بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  1. Kaum ‘Ad Lahir dari Kaum Nabi Nuh 

Kaum ‘Ad berada diantara Hadramut dan Yaman mereka adalah kaum yang pertama kali mempersekutukan Allah Subhanahu wata’ala setelah kaum Nabi Nuh  ‘Alaihissalam yang dihancurkan oleh Allah. Allah berfirman:

وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا. وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا. وَكُلًّا ضَرَبْنَا لَهُ الْأَمْثَالَ وَكُلًّا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا.

“Dan (Kami telah membinasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan para rasul. Kami menenggelamkan mereka dan menjadikan (kisah) mereka itu sebagai pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan adzab yang pedih bagi orang-orang zhalim; dan (Kami telah membinasakan) kaum ‘Ad, Tsamud, dan penduduk Rass, serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan, dan masing-masing benar-benar telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya”. (QS. Al-Furqan: 37-39).

وَتِلْكَ عَادٌ جَحَدُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْا رُسُلَهُ وَاتَّبَعُوا أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ. وَأُتْبِعُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا إِنَّ عَادًا كَفَرُوا رَبَّهُمْ أَلَا بُعْدًا لِعَادٍ قَوْمِ هُودٍ.

“Dan demikianlah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, mendurhakai rasul-rasul Allah, dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini begitu pula pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, binasalah kaum ‘Ad, (yaitu) kaum Hud itu”.(QS. Hud: 59-60).

2. Kaum ‘Ad Adalah Kaum Yang Kuat 

Allah memberi kaum ‘Ad keistimewaan berupa fisik yang kuat melebihi manusia lainnya, sehingga para sejarawan menyebut mereka sebagai klan manusia raksasa. Kekuatan fisik mereka semakin sempurna dengan ilmu pengetahuan, sehingga mereka menjadi kaum yang kuat secara fisik dan maju secara pemikiran. Ibu kota mereka adalah Iram. Mereka mampu memotong dan mengangkut balok-balok batu raksasa, lalu mereka gunakan batu-batu tersebut untuk membangun istana dan gedung-gedung yang tinggi nan megah, mereka membangun taman kota yang lengkap dengan kolam-kolam yang indah. Bahkan mereka memahat bebatuan diperbukitan sehingga menjadi bangunan-bangunan yang menawan. Kemakmuran yang sedemikian rupa mendorong mereka untuk membangun gedung-gedung megah sekedar untuk mencari kesenangan dan berbangga diri. Allah berfirman,

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaiman Rabbmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain”. (QS. Al-Fajr: 6-8).

Jadi Allah Subhanahu wata’ala menceritakan dalam Al-Qur’an bahwa kaum ‘ad memiliki perawakan yang kuat,  tinggi dan kekar.

Berbagai macam metode dan cara Nabi Hud untuk  menasehati kaumnya dengan memberi motivasi keapada kaumnya dan mempertakut-takuti akan azab Allah. Allah berfirman:

“Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. (QS. Ahqaf :21).

3. Bentuk Azab Allah Kepada Kaum ‘Ad

وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. (QS. Ahqaf :21). Kaum ‘Ad menantang Nabi Nuh:

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَأْفِكَنَا عَنْ آلِهَتِنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (QS. Ahqaf :22).

Dalam ayat lain kaum ‘Ad berkata:

قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ إِنْ هَذَا إِلا خُلُقُ الأوَّلِينَ وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

Mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan di “azab”. (QS Asy-Syu’ara : 136-138).

Sunnahtullah disetiap zaman akan ada orang – orang yang baik dan orang yang buruk, ada manusia yang taat dan ada manusia yang ingkar, ketika ia terjatuh ke dalam maksiat kemudian diingatkan dengan azab Allah terkadang manusia mencela dan seakan akan tidak menghiraukan peringatan tersebut,

Nabi Hud sedih mendengar perkataan kaumnya yang bodoh. Nabi Hud berdo’a kepada Allah :

قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي بِمَا كَذَّبُونِ قَالَ عَمَّا قَلِيلٍ لَيُصْبِحُنَّ نَادِمِينَ فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ بِالْحَقِّ فَجَعَلْنَاهُمْ غُثَاءً فَبُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.” Allah berfirman: “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.” Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang lalim itu. (QS Al-Mu’minuun : 39-41)

Hud kemudian menyampaikan akan hal tersebut bahwa apa yang mereka sampaikan akan terjadi, yang diturunkan oleh Allah kepada mereka, kemudian mulailah azab tersebut diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Kaum ‘Ad yang sebelumnya hidup dengan penuh kenikmatan namun mereka kufur dengan nikmat Allah mereka diberi peringatan namun tidak mendengar dan kekufuran semakin merajalela, akhirnya Allah menghukum mereka dengan kemarau, disebutkan dalam riwayat selama 3 tahun tidak turun hujan, sekitar 70 orang dari kaum ‘Ad yang dianggap terbaik diantara mereka keluar untuk melaksanakan istisqah (doa meminta hujan) akan tetapi bukan kepada Allah namun kepada berhala yang mereka sembah selain Allah, padahal apa yang mereka minta kepada sesembahan mereka tidak mampu memberi manfaat dan mudharat sedikitpun.

Ketika kaum Nabi Hud menyembah berhala untuk meminta hujan, akhirnya terdengar seruan dari langit untuk diberikan pilihan kepada mereka:”Hujan apa yang hendak kalian inginkan yang berwarna putih atau yang berwarna merah atau warna hitam”, akhirnya mereka memilih warna hitam karna awan hitam membawa hujan yang lebat, setelah mereka memilih akhirnya mereka kembali kerumah masing- masing.

Kemudian Allah mengirimkan awan hitam yang telah dipilih Qail kepada kaum ‘Ad, hingga awan itu keluar di sebuah lembah yang dinamakan Al-Mughits. Penduduk kaum ‘Ad melihatnya dan mereka bergembira ria, mereka berkata:“Inilah hujan untuk kami!”. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لا يُرَى إِلا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan)! bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”. (QS. Al-Ahqaf : 24-25).

Orang pertama dari kaum ‘Ad yang melihat kalau awan itu adalah angin yang menghancurkan adalah seorang wanita bernama Mahd. Ketika dia melihatnya, dia pun berteriak dan jatuh pingsan. Ketika siuman, kaumnya bertanya padanya:“Apa yang kau lihat wahai Mahd?”. Dia menjawab:“Aku melihat awan hitam bagai meteor dari neraka”, di depannya ada seorang lelaki yang menuntunnya untuk meninggalkan kampung tersebut.

Lalu Allah Subhanahu wata’ala menggerakkan awan hitam tersebut 7 hari berturut-turut mengepung mereka. Tidak ada seorangpun yang dibiarkan hidup di dalam desa kaum ‘Ad, sementara Nabi Hud ‘Alaihissalam dan orang-orang yang telah beriman terlebih dahulu sudah pergi dari kaumnya, mengasingkan diri dan menghindar dari adzab dan siksa Allah yang pedih.

Dari azab yang membinasakan mereka ada azab yang berupa angin yang sangat dingin kemudian mengangkat mereka satu-persatu lalu dihempaskan ke bumi sehingga terpisah kepala dan badan mereka, mereka tidak mampu menahan dinginnya angin yang kencang tersebut.

Lihatlah bagaimana hanya satu tentara Allah (Angin) yang menghancurkan kekuatan mereka, bangunan mereka, kesombongan mereka, desa mereka yang terdiri dari bangunan yang kuat dan kokoh  dihancurkan oleh Allah dalam sekejap.

4. Doa Ketika Bertiup Angin yang Sangat Kencang

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika melihat awan hitam muka beliau merah sambil keluar masuk rumah, baru beliau berseri – seri ketika turun hujan, ketika beliau ditanya mengapa anda seperti itu Ya Rasulullah, beliau berkata:”Saya khawatir jangan sampai awan yang datang ini seperti yang dikirimkan pada kaum ‘ad”,

Ya Allah jadikanlah angin ini riyah (angin sepoi – sepoi)  dan jangan jadikan rih (angin yang sangat kencang)”.

Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila angin bertiup kencang beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini dan kebaikan yang ada padanya dan kebaikan yang dibawanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada padanya dan keburukan yang dibawanya. (HR. Muslim, no. 2122, Kitab Shalatil Istisqa’, bab berlindung saat melihat angin (kencang), cetakan Daar al-Jil dan daar al-Afaq al-Jadidah. Dalam Riwayat lain Rasulullah melarang mencela angin:

Dari Ubai bin Ka’ab dengan redaksi lain. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: janganlah kalian mencaci angin. Lalu apabila engkau melihat yang tidak menyenangkan, maka berdoalah:

اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحَ وَخَيْرِ مَا فِيْهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحَ وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini dan kebaikan yang ada padanya dan kebaikan yang dibawanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada padanya dan keburukan yang dibawanya”. (HR. Al-Tirmidzi).  

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 21 Dzulqaidah  1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

        

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR