بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hendaknya pelaksanaan Qishas, Hudud dan Had disaksikan oleh kaum muslimin agar menjadi pelajaran bagi mereka sehingga mereka tidak melakukan hal yang sama oleh orang yang dihukum

Ada sebuah kisah dimana seseorang menolak hukum qishas dengan mengatakan:”Qishas hukum  keji dalam islam, mengapa hanya mengambil seperempat dinar sampai tangan dipotong seperti itu”, akhirnya berlalu waktu dan rumahnya kecurian, barang – barang berharga dalam rumahnya diambil, kemudian dia ditanya bagaimana pendapat anda tentang hukum potong tangan”, ia mengatakan:”Mestinya bukan tangannya yang dipotong tetapi lehernya”,

Jadi dalam hukum agama islam ada rahmah dan kebaikan. Manusia adalah hamba yang diatur oleh Allah Subhanahu wata’ala jika seorang hamba tidak mau diatur oleh syariat maka akan tersebarnya perbuatan buruk seperti merajalelanya zina dan ini merupakan ciri dan tanda akhir zaman dimana seseorang berzina dipinggir jalan kemudian lewat seseorang akan tetapi tidak lagi mengingkarinya dan ia hanya berkata:”Aduhai andaikan ia berlindung dibalik pagar”,

Tidaklah zina tersebar disuatu kampung melainkan Allah Subhanahu wata’ala menurukan suatu penyakit dimana penyakit tersebut belum pernah ada dizaman ummat terdahulu. Imam As Syauqi Rahimahullah berkata:”Keutuhan suatu kaum kembali kepada akhlaknya, jika akhlaknya sudah hancur maka tunggulah kehancuran”.

Jika sudah banyak kekejian dan tidak ada pengingkaran maka akan menjadi sebab diturunkannya azab secara merata, oleh karenanya didalam islam terutama perbuatan zina Allah Subhanahu wata’ala memperingatkan hambanya:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al Israa: 32). 

Didalam islam sebelum zina, pada saat zina, dan setelah terjadi telah ditetapkan hukumnya dalam agama islam:

Sebelum Terjadi Zina

Sebelum terjadi zina diharamkan seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang wanita karena tidaklah seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang wanita melainkan ketiganya adalah syaithan dan termasuk khalwat adalah didunia maya, khalwat didunia maya bisa lebih berbahaya dari pada didunia nyata bahkan berapa banyak dosa dan maksiat yang terjadi didunia nyata karena berawal dari dunia maya, oleh karenanya hendaknya bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala dan sebelum tangan menekan enter pada gadget maka sebelumnya telah dilihat oleh Allah Subhanahu wata’ala, mari jaga diri kita dari neraka Allah Subhanahu wata’ala.

Nasehat indah:”Jika dirimu bersendirian dalam gelapnya malam kemudian jiwamu mengajak engkau untuk bermaksiat, malulah engkau pada Allah dan katakan kepada jiwamu sesungguhnya yang menciptakan gelapnya malam melihat apa yang aku lakukan”. Allah maha mengetahui apa yang kita lakukan dan kelak tangan akan bersaksi, kaki akan bersaksi bahkan apa yang disembunyikan dalam dada dan hati kita diketahui oleh Allah Subhanahu wata’ala, oleh karena itu kita dilarang untuk berkhalwat, berikhtilat, wanita dilarang untuk banyak keluar dari rumahnya tanpa haq atau untuk alasan yang darurat, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya“. (QS. Al-Ahzab :33)

Andaikan pun seorang wanita keluar dari rumahnya maka ia dilarang untuk memakai parfum yang menyengat sehingga orang yang lewat tergoda. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Jika seorang wanita keluar dari rumahnya maka ia dibuat indah oleh syaithan”, dan hendaklah seorang wanita menjaga busananya dengan busana yang syar’i,. lelaki dan wanita dilarang untuk memandang yang haram baik didunia nyata maupun didunia maya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. An Nur: 30)

Seseorang yang mampu menundukkan pandangan matanya Allah akan mewariskan dalam hatinya kekuatan iman dan kekuatan pemahaman terhadap ilmu adapun sebaliknya jika ia tidak mampu menundukkan pandangan matanya maka akan menjadi penyesalan dalam dirinya

Betapa banyak terjadi keburukan karena berawal dari pandangan, sebagaimana perkataan Ahmad ibn Khalil:”Berawal dari pandangan kemudian senyuman, kemudian sapaan, kemudian janji, kemudian pertemuan setelah itu zina”.

Terutama bagi pemuda yang belum menikah  jaga diri dengan baik, sholehkan diri agar mendapatkan pasangan yang sholehah karena Allah tidak menyelisihi janjinya. Allah berfirman:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)“. (QS. An Nur: 26).

Pada Saat Terjadi Zina

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya”: diantaranya adalah:

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ

(5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata:”Aku benar-benar takut kepada Allah”.

Barangsiapa yang tergesa-gesa dengan sesuatu sebelum waktunya maka diharamkan untuk mendapatkan yang sebenarnya pada waktunya.

Salah satu sifat bidadari surga adalah senantiasa menundukkan pandangan – pandangan mereka, mereka tidak  memandang kecuali suami mereka disurga, ulama kita mengatakan:”Barangsiapa yang tidak mampu mengendalikan pandangan matanya di khawatirkan diharamkan dari bidadari”,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ

Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena menikah itu lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan”. (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400).

Adapun Setelah Zina

Sebagaimana yang  telah kita sebutkan yaitu hendaklah ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang jujur dari dosa zina yang ia lakukan, adapun jika dalam suatu negeri syariat qishas bisa dilakukan maka hendaklah dilakukan karena dengan Qishas dosa zina diampuni oleh Allah didunia dan diakhirat sebagaimana kisah wanita pezina yang telah kita sebutkan.

Jadi semua syariat yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah rahmah yang didalamnya ada hikmah dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali orang yang pendek akalnya atau yang mengikuti hawa nafsunya untuk melakukan keburukan.

Amalan Menghapuskan Dosa

Jadi dari kisah wanita pezina yang bertaubat andaikan dosanya dibagikan kepada 70 penduduk madinah yang melakukan perbuatan dosa besar maka akan mengampunkan dosa – dosa mereka.

Dosa kecil terhapuskan dengan amalan – amalan sholeh yang kita kerjakan, Allah berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al Ankabut :7).  Maksudnya dosa – dosa kecil berguguran dengan sholat yang ditunaikan, dengan puasa yang dikerjakan, 9 dzulhijjah yang lalu menghapuskan dosa 2 tahun yaitu dosa – dosa kecil, begitu juga dengan cobaan dan musibah yang menimpa kita, penyakit, kegelisahan, gunda gulana, sampai duri yang menusuk kaki jika bersabar maka dosa – dosa berguguran, adapun dosa – dosa besar membutuhkan taubat secara khusus.

Olehnya hukum had, hudud, qishas menghapuskan dosa sebagai bentuk penyucian didunia sebagaimana wanita pezina yang telah kita sebutkan, adapun diakhirat dia telah diampunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, hal ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah Subhanahu wata’ala kepada hambanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang 3 dosa besar:

 عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُ  قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ لِلهِ نِدًّا، وَهُوَ خَلَقَكَ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu ia berkata:“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:”Dosa apakah yang paling besar?”,Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  menjawab:”Engkau menyekutukan Allah padahal Dia yang telah menciptakanmu”. Kemudian aku bertanya lagi:”Kemudian dosa apa lagi?”, Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  menjawab:”Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu”, Aku bertanya lagi:”Kemudian dosa apa lagi?”, Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  pun menjawab:”Engkau berzina dengan istri tetanggamu”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Melakukan dosa kesyirikan, membunuh jiwa yang diharamkan dan melakukan perbuatan zina dan siapa yang melakukan perbuatan tersebut ia memikul dosa besar yang azabnya dilipatgandakan pada hari kiamat. Adapun pelaku dosa kesyirikan atau pelaku dosa besar seperti membunuh jiwa atau berzina jika ia menghalalkan perbuatan tersebut maka dia berdosa besar yang mengeluarkannya dari islam dan kelak dia kekal didalam neraka.

Mengerjakan dosa besar tidak sampai kekal dalam neraka akan tetapi dia berada pada kehendak Allah, jika Allah ampuni maka  dia dimasukkan kedalam surga jika tidak maka dia dimasukkan kedalam neraka  kecuali orang yang menghalalkannya seperti ia berkata:”Riba halal bukan haram“, selama ia mengetahui jelas bahwa hukumnya haram kemudian ia menghalalkannya maka dia kafir dan kekal didalam neraka,  akan tetapi jika ia mengatakan:”Saya terpaksa melakukan riba dan saya tahu riba perbuatan dosa“, maka ini bisa dimaafkan atau diampuni.  Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. (QS. Al-Baqarah: 276).

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 21 Dzulhijjah  1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR