بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Nabi Ibrahim Mendebat Raja Namrud 

Namrud salah satu raja yang pernah menguasai dunia namun ia tidak beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dalam sejarah islam ada 2 raja muslim dan beriman  kepada Allah Subhanahu wata’ala yang pernah menguasai dunia yaitu Dzulqarnain dan Nabi Sulaiman adapun Namrud termasuk yang pernah menguasai dunia dengan ke zhalimannya, ketika sampai berita kepadanya tentang selamatnya Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam ia lalu memanggil Nabi Ibrahim sehingga terjadilah perdebatan diantara mereka karena raja ini mengaku sebagai tuhan. Allah Subhanahu wata’ala mengabadikan debat mereka didalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim“. (QS. Al-Baqarah: 258).

Jadi kekuasaan yang dimiliki oleh Namrud membuat ia lupa diri padahal Allah memberikan kepadanya kekuasaan adalah kekuasaan nisbi dan bukan kekuasaan mutlak sedang ia tidak mampu menguasai segala – galanya, inilah bahaya dari kekuasaan karena bisa menggiring seseorang kepada kekufuran dan melakukan perbuatan dzalim.

Raja yang dzalim ini menantang Nabi Ibrahim dengan cara memanggil 2 narapidana ketika keduanya berdiri dihadapan raja yang dzalim ia mengambil pedang dan membunuh lelaki yang pertama sambil berkata:”Coba lihat saya mematikannya”, adupun yang satunya dia telah divonis mati namun tidak dibunuh melainkan dibiarkan hidup sembil berkata:”Coba lihat saya telah menghidupkannya”, Ibrahim lalu berkata:”Ketahuilah bahwasanya Allah mendatangkan matahari dari arah timur jika engkau benar – benar tuhan datangkan matahari itu dari barat”. Namrud lalu diam dan tidak berkata apa-apa.

Setelah kejadian itu berimanlah kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam seorang wanita yang ia nikahi bernama Sarrah dan seorang lelaki sepupunya bernama Luth yang kemudian hari juga diangkat menjadi Nabi dan Rasul oleh Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ ۘ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“. (QS. Al-Ankabut :26).

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam mendapatkan penindasan dikota babil (iraq) dan sulit menyebarkan dakwahnya maka beliau diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk berhijrah sebagaimana firman Allah didalam Al-Qur’an:

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia“. (QS. Al-Anbiya: 71).

Ujian Nabi Ibrahim Menghadapi Raja Zhalim di Mesir 

Berhijralah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam bersama dengan Luth dan Sarrah ke kota palestine dan Sarrah diberikan keturunan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam usia yang sudah tua dengan seorang anak yang bernama Ishaq, dan dari Ishaq lahirlah Yaqub dan sebagai tambahan semuanya dijadikan orang – orang sholeh.

Nabi Ibrahim bersama dengan sarrah yang belum dikarunai keturunan pada waktu itu dalam kurun waktu yang lama, sehingga berangkatlah keduanya atas perintah dari Allah Subhanahu wata’ala dari palestine menuju mesir, beliau diperintah untuk berjalan mendakwahkan agama Allah Subhanahu wata’ala, namun beliau kembali mendapatkan ujian yang sangat berat karena kota Mesir dikuasai oleh penguasa yang zhalim, dan diantara salah satu kebiasaan serta keyakinan raja mesir adalah tak satupun lelaki yang memiliki istri yang cantik melainkan dia harus menjadi istrinya. Sarrah istri Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah seorang wanita yang sangat cantik.

Ketika Ibrahim singgah disuatu tempat bersama dengan istrinya sarrah dan lewatlah pengawal dari raja yang dzalim sambil melihat Ibrahim bersama dengan sarrah dan melihat kecantikan sarrah, kembalilah pengawal untuk melapor kepada raja yang dzalim dan berkata:”Disana ada seorang lelaki yang bersama dengan seorang wanita yang sangat cantik dan saya melihat ia tidak cocok dengan lelaki itu kecuali menjadi istri anda”, maka dipanggillah Ibrahim ‘Alaihissalam ke istana, ia ditanya:”Siapa dia.?“, Ibrahim berkata:”Ia adalah saudara perempuanku”, Ibrahim tidak mengatakan:”Dia istriku”,  karena sang raja ini jika seorang wanita memiliki suami ia membunuh suaminya terlebih dahulu kemudian mengambil istrinya sehingga Ibrahim berkata:”Ia saudaraku”, dan inilah disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  bahwa Ibrahim tidak pernah berdusta kecuali 3 kali walaupun dusta Nabi Ibrahim bukanlah dusta akan tetapi tauriah, diantara dusta beliau adalah:

  1. Ketika diajak oleh kaumnya untuk bersama – sama mengerjakan hari raya sambil menyembah tuhan – tuhan dan berhalah mereka, Ibrahim berkata:”Saya sakit”, bukan sakit yang sebenarnya akan tetapi sakit hati kerena melihat perbuatan kaumnya, dusta ini dibolehkan jika digunakan untuk kemaslahatan akan tetapi jangan dibiasakan terutama antara suami istri boleh demi membuat istri bahagia, Misalkan jika istri sering belanja dan boros dalam belanja maka suaminya berkata:”Tidak ada uang yang saya miliki“, maksudnya pada saat itu ia tidak uang bersamannya walaupun ia memiliki uang ditempat lain atau di ATM.
  2. Ketika beliau ditanya oleh kaumnya:”Betulkah engkau yang menghancurkan tuhan-tuhan kami ini wahai Ibrahim, Ibrahim menunjuk patung yang sangat besar yang kapak berada ditangannya sambil berkata:”Justru yang melakukannya adalah yang paling besar ini”, jadi semuanya mengira yang melakukannya adalah berhala yang besar walaupun didalam hati Ibrahim yang beliau maksud adalah jari beliau sendiri yang paling besar, jadi Nabi Ibrahim tidak dusta.

Begitupula ketika dizaman Imam Ahmad ketika beliau dipaksa untuk mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk ada diantara mereka karena diancam dengan siksaan dan cambuk katika ditanya Al-Qur’an makhluk atau kalamullah, ia mengatakan sambil menunjuk jari beliau :”Al-Qur’an, Zabur, Injil, Taurah, semua ini makhluk”, yang beliau maksudkan adalah ke empat jari beliau dari hitungan ke empat kitab.

  1. Ketika ia mengatakan kepada raja yang zhalim dia saudara perempuanku sebagaimana yang telah kita sebutkan diatas.

Jadi ketiga point diatas menujukkan bahwa beliau tidak benar – benar berdusta melainkan hanya tauriah, dan pada hari kiamat kelak ketika semua manusia datang kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam untuk meminta syafaat kepada beliau agar beliau berbicara kepada Allah agar disegera mereka diadili, namun Ibrahim menolak dan berkata:”Diriku, diriku, saya punya kesalahan yang dengannya saya malu untuk berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala”. yang beliau maksudkan adalah 3 hal diatas.

Ketika Ibrahim ingin kembali dari istana beliau mendatangi istrinya dan berkata kepadanya:”Sebentar, jika ditanya siapa engkau, maka katakan bahwasanya saya adalah saudaramu karena memang didunia ini tidak ada yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala kecuali kita berdua maka engkau saudaraku karena Allah”.

Sarrah tetap diambil paksa oleh pengawal penguasa yang dzalim dan ketika Nabi Ibrahim melepas istrinya beliau segera sholat meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka dibawalah sarrah kepada raja yang zhalim dan ketika sang raja melihat kecantikan sarrah ia tidak mampu mengendalikan dirinya dan hendak menjulurkan tangannya untuk menyentuh sarrah, melihat keburukan yang hendak dilakukan oleh raja zhalim, Sarrah lalu berdoa dengan berkata:

Ya Allah jika engkau tahu bahwasanya aku beriman kepadamu, beriman kepada rasulmu dan senantiasa menjaga kehormatanku maka jangan engkau kuasakan kepadaku seorang kafir pun”. Inilah pentingnya doa ketika dalam keadaan yang sangat genting dan terdesak, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)“. (QS. An-Naml : 62).

Allah mengabulkan doa sarrah dan raja yang dzalim ketika hendak menyentuh sarrah tangannya segera menjadi kaku ia tidak bisa menggerakkannya dan ketika ia melihat keadaan yang tidak masuk akal tersebut ia yakin bahwa wanita ini bukan orang yang biasa ia segera berkata:”Tolong berdoa kepada tuhamu agar ia segera menyelamatkanku”, akhirnya Sarrah mendoakannya setelah ia diberi janji bahwa ia akan dilepaskan, setelah di doakan tangan raja zhalim langsung bergerak, namun ia kembali menjulurkan tangannya dan berdusta dengan apa yang ia katakan, tangannya kembali kaku dan dalam riwayat yang lain disebutkan dia tidak sadarkan diri atau kemasukan jin hal ini berlangsung selama 3 kali berturut – turut sampai akhirnya ia berkata:”Wanita ini syaithan, wanita ini syaithan, wanita ini syaithan, suruh dia pergi dan jauhkan dia dariku”, akhirnya dia dilepas dan raja yang dzalim memberikan kepadanya hadiah seorang pembantu yang bernama Hajar karena ia menganggap bahwa Sarrah bukan manusia biasa.

Maka kembalilah Sarrah bersama dengan Hajar kepada Ibrahim dan ketika Ibrahim berjumpa dengan istrinya Sarrah, ia bertanya:”Apa yang terjadi”, Sarrah kemudian menceritakan semua yang terjadi dan berkata:”Dia telah memberikan kepadaku seorang pembantu yang bernama Hajar”,

Akhirnya Ibrahim berkata:”Tidaklah engkau berangkat tadi kecuali saya sujud dan ruku sholat kepada Allah Subhanahu wata’ala meminta pertolongan”, Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar“. (QS. Al-Baqarah : 153).

Bersambung (Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam Sesi 4)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 03 Safar 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR