بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan kota Makkah menuju kota Madinah dimana beliau disambut oleh kaum anshar bersama dengan para sahabat beliau terusir dari kampung halamannya karena mempertahankan aqidah, mempertahankan tauhid, mempertahankan keistiqamahan diatas jalan Allah Subhanahu wata’ala, setiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di kota Madinah diantara perkara dan amalan yang menjadi prioritas beliau adalah mendamaikan para sahabat terutama mendamaikan pihak – pihak yang bertikai di kota Madinah yang terkenal dalam sejarah yaitu antara kabilah suku Aus dan Khasraj, setiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah mereka kemudian didamaikan, Allah Subhanahu wata’ala menyebut di dalam Al-Qur’an:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali ‘Imran: 103).

Persaudaraan dan ukhuwah yang dibagun diatas aqidah, yang dibangun diatas islam adalah nikmat yang luar biasa bahkan Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan di dalam Al-Qur’an bahwasanya setiap bentuk persahabatan, setiap bentuk pertemanan dan setiap bentuk kemitraan dan seterusnya adalah sesuatu yang fana dan tinggallah satu yang kekal yang akan berlangsung di dunia dan berujung diakhirat (di dalam surga) yaitu ukhuwah dan persaudaraan yang dibangun diatas aqidah dan ketakwaan kepada Allah Subhanhau wata’ala, Allah berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa“. (QS. Az-Zukhruf: 67).

Walaupun seseorang memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan saudaranya bahkan mungkin lahir dari rahim yang sama namun ketika aqidah mereka berbeda maka mungkin di dunia mereka bersaudara namun dihari kemudian nanti mereka akan dipisahkan antara yang satu dengan yang lain bahkan antara anak dan ibu beserta bapaknya, saudara dengan saudaranya yang lain akan menjadi musuh antara yang satu dengan yang lain sebagaimana firman Allah didalam Al-Qur’an:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”. (QS. ‘Abasa: 34-37).

Begitupula dalam ayat yang lain Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah”. (QS. Luqman: 33).

Akan tetapi orang dulu di dunia yang dipersaudarakan diatas aqidah dan ukhuwah islamiyah maka mereka akan saling memberi syafaat, saling membantu antara satu dengan yang lain dihari kemudian kelak.

Allah Subhanahu wata’ala mensifatkan orang – orang yang beriman antara yang satu dengan yang lain ibaratnya satu tubuh yang ketika diatara satu tubuh yang merasakan sakit maka yang lainnya juga ikut merasakan sakit:

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Allah menyebutkan di dalam Al-Qur’an:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌفَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Alloh, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al Hujurot: 10).

Jika terjadi salah paham diantara orang – orang yang beriman maka Allah Subhanhau wata’ala memerintahkan kita damaikan orang yang berselisih.

Berdusta dalam agama kita adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala bahkan dia adalah salah satu dosa dari dosa besar namun ada beberapa kondisi dimana Allah Subhanahu wata’ala membolehkan seseorang berdusta diantaranya adalah untuk mendamaikan orang yang berselisih, misalnya ada yang berselisih dengan tetangganya yang mana tetangga A dan B sudah lama memboikot antara yang satu dengan yang lain, kemudian kita datang kepada si A dan menyampaikan kepadanya bahwasanya si B sebenarnya rindu kepadamu dan sangat menyesal yang terjadi diatara kalian, kemudian kita datang kepada si B mengucapkan perkataan yang sama dengan niat agar keduanya berdamai maka yang seperti ini dibolehkan bahkan Allah Subhanahu wata’ala berfirman didalam Al-Qur’an:

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar“. (QS. An-Nisaa: 114).


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau mendengar ada perselisihan yang terjadi disuatu tempat, beliau memanggil beberapa orang sahabat kemudian beliau berkata:”Mari menuju fulan untuk mendamaikan mereka”, bahkan Nabi pernah terlambat dari kubah untuk memimpin sholat di Madinah disebabkan karena beliau sibuk untuk mendamaikan orang – orang yang berselisih dan yang bertikai diantara mereka, inilah sifat orang yang beriman selalu senang melihat perdamaian, selalu senang melihat persaudaraan dan tidak senang melihat pertikaian dan perpecahan adapun orang yang senang melihat perpecahan dan pertikaian maka ini adalah sifat iblis, sifat syaithan, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. (QS. Al-Ma’idah: 91).

Oleh karenanya di dalam agama kita diantara sifat yang dilaknat dan sangat dimurkai oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah mengadu domba dengan menyebarkan hoaks dan berita – berita dusta untuk memperuncing pertikaian dan perpecahan diantara satu kubu dengan kubu yang lain, perbuatan ini diancam azab di dalam Al-Qur’an dengan azab yang pedih yaitu orang yang selalu berjalan dipermukaan bumi untuk merusak hubungan antara yang satu dengan yang lain yang dikenal dengan istilah namimah bahkan dalam hadist, Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati salah satu sudut kota Madinah atau Makkah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang diazab di kubur. Beliau pun bersabda:

يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

Mereka berdua disiksa. Mereka menganggap bahwa itu bukan perkara besar, namun sesungguhnya itu perkara besar. Orang yang pertama disiksa karena tidak menutupi diri ketika kencing. Adapun orang yang kedua disiksa karena suka mengadu domba (namimah)“. (HR. Bukhari no. 216 dan Muslim no. 292).

Nabi pernah berkata kepada para sahabat:”Perbaikilah cara kalian ketika buang air kecil karena sesungguhnya kebanyakan azab kubur disebabkan karena tidak bersih ketika bersitinja“. Keduanya mendapatkan azab kubur sebelum mereka dimasukkan ke dalam neraka Allah Subhanahu wata’ala.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala melunakkan hati – hati kita dan semoga Allah Subhanahu wata’ala memperkuat ukhuwah diantara kita, jangan sampai ukhuwah yang indah yang berujung disurga rusak hanya karena disebabkan kepentingan – kepentingan duniawiyah, kepentingan politik atau beda pilihan dalam satu keluarga sehingga menimbulkan masalah antara yang satu dengan yang lain bahkan ada yang saling memboikot antara yang satu dengan yang lain, antara tetangga dengan tetangga yang lain bahkan sampai berujung pada pertikaian, pertengkaran dan pembunuhan. Ukhuwah ini sangat mahal sungguh hina jika dunia ini merusaknya

Khutbah kedua

Ketika kita berselisih dengan seseorang terkadang kita sulit langsung memaafkan orang tersebut pada waktu itu juga, olehnya syariat memberikan kita batasan tidak boleh lebih dari 3 hari:

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari“. (HR. Bukhari 6237 dan Muslim 2560).

Hari pertama mungkin kita sangat marah, dihari kedua kita sudah mulai tenang dan dihari ketiga kita diperintahkan untuk saling berbaikan dan saling memaafkan antara yang satu dengan yang lain dan yang paling utama adalah yang pertama kali memberi salam, jangan memunculkan dari diri kita arogansi dengan berkata:”Dia yang salah dia yang harus datang meminta maaf kepada saya“, tidak mesti demikian bahkan orang yang senantiasa memaafkan saudaranya dia diberi janji ampunan oleh Allah Subhanahu wata’ala, oleh karenanya Allah Subhanahu wata’ala berfirman didalam Al-Qur’an:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nur: 22).

Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda:“Siapa yang memboikot saudaranya sampai satu tahun lamanya seakan – akan ia mencucurkan darahnya“, dalam hadist yang lain:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

“Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan kamis. Lalu diampuni selluruh hamba yang tidak berbuat syirik (menyekutukan) Allah dengan sesuatu apapun. Kecuali orang yang sedang ada permusuhan dengan saudaranya. Dikatakan: Tunda amal dua orang ini, sampai keduanya berdamai… tunda amal dua orang ini, sampai keduanya berdamai… tunda amal dua orang ini, sampai keduanya berdamai…”(HR. Imam Malik dalam Al-Muwatha’ 5/1334, Ahmad 9119, dan Muslim 2565).

Jadi amalan yang kita kerjakan, sholat yang kita tunaikan, puasa yang kita kerjakan, umrah dan haji yang kita kerjakan boleh jadi ditahan dan tidak diangkat ke sisi Allah Subhanahu wata’ala karena kita berselisih atau mendiamkan saudara kita yang bertikai dan yang lebih para dari itu Rasulullah bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidak akan masuk sorga orang yang memutuskan (persaudaraan)”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Jubair bin Muth’im).

Pada sisi yang lain barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya oleh Allah, dipanjangkan umurnya oleh Allah hendaknya ia menyambung tali silaturrahim, mungkin ada yang bertanya bagaimana jika saya sudah berdamai dengan fulan namun dia tidak mau menerima saya, dia tidak mau menyambung tali silaturrahmi..? jawab:”Maka itu urusan dia dengan Allah Subhanahu wata’ala adapun kita sudah lepas tanggung jawab dihadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 09 Muharram 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.