1. Nabi Ibrahim dan Nabi Musa ‘alaihissalam

Allah subhanahu wata’ala pernah bertanya kepada Ibrahim Al Khalil (kekasih Allah dan bapak para nabi dan Rasul) ketika Allah subhanahu wa ta’ala bertanya kepadanya tentang kematian dan kabar ini datangnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “bagaimana engkau mendapatkan kematian wahai Ibrahim? Nabi Ibrahim menjawab : saya mendapati kematian itu ya Rabb sepereti sepotong besi yang diletakkan di tengah kapas yang basah kemudian ditarik dengan paksa. Allah subhanahu wa ta’ala berkata padahal kami sudah mudahkan sakaratul maut bagimu wahai Ibrahim. Kemudian Allah bertanya lagi kepada nabi Musa ‘alaihissalam : “bagaimana engkau merasakan kematian wahai Musa? Musa ‘alaihissalam menjawab : saya mendapati kematian itu seperti seekor burung yang dimasukkan ke dalam penggorengan yang panas.

Kematian itu adalah ruh meninggalkan jasad. Dua orang manusia saja yang jasadnya selalu bersama meski jasadnya tidak menyatu ketika dipisah dia akan sedih. Apatah lagi ruh yang telah bersama sekian lama yang berada dalam jasad kita. Dari nash-nash yang ada semua manusia akan mengalami yang namanya sakaratul maut termasuk orang-orang kafir. Adapun untuk orang kafir sakaratul maut adalah panjar dari siksaan sebelum ia mendapatkan siksaan yang lebih besar “Kami akan membuat mereka merasakan adzab yang kecil sebelum mereka mendapatkan adzab yang lebih pedih”. Bagi orang yang beriman saat mengalami sakaratul maut malaikat menarik ruh itu secara perlahan-lahan dan rasa sakitnya itu seperti apa yang dirasakan oleh nabi Ibrahim dan Nabi Musa ‘alaihissalam. Sebagaimana dalam haditd yang panjang Al Barra’bin Bani ‘Ashim

  1. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beliau merasa pedih dalam mengahdapi sakaratul maut sehingga rasulallah meminta air untuk membasuh mukanya kemudian beliau berkata laailaaha illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat. Fatimah yang melihat ayahnya dalam kondisi sakarat mengatakan wahai bapakku betapa kasihannya engkau. Rasulullah mengatakan “setelah hari ini wahai Fatimah tidak akan ada lagi kesusahan yang akan didapatkan oleh ayahmu”. Dan pada saat itu turunlah Jibril. Beliau memberi salam kepada Rasulallah “assalamu’alaika yaa Rasulallah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas salam Jibril. Kemudian Jibril berkata wahai rasulallah saya datang bersama malaikat maut yang diutus Allah subhanahu wa ta’ala untuk mencabut nyawamu, namun dia menunggu di luar dan saya tidak mengijinkan ia masuk sampai engkau meginjinkannya wahai Muhammad karena sesungguhnya ia diperintahkan Allah untuk tidak masuk menemuimu sebelum engkau memberikan izin kepadanya. Demi Allah, sesungguhnya malaikat maut itu tidak pernah meminta izin untuk mencabut nyawa seseorang dan malaikat maut itu tidak akan pernah meminta izin untuk mencabut nayawa seseorang sepeninggal Muhammad. Dimanapun engkau berada kematian akan mendatangimu walaupun engkau berada di dalam benteng yang kokoh. Andaikan ada kematian yang bisa dibayar denga uang maka, tidak akan ada orang kaya yang meninggal mereka rela mengorbankan seluruh hartanya untuk sembuh dari penyakitnya. Andaikan maut itu bisa dilawan dengan pasukan bersenjata maka, tidak aka n ada penguasa yang meninggal dunia. Namun, kemanakah perginya para penguasa itu? Kita telah menjadi saksi mata betapa banyak penguasa yang telah berkuasa berpuluh-puluh tahun namun pada akhirnya innalillahi wa inna’ilaihi roji’un. Qs. Al Haqqah 28-29 : “hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku”. Inilah yang akan menjadi perkataan mereka nanti ketika menjumpai kematian. Apa yang mereka bangga-banggakan selama ini tidak bermanfaat sedikit pun.

Jibril mengatakan malaikat maut tidak akan pernah meminta izin untuk mencabut nyawa seseorang setelahmu wahai Muhammad. Rasulullah menjawab (yang sebelum beliau meninggal sudah ada isyarat dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebuah surah yang diturunkan dalam alqur’an yaitu surah An Nashr : 1-3. Para sahabat tidak mengerti akan isyarat ini, yang paham adalah Ibnu Mas’ud bahwa ternyata ayat diturunkan sebagai tanda dekatnya kematian Rasulallah karena tugas beliau telah selesai. Rasulallah telah mempersiapkan dirinya dan isyarat-isyarat beliau telah sampaikan kepada sahabat bahkan ketika beliau berkhutbah “sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan pilihan kepada seorang hamba untuk tinggal di dunia atau kembali kepadaNya. Tapi ternyata sang hamba memilih untuk kembali kepadaNya. Maka menangislah Abu Bakar As shiddiq, sehingga bertanyalah para sahabat apakah gerangan yang membuat Abu Bakar menangis. Ternyata Abu Bakar telah paham apa yang disampaikan oleh Rasulallah bahwa yang dimaksudkan dengan hamba yang diberi pilihan itu adalah diri Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Rasulallah meminta Jibril untuk menyuruh malaikat masuk ke dalam rumahnya. Malaikat maut memberi salam kepada Rasulallah “assalamu’alaika yaa Rasulallah”. Sungguh Allah telah memerintahkan kepadaku untuk memberikan dua pilihan kepadamu yaa Rasulallah (red. Para nabipun diberi pilihan juga seperti itu) jika engkau memerintahkan kepadaku untuk mencabut ruhmu maka akan aku cabut sekarang, jika engkau memerintahkan kepadaku untuk meninggalkanmu maka aku akan kembali.

Rasulallah bersabda “Barangsiapa yang rindu bertemu dengan Allah, maka Allah pun akan rindu bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang benci untuk bertemu dengaNya maka, Allah pun akan benci bertemu dengannya”. ‘Aisyah pun kaget ; Ya Rasulallah apakah yang dikatakan benci bertemu dengan Allah adalah adalah benci dengan kematian, bukankah kita semua benci kematian ya rasulallah?

Kita semua benci mati buktinya kalau kita sakit berobat, jika kita lapar maka kita makan. Kita semua takut mati dan itu thobi’i. Rrasulallah bersabda “ketika kematian menjemput orang-orang shaleh, maka turunlah malaikat dengan wajah yang berseri-seri yaitu malaikat maut dan malaikat rahmat menyambut kehadirannya. Allah ta’ala berfirman dalam surah Al ahqaf : 13 yang artinya “sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka tetap istiqamah”. Ayat ini adalah kuncinya agar kita bisa mendapatkan husnul khotimah, agar kita didatangi oleh malaikatul rahmah bukan malaikatul adzab, agar kain kafan yang akan membungkus ruh kita diambil dari surga yang berwarna putih bukan kain kafan yang diambil dari neraka, agar pintu-pintu langit dibukakan untuk ruh-ruh kita. Sebagaimana sabda nabi shallalahu ‘alaihi wassalam kuncinya “beriman kepada Allah kemudian berusaha utuk istiqamah”. Dan ingat hidup di dunia ini kita akan diuji oleh Allah untuk menguji keistiqamahan kita. Yang menjadi perhatiannya adalah keridhoan Allah bukan perkataan manusia. Maka, akan turun kepadanya malaikat dan ini berlaku untuk semua orang beriman. Malaikat ini ketika nyawa sudah sampai di kerongkongan, kalian ada di sekelilingnya padahal kami (malaikat) lebih dekat dengannya dan kalian tidak dapat melihat kami. Ketika kematian telah mendatangi seseorang maka dia akan dimatikan oleh malaikat yang kami utus dan mereka (para malaikat) tidak akan pernah menyelisihi apa yang Kami perintahkan. Karena malaikat itu adalah makhluk yang taat kepada Allah. Malaikat Israfil sejak diciptakan kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia telah bersiap untuk meniup sangkakala dan terus memandang ke arsynya Allah subhanahu wa ta’ala dan menunggu perintah. Sementara kita disini masih tertawa, bersenang-senang.

Nah, inilah yang dimaksudkan oleh Nabi mereka dihibur oleh malaikat, jangan takut dan jangan bersedih. Jangan sedih dengan keluarga yang akan engkau tinggalkan, isteri yang akan menjadi janda, anakmu yang menjadi yatim, jangan takut dan jangan sedih, biasanya kalau ada orang yang meninggal, kebanyakan orang mengatakan “sungguh kasihannya, suaminya meninggal padahal anaknya masih kecil-kecil, isterinya tidak punya pekerjaan dan rumahnya pun masih kontrak”. Orang yang beriman jangan takut, jangan sedih. Orang yang hidup saja yang kasihan melihat hal ini padahal yang meninggal telah tenang, sudah dihibur oleh malaikat. Berilah kabar gembira dengan surga yang dijanjikan kepada kalia, Kami yang akan menjadi penolong bagi kalian di dunia dan di akhirat. Bagi kita yang masih mempunyai anak yang masih kecil-kecil, belum sempat beli rumah, kita terkadang memikirkannya. Cara yang terbaik adalah beriman dan istiqomah, mereka akan dijaga oleh Allah subhanahu wa ta’ala insya Allah. Ini adalah janji dari Allah dan tidak akan menyelisihi janji-Nya walaupun pada awalnya dia banting tulang dan orang-orang merasa kasihan. Tapi, insya Allah karena intinya itu adalah penghabisannya.

Setelah itu malaikat maut berkata “Ya Rasulallah perintahkan aku sesuai dengan yang engkau inginkan, jika engkau mengatakan cabutlah nyawaku sekarang naka akan aku lakukan, tapi bila tidak maka aku akan kembali”. Nabi kemudian memandang Jibril. Jibril kemudian berkata “ya Rasulallah sesungguhnya Allah telah rindu berjumpa denganmu”. Malaikat maut kemudian duduk di dekat kepala Rasulallah dan berkata “wahai ruh yang baik keluarlah untuk mendapatkan ampunan dan keridhoan dari Allah”. Semoga ruh-ruh kita diseru seperti itu seperti di dalam surah Al Fajr : 27-30.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun merasakan yang namanya sekarat bahkan beliau pun mendoakan ummatnya dalam menghadapi sekarat. Walaupun ulama mengatakan ini adalah hukuman yang dipecepat untuk orang kafir dan adapun utnuk orang yang beriman untuk meningkatkan derajatnya di sisi Allah serta menghapus dosa-dosanya. Bukan dengan niat untuk menentang Allah, Umar bin Abdul Aziz mengatakan jika sakaratul maut itu adalah penghapus dosa-dosa maka biarkanlah aku merasakannya.

Dalam sakarat itu ada fitnah. Fitnah yang dibawa oleh syaithan agar kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan kafir kepada Allah ta’ala. Ketika Imam Ahmad dalam kondisi sakit berat dan ia berada di akhir-akhir hidupnya, anak-anaknya mentalqin beliau. Imam Ahmad mengatakan “belum, belum…” anak-anaknya khawatir dan bertanya kepada beliau ketika telah kembali sadar “wahai ayah mengapa engkau mengatakan belum.. belum? Imam Ahmad menjawab; tadi syaithan dating kepadaku dalam kondisi menggigit jari-jemarinya seakan-akan telah menyerah dan mengataakan engkau telah selamat dariku wahai Ahmad. Makanya saya mengatakan belum.. belum..”

Makanya selama hayat masih di kandung badan maka tidak ada yang selamat dari fitnah ini. Makanya jangan tertipu dengan penampilan, kesholehan, ibdaha dan ilmu kita karena masih ada kesempatan bagi kita untuk tergelincir. Semoga Allah menjaga kita…

Dan meninggallah Rasulallah…

Jadi, kesimpulannya bahwa sebelum maut datang menjemput kita maka persiapkanlah diri kita karena kematian itu adalah pintu dan setiap dari kita akan melewatinya. Bagaimana Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Harun Al Rasyid menghadapi kematian??

Insya Allah silahkan ikuti pengajian rutin dengan tema “Silsilah Kehidupan” setiap senin malam ba’da Maghrib – Isya di masjid Nurul Hikmah. Jl. Faisal 14 bersama Ust. H. Harman Tajang, Lc., M.HI (Direktur Markaz Imam Malik)

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR