بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kitabul Jami’ adalah bagian dari kitab Bulugul Maram dimana didalamnya disebutkan hadist – hadist yang berkaitan masalah adab dan akhlak. Adab merupakan perkara yang sangat penting untuk kita ketahui dan hendaknya seorang muslim untuk senantiasa memberikan perhatian terhadap adab dan akhlak dan berusaha untuk mengamalkan dalam kehidupan sehari – hari. Para Salaf as Sholeh rahimakumullah didalam menuntut ilmu mereka mendahulukan yang berkaitan dengan masalah adab dan akhlak.

Al Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:”Yang dimaksud dengan Al Adab yaitu ketika seseorang berkata dan melakukan perbuatan yang disenangi“. Ketika seseorang berusaha untuk memiliki akhlak yang mulia karena merupakan petunjuk yang dengannya Allah Subhanahu wata’ala menyempurnakan Nabinya Shallallahu ‘alaihi wasallam,  Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam : 4).

Aisyah Radhiyallahu anha mensifatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perkataan beliau yang masyur ketika Aisyah ditanya:”Bagaimana akhlaknya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam”, beliau kemudian menjawab:”Akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itulah Al-Qur’an“. Al-Qur’an adalah petunjuk didalamnya berisi perintah dan larangan dan tak satupun perintah yang ada didalam Al-Qur’an melainkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terdepan mengamalkan dan mencontohkannya dan tak satupun larangan yang Allah Subhanahu wata’ala sebutkan didalam Al-Qur’an melainkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang pertama kali meninggalkannya dan beliau mencontohkan dalam perkataan dan perbuatannya dan ini pula yang di ikuti oleh sahabat – sahabat beliau Radhiyallahu ‘anhu jami’a, mereka langsung ditarbiyah dan dididik oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adab adalah perkara yang paling diperhatikan oleh para ulama kita sebagaimana Para Salaf as Sholeh Rahimakumullah mengedepankan belajar adab dan ini yang kurang dari kita diakhir zaman, sekarang ini banyak diantara orang yang mengumpulkan ilmu yang begitu banyak namun ilmu tersebut tidak menjadikannya semakin memiliki akhlak atau adab yang mulia kepada sesama kaum muslimin.

Imam Al-Gazali Rahimahullah berkata:”Akhlak yang mulia merupakan sifat sayyidil mursalin (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) dan akhlak yang buruk adalah merupakan racun yang membinasakan dan menjadikan seseorang itu menjadi buruk dan menjadi jelek, dan akhlak yang mulia adalah merupakan gambaran batin seseorang  dan hal itu tidak didapatkan kecuali dengan mujahadah (Bersungguh – sungguh)“.

Ada beberapa catatan dari para ulama kita tentang Imam Al-Gazali Rahimahullah terutama dalam Muallafat beliau yang dikenal dengan kitab ihya Ulumuddin hal ini disebabkan karena perbekalan beliau dalam ilmu hadist yang kurang, Imam Al-Gazali pernah mengatakan:”Sesungguhnya perbekalan saya dalam ilmu hadist itu sangat sedikit“, Kitab beliau Ihya Ulumuddin merupakan kitab yang sangat bermanfaat namun kemudian di tangkih dan diseleksi oleh para ulama kita yang terkumpul dalam kitab Minhajul Qashidin yang merupakan saripati dari kitab Ihya Ulumuddin yang didalamnya berisi perkara – perkara yang berkaitan dengan masalah Adab.

Akhlak yang mulia terbagi menjadi 2 yang pertama Akhlak yang sifatnya Jibillah (bawaan) begitulah Allah Subhanahu wata’ala menciptakannya dan yang kedua Akhlak yang sifatnya Muktasabah (Yang harus diusahakan). Pernah salah seorang sahabat yang bernama Al Asaj  ibn Qois bersama dengan rombongannya datang ke madinah, sahabat yang bersama dengan beliau tidak sabar untuk bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika mereka tiba di Madinah mereka langsung ke rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam atau menjumpai beliau dimasjid, adapun Al Asaj ibn Qais beliau tidak langsung berjumpa dengan Rasulullah karena beliau melihat bahwasanya tidak pantas berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kondisi dan keadaan yang baru saja dari perjalanan yang jauh dan mengeluarkan bau yang kurang sedap dan pakaian yang lusuh, akhirnya beliau menambatkan kendaraannya, beliau pergi mandi, ganti baju setelah itu beliau dengan tenang perlahan datang menjumpai Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adapun yang lain telah dahulu berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika Al Asaj ibn Qais datang kepada Rasulullah dengan tenang dan perlahan, Rasulullah kagum dengan sifat yang dimilikinya, Rasulullah kemudian berkata:”Sesungguhnya engkau memiliki 2 sifat yang sangat dicintai oleh Allah”, Al Asaj ibn Qais berkata:”Apa itu.?“, Rasulullah berkata:”Kelembutan dan tidak tergesa – gesa”,  Al Asaj ibn Qais berkata:”Ya Rasulullah apakah ini adalah sesuatu yang aku usahakan atau sesuatu yang Allah telah berikan kepadaku”, Rasulullah berkata:”Ini adalah sesuatu yang Allah telah berikan kepadamu”, ia kemudian berkata:”Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku sifat yang dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulnya”, ini disebut dengan sifat Jibillah (Bawaan) olehnya hendaknya masing – masing diantara kita mengenal dirinya.

Dalam pergaulan terkadang ada teman yang kita kenal dengan sifat yang lembut, lembut tidak berarti menafikan kejantanannya adapula sebagian orang baru sedikit saja sudah terpancing emosinya. Ada yang memiliki sifat bawaan pemalu tentunya malu dalam hal – hal yang dianjurkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat sahabat yang diajak makan kemudian ia malu – malu, melihat hal tersebut salah seorang sahabat yang lain menasehatinya dengan berkata:”Jangan malu”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Biarkan dia dengan sifat malunya karena sifat malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan”,

Tidaklah keburukan terjadi disebabkan karena rasa malu telah mulai dicabut, oleh karenanya wasiat kenabian yang masih tersisa adalah jika engkau tidak lagi memiliki sifat  malu maka kerjakan apa saja yang engkau mau. Sifat malu dalam beberapa kondisi tercela seperti dalam menuntut ilmu atau malu dalam mengajak kepada kebaikan dan mencegah dalam keburukan, misalnya ada seseorang yang melihat orang lain sedang sholat dimasjid kemudian ia melihat ada yang keliru dalam sholatnya dimana ia mampu menasehatinya akan tetapi ia dihalangi oleh rasa malu, atau misalkan ada orang yang terjatuh dalam kemungkaran dan ia bisa mengubah kemungkaran tersebut akan tetapi ia malu, ini malu bukan pada tempatnya.

Yang kedua akhlak yang sifatnya Muktasabah (yang harus diusahakan) seperti sahabat yang mulia Umar ibn Khattab Radhiyallahu ‘anhu beliau suaranya selalu tinggi dan begitulah sifat bawaan beliau, namun setelah beliau masuk islam beliau pernah hadir dimajelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam suaranya meninggi dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berdebat dengan Abu Bakar as Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu maka turunlah teguran dari Allah Subhanahu wata’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari”. (QS. Al-Hujurat :2).

Setelah itu setiap kali beliau berada dimajelis Rasulullah dan ingin menyampaikan sesuatu  terkadang Rasulullah tidak mendengarkan apa yang disampaikan oleh Umar sampai Rasulullah berkata:”Apa yang engkau katakan wahai Umar, angkat sedikit suaramu”, setelah beliau ditegur oleh Allah dan belajar adab dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau kemudian memiliki akhlak yang mulia.

Imam Gazali berkata: Namun Barangsiapa yang mengutamakan kemalasannya atau ia ridho dengan apa yang ia miliki dari keburukannya, misalnya ditegur karena suaranya telalu keras lalu ia mengatakan:”Begitulah saya, sudah tidak bisa dirubah”, orang yang seperti ini terkadang telah mengunci mati dirinya tidak bisa lagi berubah, tapi setiap nasehat yang datang kepada kita hendaknya terima dengan baik jika kita tidak mampu untuk mengerjakannya minimal kita memiliki tekad untuk memperbaiki hal yang buruk dari kita.

Imam Gazali berkata:”Andaikan akhlak yang buruk itu tidak bisa lagi dirubah maka tidak berguna lagi nasehat”, adanya nasehat agar kita berubah menjadi yang lebih baik

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada salah seorang sahabat yang bernama Mu’adz ibn Jabal beliau berkata:”Wahai Mu’adz perbaiki akhlak mu”, dalam hadist Dari Abu Dzar Al Ghifari Radhiallahu ’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’ alaihi Wasallam bersabda:

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik”. (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: hadits ini hasan shahih).

Wallahu a’lam Bish Showaab 

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR