بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Disebut dengan syahid karena ia terbunuh dimedan jihad maka hal itu merupakan syahadah (persaksian atas keimanannya). Sebagian ulama mengatakan:”Disebut syahid karena malaikat menghadiri jenasah orang yang mati syahid”, Keluarga Jabir ketika menangisi Abdullah ibn Haram, Nabi berkata kepada Jabir:”Engkau menangisinya atau tidak menangisinya, ketahuilah malaikat berada di dekatnya menghadiri jenasahnya sampai ia diangkat ke kuburnya”.

Sebagian yang lain mengatakan syahid karena telah diperlihatkan manzilah (tempat kedudukannya di surga), ini diantara karomah yang Allah berikan kepada orang – orang yang mati syahid dan kedudukan orang yang mati syahid sangat mulia disisi Allah Subhanahu wata’ala karena mereka menjual jiwa dan seluruh harta yang mereka miliki murah dijalan Allah Subhanahu wata’ala. Allah yang langsung membeli jiwa mereka, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ  وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar“. (QS. At Taubah : 111). Allah memberi balasan orang – orang yang berjihad dengan surga karena ia mengorbankan jiwa dan hartanya untuk meninggikan kalimat Allah Subhanahu wata’ala. Jadi jihad memiliki konsekuensi apakah ia membunuh atau terbunuh  ini janji dari Allah Subhanahu wata’ala , Allah menegaskan bahwasanya Allah yang mewajibkan atas dirinya yang telah disebutkan dalam taurat, injil dan juga didalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”. Jual beli yang sangat menguntungkan, jadi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan hadist ini targhiban untuk kemudian memberi motivasi kepada kita agar senantiasa bercita – cinta untuk syahid dijalan Allah Subhanahu wata’ala, Walaupun tidak semua orang diberikan kesempatan untuk berjihad, tidak semua orang diberikan kemuliaan tersebut akan tetapi rahmat Allah Subhanahu wata’ala sangatlah luas yang meliputi segala sesuatunya, oleh karenanya dengan niat seorang hamba yang jujur atau dia berdoa kepada Allah dengan doa yang sebenar – benarnya bukan sekedar perkataan belaka maka kelak Allah Subhanahu wata’ala memberikan kedudukan bersama dengan orang – orang yang syahid. Berjihad dijalan Allah tidaklah mempercepat ajal seseorang sebagaimana ketika berada di negeri yang aman tidaklah memperlambat ajal seseorang.

Orang – orang munafik pernah berkata kepada orang yang berjihad yang masih hidup walaupun sebagian diantara mereka ada yang syahid dimedan jihad mereka berkata sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

الَّذِينَ قَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا ۗ قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar“. (QS. Ali ‘Imran : 168).

Inilah sifat orang- orang munafik mereka selalu berusaha menghalangi seseorang untuk melakukan kebaikan, merekalah yang berkata kepada para sahabat yang berangkat jihad dalam medan tabuk:”Jangan kalian pergi ini puncak musim panas, mengapa kalian bercapek – capek untuk pergi berjihad“.

Jika Allah telah menentukan ajal kematian seseorang maka kematian akan datang kepadanya walaupun ia berada dalam rumahnya atau diatas pembaringannya. Kita berharap semoga kita dimatikan dalam keadaan yang baik. Kematian yang paling tinggi adalah mati terbunuh dijalan Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana disebutkan dalam  hadist:

Dari Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دُفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ، وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ

Orang yang mati syahid akan mendapatkan enam keutamaan di sisi Allah l: diampuni dosa-dosanya dari awal tertumpahkan darahnya, akan melihat calon tempat tinggalnya di surga, akan diselamatkan dari azab kubur, diberi keamanan dari ketakutan yang sangat besar, diberi hiasan dengan hiasan iman, dinikahkan dengan bidadari, dan akan diberi kemampuan untuk memberi syafaat kepada 70 orang kerabatnya”. (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah. Al-Albani berkata dalam Ahkamul Jana’iz bahwa sanadnya hasan).

Banyak dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mereka melepas keluarganya untuk berjihad mereka tidak berharap keluarganya itu kembali kepada mereka. Ada salah seorang wanita di zaman Abu Qudamah, wanita ini melepas anaknya yang belum baligh untuk berjihad, lalu datanglah seseorang dari jihad kepada wanita tersebut, kemudian wanita ini bertanya:”Apakah engkau datang kepadaku memberi kabar gembira atau menyampaikan kabar duka“, ia berkata:”Apa maksud anda.?, wanita ini berkata:”Jika engkau datang kepadaku menyampaikan bahwasanya anakku ikut kembali dari jihad dan selamat maka ini berita duka bagi saya, namun jika engkau mengatakan anakku telah mati dijalan Allah Subhanahu wata’ala dan syahid maka inilah yang saya cita – citakan dan inilah yang saya inginkan”. Wanita ini mengharapkan syafaat dari anaknya pada hari kiamat nanti..

Oleh karena itu kita berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan penuh kejujuran. Perlu diketahui bahwasanya cakupan jihad begitu luas tidak hanya terbatas dengan jiwa akan tetapi juga dengan harta, ilmu, berdakwah di jalan Allah, berkhidmah dijalan Allah, melakukan sesuatu untuk agama Allah. Siapapun kita dan apapun profesinya harus bertanya pada dirinya apa yang bisa ia lakukan untuk agama Allah Subhanahu wata’ala, jangan ada diantara kita berkata:”Agama ini hanyalah terbatas kepada kiyai, ustadz dan para ulama, para penuntut ilmu”, tidak demikian, karena kita semua akan ditanya pada hari kemudian tentang agama yang mulia ini. Oleh karenanya mari berjihad dijalan Allah Subhanahu wata’ala dengan potensi yang Allah berikan kepada kita namun tentunya jihad yang paling tinggi adalah ketika kita terbunuh dijalan Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 03 Rajab 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR