بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

9. Ka’ab Bin Malik Sangat Gembira

Kemudian aku meminjam dua pakaian, lalu aku pakai. Setelah itu aku menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara orang-orang menemuiku untuk mengucapkan selamat atas terkabulnya taubatku. Lalu aku masuk ke mesjid. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di tengah orang banyak. Thalhah bin Ubaidullah berdiri dan berjalan cepat mendekatiku, lalu menjabat tanganku dan mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak ada orang-orang muhajirin yang berdiri selain Thalhah.


Faedah: Diantara sunnah adalah memberi salam dan berjabat tangan ketika berjumpa dengan seorang muslim lain, dalam hadist dikatakan:”Tidaklah seseorang memberi salam kemudian berjabat tangan melainkan dosanya berguguran”. Tentu dikecualikan berjabat tangan bagi yang bukan mahram. dan juga dibolehkan untuk berdiri tatkala bertemu dengan seseorang sebagaimana yang dilakukan oleh thalhah dan Rasulullah tidak mengingkarinya, Rasulullah pernah memperlakukan puterinya fatimah ketika setiap kali fatimah berkunjung ke rumah Rasulullah.


Periwayat hadits mengatakan “Ka’ab tidak pernah melupakan penyambutan Thalhah tersebut“.

10. Rasulullah Gembira Menyambut Ka’ab Bin Malik

Ka’ab berkata:”Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketika itu wajah beliau berseri-seri, beliau mengatakan:Bergembiralah, karena kamu mendapati sebaik-baik hari yang telah kamu lalui semenjak kamu dilahirkan oleh ibumu“. Lalu aku bertanya:”Wahai Rasulullah, apakah pengampunan untukku ini darimu ataukah dari Allah?“, Beliau menjawab:”Bahkan langsung dari Allah“, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau merasa senang, maka wajah beliau bersinar bagai bulan purnama, kami pun sudah mengenal hal itu.

Ketika saya duduk di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, aku berkata:”Wahai Rasulullah, di antara bentuk taubatku adalah aku serahkan hartaku sebagai sedekah untuk Allah dan Rasulnya“. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Sisakan sebagian hartamu, yang demikian itu lebih baik bagimu“.


Faedah: Islam menyuruh kita bersedekah dan mengeluarkan zakat bukan mengeluarkan semua harta yang dimiliki, melainkan hanya sebagian yang dikeluarkan dan sebagian lagi disisakan untuk keluarga. Bahkan dalam bersedekah kita dilarang untuk berlebih – lebihan oleh karenanya sikap yang baik adalah pertengahan. Kemudian dalam bersedekah dilarang menyedekahkan sesuatu yang menurut kita buruk untuk diberikan kepada orang lain karena dapat melukai hati orang yang diberi dan juga jangan mengambil harta yang paling dicintai karena dapat melukai hati orang yang memberi oleh sebab itu hendaknya pertengahan dalam memberi sedekah kepada orang lain.


Lalu aku berkata:”Aku sisakan hartaku yang menjadi bagianku pada perang Khaibar. Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku hanyalah karena kejujuranku, dan di antara bentuk taubatku adalah aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur pada sisa umurku“.

11. Allah Menurunkan Ayat Diterimanya Taubat Ka’ab Bin Malik

Ka’ab mengatakan:”Demi Allah, aku tidak mengetahui bahwa seorang muslim diuji oleh Allah karena kejujuran bicaranya sejak aku tuturkan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai sekarang ini, yang lebih baik daripada apa yang telah diujikan oleh Allah Azza wa Jalla kepadaku. Demi Allah, aku tidak lagi ingin berbohong semenjak aku katakan itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai sekarang ini, dan aku berharap semoga Allah menjagaku dari kedustaan dalam sisa umurku sampai aku meninggal dunia”.

Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Sungguh, Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka”. 

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang“.

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”(QS. At-Taubah: 117-119).

Ka’ab mengatakan:”Demi Allah, tidak ada nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadaku setelah Allah menunjukkanku kepada Islam yang aku anggap lebih besar daripada kejujuranku kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya aku berdusta, maka aku akan celaka sebagaimana orang-orang yang berdusta”.

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyebutkan kejelekan orang-orang yang berdusta ketika Allah menurunkan ayat:”Mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, ketika kamu kembali kepada mereka, agar kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu berjiwa kotor dan tempat mereka neraka Jahannam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu bersedia menerima mereka. Tetapi sekalipun kamu menerima mereka, Allah tidak akan ridha kepada orang-orang yang fasik“. (QS. At-Taubah: 95-96).

Ka’ab berkata kepada kedua orang temannya:”Kita bertiga adalah orang-orang yang tertinggal dari kelompok yang telah diterima oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mereka bersumpah, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaiat mereka dan memohonkan ampunan untuk mereka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menangguhkan persoalan kita sampai ada keputusan dari Allah Azza wa Jalla tentang persoalan kita; maka dalam hal tersebut Allah Ta’ala berfirman:”Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas“. (QS. At-Taubah: 118).

Apa yang difirmankan Allah dalam ayat itu bukanlah tentang sikap kita yang tidak ikut serta dalam perang, melainkan tentang tertinggalnya kita untuk menyampaikan alasan kita dari kelompok orang-orang yang bersumpah dan memberikan alasan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun menerima alasan mereka“. (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan An-Nasai).

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Jum’at, 17 Dzulhijjah  1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

kisah kaab bin malik, taubat nasuha, bertaubat, taubat, kisah sahabat, kisah nabi, sirah sahabat, sirah nabi, sejarah islam, sejarah sahabat, kisah kaab, sirah kaab, taubat kaab bin malik, tata cara taubat, syarat taubat, hijrah taubat, hijrah setelah taubat, kisah islam, kisah, sirah, sejarah, dalil taubat, taubat dari dosa, taubat setelah berdosa, dosa besar, dosa terampuni, taubat yang diampuni, segera bertaubat, markaz imam malik, media MIM, Infokom MiM, Ustadz Harman Tajang

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR