بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Diriwayatkan oleh Imam Adz Dzahabi dan Imam Ibnu Hajar Rahimahullah bahwasanya Umar Bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu pada tahun ke 19 hijriyah beliau mengutus pasukan untuk berjihad memerangi bangsa roma dan Allah Subhanahu wata’ala dengan izinnya kaum muslimin mampu menaklukkan kota roma sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wata’ala yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketika Umar Bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu mengutus pasukan pada waktu itu kemudian kaisar (raja) roma telah mengetahui bagaimana kondisi dan keadaan kaum muslimin dari sisi keteguhan mereka kemudian keistiqamahan mereka kemudian pengorbanan untuk mengorbankan jiwa dan harta mereka dijalan Allah Subahanhu wata’ala, karena penasarannya, Kaisar roma berpesan kepada prajuritnya bahwasanya :”jika nanti kalian bertemu dengan pasukan kaum muslimin dan ada diantara mereka yang ditawan jangan dibunuh bawa ia kepadaku”, jadi kaisar ini ingin melihat langsung dan membuktikan berita yang sampai kabar kepadanya dari apa yang dimiliki oleh pasukan kaum muslimin tersebut.

Namun yang terjadi setelah peperangan beberapa pasukan yang diutus oleh Umar Bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu ditawan oleh pasukan roma pada waktu itu dan ketika mereka telah ditawan sang raja memerintahkan kepada pasukannya untuk mendatangkan salah seorang dari mereka yang dianggap yang paling cakap dan paling baik, maka didatangkanlah salah seorang sahabat dihadapan sang kaisar, kemudian sang kaisar ini berusaha untuk menggoda sahabat tersebut agar ia murtad dan keluar dari agama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bergabung dengan pasukannya.

Sang kaisar berkata kepadanya:”Saya ingin menawarkan sesuatu kepadamu”, sahabat bertanya:”apa itu.?”, kaisar berkata:”Engkau masuk agama nasrani tinggalkan agama Muhammad jika engkau mengikuti ajakanku tersebut saya akan membebaskanmu dan memuliakanmu dan saya akan memberikan kedudukan kepadamu“, namun sahabat tersebut berkata:”Kematian lebih saya senangi 100 kali dari pada mengikuti dan mengabulkan dari apa yang engkau inginkan”, kaisar kemudian berkata:”Saya akan memberikan kepadamu separuh dari kekuasaanku”, sahabat ini menjawab:”Walaupun seluruh kekuasaanmu saya tidak mau, lebih baik saya dibunuh”.

Sahabat ini telah merasakan kelezatan iman di dalam hatinya, Sebagaimana kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah :”Didunia ini ada surga barangsiapa yang belum memasuki surga dunia ini maka ia tidak akan masuk surga akhirat”, dan surga tersebut ada pada diri kita yaitu hati kita, kelezatan dan surga dunia ada dalam Hati kita yaitu ketika mendapatkan  cahaya iman dengan mengenal Tuhan-Nya maka semuanya akan menjadi hina dimatanya dunia dan segala isinya.

Ketika kaisar tidak mampu untuk meruntuhkan dan menggoyahkan keimanan sahabat tersebut ia kemudian bermusyawarah kepada para menterinya bagaimana membuat sahabat tersebut meninggalkan agamanya, akhirnya salah seorang dari mereka berkata:”Bagaimana jika kita menggoda ia dengan wanita”, kaisar kemudian setuju dengan usulan menterinya, kaisar kemudian berkata:”Datangkan wanita yang paling cantik di negeri ini.!”, kemudian wanita tersebut diberi kekayaan untuk menggoda sahabat tersebut agar melakukan perzinahan.

Namun apa yang terjadi ketika wanita tersebut masuk keruangan dimana sahabat tersebut dipenjara, wanita ini kemudian mulai menggodanya, setelah ia melepaskan pakaian rasa malunya dan mulai menggodanya, sahabat ini kemudian berkata:”Ma’adzallah (Aku berlindung kepada Allah. (QS. Yusuf:23))” sambil berusaha menutup kedua matanya kemudian berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan berkata:”Ya Allah saya lebih menginginkan kematian dari fitnah ini“, sahabat tersebut terus dikejar oleh wanita tersebut, setiap kali sahabat tersebut memalingkan wajahnya, wanita tersebut berusaha untuk berada pada pandangannya, kemudian sahabat tersebut selalu berusaha memalingkan wajahnya hingga ia mengingat kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam, dan akhirnya wanita tersebut mulai putus asa dan pengawal kaisar yang ada diluar penjara menunggu waktu kegembiraan mereka dan mereka berharap sahabat tersebut melakukan perzinahan dengan seorang wanita tersebut.

Namun apa yang terjadi wanita tersebut berkata:”Keluarkan saya, keluarkan saya, keluarkan saya”, setelah wanita tersebut keluar orang – orang kemudian bertanya:”Apa yang terjadi.?”, wanita tersebut kemudian mengatakan:”Saya tidak tahu apakah kalian memasukkan saya kepada seorang lelaki atau kepada seorang wanita, dan saya tidak tahu apakah kalian memasukkan saya menjumpai seorang lelaki atau batu”, (Perkataan wanita tersebut menunjukkan bahwa sahabat tersebut tidak tergoda untuk melakukan perbuatan perzinahan_Penj), wanita itu kemudian malu, akhirnya siasat dan rencana kaisar kembali gagal sambil merasakan malu kepada sahabat tersebut.

Kaisar kemudian berkata:”Baiklah jika tidak berhasil dengan wanita jangan beri dia makan biarkan dia merasakan kelaparan di dalam penjara”, dibiarkanlah sahabat tersebut tidak makan beberapa hari dan  dikemudian hari dibawakanlah sahabat tersebut makanan berupa daging babi dan khamr (minuman memabukkan) sampai ia tidak mampu duduk karena rasa lapar yang begitu dahsyat ia alami, tapi sedikitpun ia tidak menyentuh makanan tersebut, akhirnya rancana sang kaisar kembali gagal, kaisar kemudian berkata:”Wahai fulan kenapa engkau tidak makan bukankah agamamu mengatakan jika dalam kondisi darurat maka boleh engkau memakannya”, padahal sang kaisar hanya ingin melihat bagaimana sahabat tersebut melakukan maksiat dan taat kepadanya. Sahabat tersebut berkata:”Saya tahu itu bahwasanya dalam agamaku ini adalah kondisi darurat tapi saya tidak mau kalian tertawa dengan apa yang saya lakukan sehingga islam dan kaum muslimin dihinakan oleh kalian”.

Seseorang yang teguh keimanannya kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak akan menjual agamanya dengan apapun yang terdapat didunia ini, adapun sekarang banyak kaum muslimin yang menjual agamanya hanya untuk mengambil sedikit dari apa yang ada didunia ini, dan hal ini sangat berbahaya ditubuh kaum muslimin dengan adanya orang – orang munafik yang menjual agamanya untuk mendapatkan sedikit keuntungan dari dunia ini.

Akhirnya sang kaisar semakin kagum dengan keimanan sahabat tersebut dan ia menyerah,  ia kemudian berkata:”Saya akan melepaskanmu tapi ada syaratnya”, Sahabat tersebut berkata:”Apa itu.?”, kaisar berkata:”Maukah engkau mencium kepalaku atau mencium keningku”, sahabat ini kemudian berkata:”Lalu apa balasannya.?”, kaisar berkata:”Saya lepaskan engkau dan melepaskan seluruh tawanan kaum muslimin”, akhirnya sahabat ini berkata:”Baik”. Beliau menerima permintaan terakhir ini beliau kemudian terpaksa mencium kepala dan kening kaisar roma tersebut”, Akhirnya kaisar kemudian berkata:”Bebaskan mereka semua“, maka kembalilah mereka kaum muslimin kemadinah dan berjumpa dengan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu dan diceritakanlah kisahnya kepada Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu bagaimana akhirnya sahabat ini kemudian mencium kepala kaisar roma agar semua pasukan kaum muslimin dibebaskan.

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu kemudian berkhutbah diatas mimbar setelah memberikan muqaddimah dan memuji para sahabat yang dibebaskan dari tawanan tersebut, beliau kemudian berkata:”Kewajiban setiap diantara kita untuk mencium keningnya sahabat ini, umar yang pertama turun ke mimbar untuk mencium kepalanya kemudian diikuti sahabat – sahabat yang lain”, Beliau adalah sahabat yang bernama:”Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi Radhiyallahu ‘anhu”.

Hal ini menunjukkan Al izzah dimana kita dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan islam, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi“.(QS. Ali Imran :85).

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu berkata tentang Islam: “Dahulu kami hina, lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Maka barang siapa yang mencari kemuliaan selian dengan Islam, maka sungguh Allah akan hinakan dia”.

Hikmah yang bisa kita dapatkan dari kisah tersebut adalah bahwasanya ketika keimanan telah menghiasi hati dan kehidupan kaum muslimin maka tidak akan berguna dunia baginya beserta isinya sekalipun ia ditawarkan kekuasan yang megah dengan segala harta dan fasilitasnya, dan begitulah seharusnya kita sebagai seorang muslim bagaimana keimanan yang ada pada diri kita mampu menjauhkan kita untuk keluar dari agama Allah Subhanahu wata’ala tatkala dunia dan segala fasilitasnya ditawarkan kepada kita, dan hendaknya setiap kita menjadikan surga sebagai tempat kembali yang indah serta mulia dibanding dengan dunia dan segala fasilitasnya.

Disebutkan sebuah kisah keimanan orang sholeh terdahulu mereka tidak mau mengganti keimanan mereka dengan dunia dan segala fasilitasnya sebagaimana Asiyah bintu mushaim istrinya raja fir’aun, dimana Asiyah bintu mushaim tinggal didalam istana namun ketika keimanan menyapa hatinya ia kemudian berkata:”Rabbi, bangunkan untukku di sisiMu sebuah rumah di surga”, padahal beliau tinggal di istana.

Begitupula dengan Mushab ibnu Umair Radhiyallahu ‘anhu salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketika belum masuk islam ia adalah orang yang mendapatkan fasilitas dunia dengan kekayaan dari orang tuanya namun keimanan menyapa hatinya dan masuk ke dalam agama islam hingga akhirnya diboikot oleh keluarganya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedih dan menangis ketika melihat Mushab ibnu Umair Radhiyallahu ‘anhu meninggal dalam perang uhud dimana tubuhnya hanya ditutupi oleh sepotong kain yang ketika ditarik untuk menutupi kakinya maka tersingkap wajahnya dan ketika ditarik untuk menutup wajahnya maka tersingkap kakinya maka turunlah firman AllahSubhanahu wata’ala:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”. (QS. Al Ahzab :23).

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:Andaikan para raja, para kaisar, para pangeran dan orang – orang yang berkuasa itu mengetahui akan kebahagiaan yang kita rasakan dalam hati kita, maka mereka akan datang kepada kita dengan pedang – pedang mereka, memenggal leher – leher kita disebabkan dengan kecemburuan mereka”, bahkan mereka yang hidup diatas penderitaan di kaca mata manusia, jihad, dipenjara, dituduh dan disiksa kata beliau:”Apa sebenarnya yang diinginkan oleh musuh- musuhku jika mereka memenjarakanku ini merupakan kesempatan bagiku untuk berduaan dengan Allah, jika saya diasingkan ini adalah merupakan rihlah untukkku dan jika dia membunuhkan ini adalah merupakan syahadat bagiku karena aku menginginkan syahid dijalan Allah Subhanahu wata’ala”, itulah karakter dan sifat seseorang apabila keimanan telah masuk dalam hatinya. Oleh karenanya marilah senantiasa menjaga keimanan, aqidah dan ibadah kita serta keistiqamahan kita karena hidup ini hanya membutuhkan sedikit kesabaran diantara kita setelah itu kita meninggal dan mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menganugrahkan kepada kita surga dunia sebelum surga akhirat.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 31 Jumadil Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR