بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Yang Kedua: Jika Diawal Amalannya Dia Ikhlas

Misalnya diawal sholat dia ikhlas karena Allah tiba – tiba dia rasa calon mertua masuk ke masjid sehingga dia perindah bacaannya bagaimana hukumnya..?, ulama kita mengatakan:”Jika dia berusaha menolak bisikan – bisikan riya itu maka tidak mambahayakan amalan itu dan pahalanya dituliskan secara sempurna”, tetapi jika terbuai atau berlezat – lezat dengan bisikan itu maka ini yang rawan atau berbahaya walaupun ada khilaf dikalangan para ulama tetapi berhati – hati kita harus berusaha melawan bisikan – bisikan tersebut.

Olehnya ketika kita sholat dan ada yang mengganggu konsentrasi kita maka tidak mengapa meludah ke kiri 3 kali dengan halus dan beristi’aza. Sama halnya ketika mimpi buruk kemudian kita terbangun maka perbaiki perasaan terlebih dahulu kemudian meludah 3 kali ke kiri kemudian minta perlindungan kepada Allah dan ubah posisi tidur.   

Mungkin ada yang mengatakan jika begitu tidak usah saya beramal karena jangan sampai ketika saya mengerjakan amalan itu saya terjatuh dalam riya, pemahaman ini keliru atau salah kaprah sebagaimana perkataan salah seorang salaf:”Siapa yang meninggalkan sebuah amalan karena manusia maka itu riya, dan siapa yang mengerjakan amalan karena manusia maka itu syirik dan yang selamat adalah berusaha berlepas dari kedua – duanya”.

Lalu bagaimana jika ada yang berkata:”Saya berusaha ustadz untuk ikhlas melakukan amalan”, walaupun dia mengatakan ikhlas maka itu alamat tidak ikhlas, sebagaimana ungkapan dari sebuah perkataan:”Siapa yang melihat keikhlasan pada ikhlasnya maka keikhlasannya itu masih membutuhkan keikhlasan“. Untuk menjadi orang yang ikhlas membutuhkan mujahadah, jihad nafsu, semangat dan berusaha melawan bisikan – bisikan jiwa dan bisikan – bisikan syaithan karena syaithan berusaha merusak amalan kita karena dia tidak mau amalan kita diangkat atau amalan kita dicatat, dia tidak mau amalan kita disimpan disisi Allah Subhanahu wata’ala, dia merusak amalan kita dengan bisikan – bisikan bahkan berusaha agar kita tidak mengerjakan amalan itu, jika dia gagal atau tidak mampu menggoda kita maka dia datang dengan senjata yang lain yaitu tidak mengapa kita mengerjakan amalan tersebut tetapi dipenuhi dengan riya dan sum’ah.  

Bagaimana jika kita berusaha ikhlas tetapi ada yang memuji kita tanpa kita minta dan harap, hal ini pernah disampaikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dari sahabat yang mulia Abu Dzar, disampaikan kepada Nabi:“Seorang lelaki yang berusaha menjaga amalannya dan orang – orang memujinya dangan amalan yang ia kerjakan, apakah ia termasuk riya Ya Rasulullah”, beliau mengatakan:” tidak“, kemudian Nabi berkata:”Semoga itu adalah kabar gembira yang dipercepat seorang mukmin”, jadi jika ada orang yang mengerjakan kebaikan dan ia menjaga niatnya kemudian dipuji oleh manusia maka ini adalah kabar gembira yang dipercepat untuknya sebelum ia mendapatkan kabar gembira yang sebenarnya dihari kemudian yang diberikan oleh Allah dan ini makna firman Allah diakhir surah Maryam:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang”. (QS. Maryam: 96).

Ibnu Abbas berkata:”Kasih sayang disini adalah kecintaan makhluk kepadanya“, jadi orang sholeh yang mengerjakan ketaatan dan ibadah akan dicintai oleh manusia dan ini adalah balasan di dunia sebelum di akhirat, bukankah seseorang yang mengerjakan amalan sholeh kemudian dicintai oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam hadist qudsi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي جِبْرِيلُ فِي السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، وَيُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila Allah Tabaraka wa Ta’ala mencintai seorang hamba, Allah menyeru kepada Jibril, “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia!”, Maka Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru di langit, “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia (wahai para malaikat)!”, Maka penduduk langit mencintainya. Dan Allah menjadikan dia diterima di bumi (yakni dicintai orang-orang shalih di bumi-pen). (HR. Al-Bukhari, no. 7485; Muslim, no. 2637; dan ini lafazh Al-Bukhari).

Nabi pernah berada diatas gunung uhud bersama dengan Abu Bakar as Shiddiq dan Umar Radhiyallahu ‘anhu tiba – tiba gunung uhud goyang, Nabi menghentakkan kakinya dan berkata:”Tenang wahai gunung uhud diatas mu ada Nabi, seorang Shiddiq dan 2 orang syahid”, menunjukkan manusia yang menghabiskan umurnya dengan ketaatan maka alam akan bersahabat dengannya tapi kapan bumi ini diisi dengan kemaksiatan, dipertontonkan, dibanggakan dan tersebar dimana – mana dan tidak ada pengingkaran maka tunggulah bencana demi bencana akan terus datang karena semua yang ada dilangit dan dibumi adalah tentara dari  tentara Allah Subhanahu wata’ala, jadi orang yang beriman akan dicintai oleh semua makhluk bahkan bumi yang ia pijak ketika ia meninggal bumi merasa kehilangan langit juga demikian. Ketika Allah menenggelamkan Fir’aun langit dan bumi tidak menangisi kematiannya ini menunjukkan jika yang meninggal adalah orang sholeh maka langit dan bumi akan menangis dan bersedih dengan kematiannya karena tempat yang ia pijak dia gunakan untuk selalu beribadah kepada Allah, itulah mengapa ketika Saad bin Muadz pemuka anshar meninggal dunia Nabi berkata:”Arsy Allah bergetar karena kematian Saad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu”.

Setelah kita mengetahui bahwasanya ini adalah penyakit yang berbahaya maka kita tidak boleh pasrah dan mengalah kita harus melawannya.

Pertama: Dengan Doa

Diantara cara melawannya yaitu dengan perbanyak doa agar Allah menyelamatkan kita dari penyakit riya, Nabi mengajarkan kepada kita sebuah doa yaitu doa agar terhindar dari kesyirikan dan riya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

“Yaa Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari berbuat kesyirikan ketika aku mengetahuinya dan aku memohon ampunan Mu ketika aku tidak mengetahuinya”. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).

Kedua: Riya Membuat Rugi

Kita mengetahui bahwasanya kita akan rugi sendiri dan tidak ada nilainya amalan yang kita kerjakan sebanyak apapun amalan yang kita kerjakan, zakat yang kita keluarkan, umrah yang kita tunaikan, sholat yang kita kerjakan, kita mengumpulkam harta kemudian menunggu antrian yang panjang ketika dari tanah suci hanya untuk mendapatkan gelar haji bahkan marah ketika tidak dipanggil pak haji, jangan sampai pengorbanan kita itu sia – sia dan tidak ada nilainya disisi Allah Subhanahu wata’ala.

Ketiga: Keridhaan dan Kepuasan Manusia Tidak Mungkin Kita Capai

Bagaimanapun kita berusaha untuk mencapainya maka mustahil bisa kita capai, oleh karenanya carilah keridhaan Allah, jangan meninggalkan sebuah amalan karena celaan dan ejekan kemudian jangan menjadi sombong dengan pujian, disebutkan oleh Hasan Al Basri:”Orang yang ikhlas dalam mengerjakan amalan untuk tuhannya seperti orang yang berjalan diatas pasir bekasnya dapat dilihat namun suaranya tidak didengar”.

Kata ‘Aisyah ketika memberikan nasehat kepada Muawiyah Radhiyallahu ‘anhu:”Siapa yang mencari keridhaan Allah dengan mendapatkan kemurkaan manusia (misalnya kita mau menjalankan apa yang diinginkan oleh Allah tapi manusia tidak senang_Penj), beliau berkata:”Allah akan ridho kepadanya dan seiring dengan perjalanan waktu Allah menjadikan manusia juga ridha kepada dia”, sebaliknya siapa yang mencari keridhaan manusia dengan mendapatkan kemurkaan dari Allah maka Allah akan murka kepadanya dan seiring dengan perjalanan waktu manusia juga murka kepada dia bahkan dari orang yang cari muka dari dia”, ini hanya masalah waktu dan ini sudah sunnatullah, jadi carilah keridhaan Allah Subhahahu wata’ala bukan keridhaan manusia.

Keempat: Berusahalah Untuk Selalu Menyembunyikan Amalan

Terutama amalan yang tidak perlu untuk ditampakkan, adapun amalan yang harus ditampakkan kita berusaha menjaga amalan itu dari riya tapi amalan – amalan yang bisa disembunyikan sembunyikanlah seperti amalan –amalan nafilah, amalan-amalan sunnah, olehnya Nabi menyebutkan dalam hadist:

إِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ

Sesungguhnya shalat seseorang yang paling afdhal adalah shalat yang dikerjakan di rumahnya, kecuali shalat wajib“. (HR. Bukhari 731, Muslim 1861 dan yang lainnya).

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 06 Dzulhijjah 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p



 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.