بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hadist yang menjadi pembahasan utama dalam kitab ini adalah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu atau Abdurrahman ibn sahr, nama Abdurahman bin Sakhr diberikan oleh Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kunniyah beliau adalah Abu Hurairah, ketika beliau ditanya hal tersebut beliau berkata:”Dulu saya sering bermain – main dengan seekor anak kucing”.

Sebelum masuk islam nama beliau adalah Abdus Syams artinya hamba matahari kemudian diubah oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi Abdurahman bin Sakhr, beliau berasal dari kabilah Daus dan beliau masuk islam lewat perantaraan salah seorang sahabat yang bernama Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi salah satu utusan dari kabilah Daus yang datang ke kota Makkah diawal – awal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam mendakwahkan islam, ketika beliau masuk ke kota Makkah orang – orang Quraisy memperingati beliau dengan berkata:”Berhati-hatilah engkau dengan seseorang yang bernama Muhammad, perkataannya seperti sihir, dia memisahkan seorang anak dengan bapaknya dan seorang suami dengan istrinya”, jadi sejak zaman dahulu orang – orang yang mencegah orang lain dari kebaikan sudah ada, orang – orang Quraisy mentahdzir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, akhirnya Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi mengambil kapas dan diletakkan di kedua telinganya, akan tetapi Allah berkehendak untuk memberikan hidayah kepadanya sehingga beliau berkata:”Saya adalah seorang penyair, saya adalah orang yang cerdas lalu mengapa saya tidak dengar, jika baik saya ambil jika buruk saya tidak mengambilnya”, ketika ia mendengar dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ayat – ayat yang dibacakan dan hikmah yang disampaikan kepada beliau maka hidayah masuk ke dalam hatinya dan menyatakan keislamannya, beliau kembali ke kampungnya menjadi da’i dikabilah Daus dan diantara rumah yang masuk islam pada waktu itu adalah rumah Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat yang meriwayatkan hadist terbanyak dengan jumlah  5374 hadist, bahkan banyak dari kalangan sahabat dan tabi’in meriwayatkan hadist dari beliau sebagaimana perkataan Imam Bukhari Rahimahullah lebih 800 sahabat dan tabi’in meriwayatkan hadist dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

Marwan ibn Hakam pernah menguji hafalan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dengan cara memanggil beliau pada suatu majelis lalu Abu Hurairah menghafalkan hadist kemudian sekretaris dari Marwan ibn Hakam menuliskan setiap hadist yang ia dengarkan dari Abu Hurairah, setahun kemudian Abu Hurairah dipanggil lagi oleh Marwan ibn Hakam untuk menyampaikan hadist yang pernah ia dengarkan dan pernah ditulis oleh sekretarisnya dan tidak ada yang salah dari hadist yang beliau sampaikan walaupun satu huruf, dan ini tidak terlepas dari keberkahan doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

Hadist Pertama

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam”, Beliau Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman)”. (HR. Muslim, no. 2162).

Dalam riwayat yang lain disebutkan ada 5:

وَعَنْ أبي هُريرةَ رَضِي الله عَنْهُ أَنَّ رَسُول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِِ عَلََى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ، رَدُّ السَّلَامِ. وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ، وَاتِّبَاعُ الجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ . وتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, mengunjungi orang sakit, mengikuti jenazah-jenazah, memenuhi undangan, dan menjawab orang yang bersin”. (Muttafaq ‘alaih)

Perbedaan riwayat yang seperti ini tidak menafikan antara yang satu dengan yang lain bahkan justru saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain sebagaimana kata Rasulullah:”Saya diberikan 5 keistimewaan”, dalam riwayat yang lain beliau mengatakan:”Saya diistimewakan oleh Allah dibandingkan dengan Nabi – Nabi yang lain dengan 6 perkara”, jadi hal ini tidak bertentangan antara yang satu dengan yang lain tetapi saling melengkapi dan riwayat yang menyebutkan lebih banyak itu melengkapi yang kurang dari riwayat yang banyak tersebut.

  1. Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya.

Islam memerintahkan kita untuk memberi salam kepada saudara kita bahkan diantara nama – nama Allah adalah As Salam dan diantara nama surga adalah Darussalam karena didalamnya tidak ada lagi keburukan, di surga tidak ada lagi keletihan, sehingga disebut dengan Darussalam, ini diantara wasiat pertama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau hijrah ke Madinah beliau berwasiat dengan berkata:”Sebarkan salam diantara kalian”. Mengucapkan salam ditalqinkan langsung oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Adam ‘Alaihissalam, ketika Adam selesai diciptakan Allah memerintahkan beliau untuk menemui Malaikat yang sedang berkumpul pada suatu majelis, Adam mendatangi  mereka dan memberi salam kepada mereka:”Assalamu ‘alaikum”, salamnya dijawab oleh Malaikat – Malaikat Allah Subhanahu wata’ala, ucapan salam didalamnya mengandung unsur doa dimana terjemahannya:”Keselamatan atas kalian”.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam surah An-Nur ayat ke 27:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat”. (QS. An-Nur : 27).

Mungkin ada yang bertanya bagaimana jika rumah itu adalah rumah kita sendiri kemudian kita kontrakkan kepada seseorang apakah ketika kita datang bisa langsung masuk.? jawab: Walaupun rumah itu adalah milik kita maka tidak boleh karena pemanfaatannya telah kita sewakan kepada orang lain begitupula dengan rumah keluarga kita seperti om atau tante kita. Allah dan Rasulnya memerintahkan kita untuk meminta izin dan memberi salam bahkan dalam rumah kita sendiri begitupula ketika kita ingin masuk ke kamar saudara atau saudari kita, bahkan ketika masuk ke ruangan atau kamar ibu kita. Walaupun tidak memberi salam minimal meminta izin atau memberi isyarat bahwa kita ingin masuk misalnya dengan berdehem, ketika hal tersebut disampaikan kepada Nabi dan ada sahabat yang heran, beliau berkata:”Apakah engkau senang melihat ibumu dalam keadaan telanjang dan tidak berpakaian”, ada sebagian orang yang dalam keadaan tertentu tidak siap dilihat oleh orang lain sekalipun adalah mahramnya.

Dalam surah yang sama pada ayat 61 Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ آبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَانِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَامِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَالِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَالَاتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ أَوْ صَدِيقِكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا ۚ فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya”. (QS. An-Nur : 61).

Hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri maksudnya adalah kepada saudara – saudara kalian atau ahlul bait karena didalam Al-Qur’an dan hadist Allah Subhanahu wata’ala terkadang memerintahkan kepada diri kita akan tetapi diperuntukkan untuk saudara kita yang lain, ini menunjukkan eratnya persaudaraan diantara kita sebagaimana dalam firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Hujurat : 11).

“Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri” maksud dari larangan ini adalah janganlah kalian mengejek saudara kalian karena jika kalian mengejek saudara kalian sama halnya kalian mengejek diri kalian sendiri .

Allah berfirman dalam surah An-Nisaa : 86

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”. (QS. An-Nisaa : 86).

Jika ada seseorang yang memberi salam kepada kita maka balaslah dengan yang lebih baik atau minimal sama. Yang Pertama kata para ulama kita dari sisi Lafadz misalnya ada yang memberi salam:”Assalamu ‘alaikum”, maka kita jawab:”Wa’alaikumussalam”, jadi kita menjawabnya dengan lafadz yang sama panjangnya, jika ada yang memberi salam:”Assalamu ‘alaikum warahmatullahi”, kemudian kita jawab dengan:”Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”, maka kita menjawab salam yang pendek dari orang tersebut dengan jawaban salam yang sempurna maka ini yang dimaksud membalas salam dengan yang lebih baik. Yang kedua dari sisi Kaifiyah misalnya kita berjumpa dengan seseorang dijalan dan memberi salam:”Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, dia memberi salam dengan muka yang masam tidak ada senyum sedikitpun, maka kita jawab:”Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”, disertai dengan senyuman atau ditambah dengan ucapan lain:”Apa kabar”,

Bersambung: Kitabul Jami’, Hak Muslim Terhadap Muslim Lainnya (Memberi Salam) 1

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR