بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Di zaman Umar Radhiyallahu ‘anhu ada lelaki tua renta yang bernama Umayyah ibn Askar Al Kinani yang juga dipanggil dengan Abu Qilab karena ia memiliki anak bernama Qilab, Qilab adalah seorang pemuda yang sholeh anak semata wayang yang memiliki bapak dan ibu yang telah tua renta atau lanjut usia, beliau sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, Qilab anak yang sholeh dimana tidak ada kebaikan kecuali ia maksimal berusaha untuk mengerjakannya.

Suatu hari ia berjalan bertemu dengan 2 sahabat Nabi dan bertanya kepada keduanya:”Apa amalan yang paling dicintai oleh Allah“, sahabat ini berkata:”Jihad dijalan Allah Subhanahu wata’ala”, akhirnya Qilab mendatangi amirul mukminin Umar Radhiyallahu ‘anhu ia minta untuk dikirim ke As Shugur, As Shugur adalah daerah perbatasan kaum muslimin, berjaga – jaga jangan sampai daerah kaum muslimin diserang oleh musuh dari luar secara tiba – tiba namun ini bukan termasuk jihad namun kedudukannya sama dengan jihad dijalan Allah Subhanahu wata’ala, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

Dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang bermalam (begadang) untuk berjaga-jaga (dari serangan musuh) ketika berperang di jalan Allah”. (HR. Tirmidzi. Hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalan lainnya- , sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1229)

Akhirnya Umar berkata:”Baik saya bisa mengutusmu, tapi apakah kedua orang tua mu masih hidup”, ia berkata:”Benar Ya Amirul Mukminin, saya adalah anak semata wayang saya mengurus keduanya”, Umar berkata:”Saya tidak mengutusmu kecuali atas izin keduanya”, hukum asal jihad adalah fardhu kifayah, pulanglah Qilab meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk berjihad, ia berkata:”Ayah dan ibu saya minta izin untuk berjihad, saya diutus oleh Umar Radhiyallahu anhu”, bapaknya mengatakan:”Wahai anak ku jika kau mau surga kami ada disini, kami sudah tua dan kau yang mengurus kami’, tetapi karena kerinduannya dengan jihad fiisabilillah ia merengek, meraju bahkan berusaha meyakinkan ayah dan ibunya, akhirnya kedua orang tuanya melepas anaknya yang sangat ia cintai.

Ketika Qilab telah pergi awalnya Umayyah masih bersabar, berselang beberapa hari berjalan, disuatu pagi Umayyah duduk dirumahnya dan melihat seekor burung yang datang kesarangnya dan disambut oleh anak – anaknya ia kemudian teringat anaknya yang bernama Qilab, ia sangat rindu kepadanya dan setiap hari ia hanya menangis, karena banyak menangis akhirnya terjadi seperti apa yang menimpa Nabi Yaqub, Yaqub ‘Alaihisssalam karena lama berpisah dari Yusuf dia menangis dan bersedih akhirnya kedua matanya menjadi buta, Umayyah setiap pagi ia fasih bersyair tentang kondisinya dan anaknya, pada suatu hari ia membaca syair yang dikarangnya sendiri dengan mendoakan kebinasaan untuk Umar yang mengutus anaknya Qilab, ia berkata dalam syairnya:”Saya akan mengadukan Al Faruq Umar kepada tuhannya yaitu Allah jika Umar tidak mengembalikan Qilab anakku kepadaku”,

Suatu hari ia membaca syair itu ada sahabat yang lewat ia mendengar syair yang dilantunkan oleh Umayyah, ia berkata:”Ini berbahaya, ini doa laknat yang ditujukan kepada Umar”, akhirnya ia berkata:”Ya Umayyah apa yang terjadi denganmu”, ia berkata:”Saya sedih dengan anak saya”, sahabat yang lewat ini berkata:”Bisakah engkau pergi bersamaku, kita pergi jalan – jalan biar saya yang menuntunmu”, ia berkata:”Baik”, ternyata ia dibawa ke masjid didekat majelisnya Umar, ia tidak tahu kalau ia dibawa ke Umar, ketika Umayyah sedang duduk maka dikatakan kepadanya:”Ya Aba Qilab, coba perdengarkan kepada kami syair – syairmu”, ia langsung baca syairnya dihadapan Umar dan ia tidak tahu jika Umar ada didekatnya, Umar kemudian kaget setelah mendengar syair tersebut dan berkata:”Ya Aba qilab, apa salah saya mengapa engkau mendoakan aku seperti itu’, Umayyah berkata:”Ya amirul mukminin, demi Allah saya sangat sedih”, akhirnya Umar menyuruh Abu Qilab pulang kerumahnya dan pada hari itu juga Umar mengirim surat ke perbatasan agar Qilab segera kembali ke madinah dengan menggunakan kuda kilat, jadi dizaman dahulu sudah dikenal dengan perjalanan cepat, bagaimana caranya.? Caranya adalah disetiap daerah atau jarak tertentu disiapkan kuda khusus yang ditunggangi oleh penunggang khusus yang memacu kudanya dari titik satu ke titik berikutnya dengan cek point agar perjalanan yang membutuhkan waktu yang begitu lama bisa cepat sampai pada tujuan, contohnya seperti dari Makassar ke bulukumba, dari Makassar kuda dipacu dengan cepat kemudian di gowa diganti dengan kuda yang lain, kemudian sampai ditakalar, kuda lain yang membawanya, sampai dijeneponto dibawa oleh kuda lain dan seterusnya sampai di bulukumba.

Akhirnya pada hari itu juga Qilab sampai di Madinah dan tidak langsung ke rumahnya, ia menghadap kepada Umar Radhiyallahu ‘anhu Karena boleh jadi ada tugas lain, namun  ternyata Umar bertanya kepadanya:”Ya Qilab, coba ceritakan kepadaku bagaimana baktimu kepada kedua orang tuamu”, ia berkata:”Ya Amirul mukminin ini rahasia saya”, tetapi Umar terus memaksa dan mendesaknya untuk menceritakannya, Ia kemudian berkata:”Wahai amirul mukminin apa yang disukai oleh kedua orang tua saya, saya berusaha untuk mewujudkannya”, Umar kembali berkata:”Pasti ada yang lebih istimewa”, akhirnya ia berkata:”Karena anda memaksa wahai amirul mukminin, ketahuilah sudah  bertahun – tahun saya melayani keduanya sepert umumnya yang dilakukan oleh anak – anak Madinah yang lain mereka memerah susu kemudian dibawakan kepada kedua orang tuanya, adapun cara saya lain ya amirul mukminin, susu yang saya mau perah tidak saya perah diwaktu malam, saya ikat terlebih dahulu unta yang banyak susunya agar tidak banyak bergerak diwaktu malam, sebelum subuh saya buka ikatannya kemudian kantungnya sudah penuh, sebelum saya perah saya cuci terlebih dahulu dengan menggunakan air sumur yang dingin, sehingga air susu yang keluar itu dingin dan lain daripada yang lain ya Amirul mukminin, dan itu sangat disukai oleh bapak saya dan saya telah melakukannya sejak lama”, Umar lalu mengatakan:”Lakukan itu malam ini, tetapi jangan pulang ke rumahmu dan bawa susu itu kemari”,

Akhirnya ia melakukan kebiasaannya memerah susu setelah selesai, susu itu dibawa ke Umar kemudian Umar berkata:”Masuk ke kamar”, maka dipanggillah Umayyah ayah dari Qilab, Umar berkata:”Ya Aba Qilab apa yang engkau inginkan sekarang.?”, ia berkata:”Saya menginginkan kematian saja wahai amirul mukminin”, Umar kembali berkata:”Apa yang sangat engkau inginkan”, ia berkata:”Saya berharap bisa berjumpa dengan anak saya, bisa menciumnya, memeluknya sebelum saya meninggal itu harapan saya”,  Umar berkata:”Baik, Mudah-mudahan Allah mewujudkan tetapi ambil ini terlebih dahulu, minumlah susu ini dan sarapan dengan susu ini”, ia berkata:”Terima kasih wahai amirul mukminin”, Umar berkata:”Ambil, silahkan ambil dan minum dulu, ini perintah dari saya”, ia kemudian mengambil bejana yang berisi susu tersebut baru ketika ia hendak meminumnya ia berhenti dan berkata:”Demi Allah wahai amirul mukminin saya mencium bau tangan anak saya Qilab di susu ini”, Umar kemudian menangis dan memanggil Qilab dan berkata:”Jika engkau mau surga jangan tinggalkan bapak dan ibumu, itulah surga”, Rasulullah pernah mengatakan hal tersebut kepada salah seorang pemuda yang meninggalkan bapak dan ibunya dari negeri Yaman hijrah ke Madinah ia ingin berjihad bersama dengan Rasulullah, Rasulullah bertanya:”Apakah bapakmu masih hidup.?”, ia berkata:”Benar wahai Rasulullah dan saya meninggalkan keduanya dalam keadaan menangis”, Rasulullah berkata:”Pulang, buat ia tertawa sebagaimana engkau membuatnya menangis”,

Siapa yang pernah membuat ayahnya dan ibunya menangis tebus dan buat mereka tertawa, demi Allah tidak ada keberkahan, melebihi bakti kepada kedua orang tua dan tidak ada dosa yang mengalahkan dosa kepada kedua orang tua setelah kesyirikan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

1 KOMENTAR

  1. Qilab merupakan anak tunggal dan orang tuanya pun sudah sepuh. Lalu bagaimana sebaiknya seorang anak yang kedua orang tuanya masih mampu mencari nafkah dan dirumahpun ada adik-adik yang bisa menemani mereka, sang anak ingin menuntut ilmu syar’i karena ia tak mendapatkan bekal itu selama ikut pelajaran di sekolah negeri, orang tua melarang bahkan sempat opname saat mengetahui anaknya ingin belajar di negeri yang jaraknya tidak terlalu jauh ji (2x penerbangan) misalny?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.