بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( كُلْ, وَاشْرَبْ, وَالْبَسْ, وَتَصَدَّقْ فِي غَيْرِ سَرَفٍ, وَلَا مَخِيلَةٍ )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَأَحْمَدُ, وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari ‘Amr Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu ‘anhum (semoga Allah meridhai mereka) berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Makanlah dan minumlah dan berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebihan (israf) dan tanpa kesombongan”. (HR. Abu Dawud dan Ahmad dan Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan secara ta’liq).

Jika kita mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam segala dan kondisi kehidupan kita maka kita tidak akan mendapatkan musibah dan ujian berupa penyakit insyaAllah, salah seorang Tabib (Dokter) dizaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (Orang ini tidak sempat masuk islam yang bernama Al Harist ibn Kaladah_Penj), ia banyak bermusyawarah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang obat – obatan sehingga Rasulullah banyak mengambil faedah darinya, diantara perkataannya yang masyur:”Perut adalah sumber segala penyakit, bersifat pertengahan ketika makan itulah inti pengobatan yang sebenarnya”, olehnya dalam hadist diatas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kita untuk tidak berlebih – lebihan, Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوٓا  إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“……Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”. (QS. Al-A’raf : 31).

Ukuran dalam makan telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini butuh pembiasaan dan jika kita membiasakan hal ini maka akan merehatkan kita serta menyenangkan dan menyehatkan kita karena inilah pola hidup yang sehat, Rasulullah menyebutkan dalam hadist:

مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ حَسْبُ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk nafasnya”. (HR. Ahmad (IV/132), Ibnu Majah (no. 3349), al-Hakim (IV/ 121).

Terkadang ketika kita hendak makan yang kita cari adalah sandaran agar kemudian kita banyak makan dan ketika kenyang kita sandarkan punggung kita karena susah ditegakkan, Rasululah mengatakan jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk nafasnya, sekali – sekali tidak mengapa lebih dari itu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah ketika beliau mensyarah hadist dimana Rasulullah pernah memberikan susu kepada Abu Hurairah setelah beliau minum Rasulullah berkata:”Tambah Abu Hurairah, Tambah Abu Hurairah, Tambah Abu Hurairah, beliau terus minum, akhirnya Abu Hurairah berkata:”Demi yang mengutusmu dengan kebenaran Ya Rasulullah saya tidak lagi mendapati tempat dalam perut saya”, dari hadist ini Ibnu Qayyim berkata tidak mengapa sekali – sekali.

Ukuran berlebih-lebihan misalnya dalam membeli sesuatu baik makanan, minuman atau apa saja kita dilarang untuk berlebih – lebihan, Umar berkata:”Cukup seseorang itu dikatakan berlebih – lebihan ketika dia membeli semua yang ia mau”, jangan karena memiliki banyak harta kita membeli semua yang kita mau, olehnya gunakan qaidah ketika membeli yaitu:“Beli yang anda butuhkan jangan beli yang anda inginkan”. Umar mengatakan tidak masuk pemborosan bagi yang memberi parfum dengan sepertiga hartanya, hal ini pula dijadikan oleh para ulama tentang keutamaan menggunakan parfum, sebagaimana Rasulullah tidak pernah tercium dari dirinya kecuali bau yang harum begitupula sahabat – sahabat yang lain, inilah islam sampai dalam bersedekah kita dilarang berlebih – lebihan dan diantara sifat ibadurrahman disebutkan yaitu seseorang ketika berinfaq dia tidak berlebih – lebihan tetapi juga tidak terlalu kikir, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”. (QS. Al-Isra’: 29).

Islam adalah agama pertengahan yang menyuruh kita bersedekah tapi dilarang berlebih – lebihan bahkan Rasulullah berkata kepada Muadz:”Jangan engkau mengambil harta yang paling mereka cintai”, dalam bersedekah kita harus melihat apa yang kita sedekahkan, jangan menyedekahkan sesuatu yang bisa membuat seseorang sakit hati, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Al-Baqarah : 267).

Jangan memberikan makanan yang hampir basi kepada saudara kita karena hal itu dapat menjadikan hati mereka sedih dan sakit, begitupula dengan memberikan pakaian yang tidak layak dipakai, tetapi hendaknya berikan yang layak dikonsumsi dan layak untuk digunakan karena jika tidak kita menyakiti hati dan perasaan orang yang kita beri dan itu dilarang dalam agama kita, mungkin ada yang bertanya:”Ustadz kita dilarang untuk berlebih – lebihan sebagaimana hadist yang berbunyi:”Jangan bersedekah dengan harta yang terbaik”, tapi bukankah dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Ali-Imran :92).

Bagaimana cara memadukan antara hadist dan ayat ini, jawab:”Ulama kita mengatakan bahwasanya

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُو

Syaratnya adalah jangan menyesal setelah memberikannya, hal ini dilakukan oleh orang – orang yang keimanannya sudah seperti dengan Abu Bakar as Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dalam sebuah peristiwa ketika Nabi menyuruh sahabat untuk bersedekah, Umar berkata:”Hari ini saya akan kalahkan Abu Bakar”, Umar datang kepada Rasulullah dengan membawa separuh hartanya, Nabi bergembira melihatnya, Rasulullah berkata kepada Umar apa yang engkau sisakan untuk keluargamu, ia berkata:”Masih ada seperuhnya Ya Rasulullah“. Tidak lama kemudian datanglah Abu Bakar as Shiddiq dengan membawa seluruh hartanya dan disaksikan oleh Umar, Rasulullah bertanya:”Apa yang engkau simpankan untuk keluargamu“, Abu Bakar berkata:”Aku simpankan untuk mereka Allah dan Rasulnya”, Umar berkata:”Saya tidak bisa mengalahkan Abu bakar”,  ini jika keimanan kita sudah seperti Abu Bakar , jangan karena mendengar ayat dan kisah ini kemudian kita menyedekahkan semua harta yang kita miliki sehingga keesokan harinya menyesal.

Allah maha tahu kondisi dan keadaan hamba – hambanya, Ibnu Umar diantara makanan yang beliau sukai adalah gula, pernah suatu hari beliau sengaja ke pasar beli sebungkus gula kemudian beliau berikan kepada fakir miskin, orang kemudian berkata:”Wahai Ibnu Umar mengapa engkau tidak memberikan kepadanya uang, itu lebih bermanfaat bagi dia.?, Ibnu Umar berkata:”Benar ini bisa saya lakukan dan mungkin lebih bermanfaat bagi dia namun Allah berfirman:”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai” dan saya sangat suka makan gula makanya sengaja saya simpan gula ini dan saya berikan kepada orang.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR