:”Allah mengampunkan dosa – dosamu”¸ orang tua ini keheranan dan bertanya:”Lalu bagaimana dengan dosa – dosa saya dimasa silam ya Rasulullah“, mungkin tak satupun dosa kecuali dia telah lakukan, Allah yang menjawabnya bukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah menurunkan firmannya yang terdapat dalam surah Az – Zumar:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az-zumar: 53).

Dalam surah Al-Furqan Allah berfirman:

, وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا , إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “. (QS. Al-Furqan: 68-70).

Bukan cuma diampunkan dosanya bahkan dosa yang ia kerjakan dimasa silam dengan taubat yang sebenar – benarnya kepada Allah digantikan dengan pahala disisi Allah Subhanahu wata’ala.

………………………………………………

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 6 Rabiul Akhir 1441 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.