بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

“Barangsiapa meminta kepada Allah dengan jujur agar diwafatkan dalam keadaan syahid, maka Allah akan menjadikannya berkedudukan seperti orang-orang yang mati syahid walaupun dia mati di atas kasurnya”. (HR. Muslim, no. 1909/4930).

Hadist diatas di riwayatkan oleh Sahl Ibn Hunaif Radhiyallahu ‘anhu, kunniyah beliau adalah Abu Tsabit ada yang mengatakan Abu Zaid adapula yang mengatakan Abu Walid dan bukanlah sesuatu yang mustahil jika kunniyah beliau lebih dari satu atau lebih dari 2. Sahl Ibn Hunaif Radhiyallahu ‘anhu pernah ikut bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang badr dan Allah Subhanahu wata’ala memberikan jaminan kepada ahlu badr bahwasanya dosa – dosa mereka telah diampunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan mereka adalah termasuk penghuni surga.

Seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah ma’sum atau terbebas dari dosa dan kesalahan karena kemasu’man hanyalah kepada Rasulullah, Sebagian sahabat pernah  terjatuh dalam perbuatan yang keliru dan dibenarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat ini bernama Hatib Ibn Abi Balta’ah, sebagaimana dalam kisah yang ma’syur ketika beliau berencana membocorkan kedatangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Makkah dalam rangka menaklukkan kota Makkah, Rasulullah tidak ingin rencana beliau diketahui oleh penduduk kota Makkah, beliau ingin datang ke kota Makkah secara tiba- tiba. Hatib Ibn Abi Balta’ah melakukan hal tersebut karena memiliki harta dan keluarga di kota Makkah, ia mengirim surat melalui seorang wanita, Jibril ‘alaihissalam memberitahu Rasulullah perihal tersebut, Rasulullah mengutus Ali bin Abi Thalib dan beberapa orang sahabat mengejar wanita tersebut, pada awalnya wanita ini tidak mengaku jika ia membawa surat namun setelah diancam untuk ditelanjangi akhirnya ia mengaku dan ketika dibawa kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam maka dipanggillah Hatib Ibn Abi Balta’ah kemudian Umar meminta izin untuk memenggal lehernya akan tetapi Rasulullah berkata:”Sesungguhnya dia telah ikut serta dalam perang Badr dan kamu tidak tahu barangkali Allah telah melihat kepada para Sahabat yang ikut serta dalam Perang Badar, lalu berfirman:”Perbuatlah sesuka kalian karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian !“.  Hatib Ibn Abi Balta’ah termasuk sahabat yang ikut bersama dengan Rasulullah dalam perang badr dan juga pada semua peperangan setelah perang badr.

Sahl ibn Hunaif Radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang berbaiat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diatas kematian untuk membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga termasuk diantara sahabat yang ketika terjadi perang uhud kokoh melindungi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun dalam perang uhud kaum muslim kalah pada waktu itu sehingga Nabi dan beberapa sahabat terluka.

Sahl ibn Hunaif Radhiyallahu ‘anhu sempat dijadikan sebagai gubernur di kota Madinah di zaman pemerintahan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu yang kemudian beliau diutus  menjadi gubernur oleh Ali di kota Persia namun tidak lama menjadi gubernur beliau meninggalkan kota tersebut karena penduduknya tidak menginginkannya. Akhirnya Ali kemudian mengutus yang lain untuk menggantikan beliau dan beliau meninggal di kota Kufah.

Hadist yang beliau riwayatkan diatas termasuk hadist bab kejujuran, sebagaimana yang telah kita sampaikan bahwasanya kejujuran itu dibutuhkan pada perkataan / lisan, perbuatan dan di dalam hati, termasuk niat – niat kita dan apa yang ada didalam jiwa – jiwa kita oleh karenanya Imam Nawawi Rahimahullah memasukkan hadist ini ke dalam bab tentang kejujuran.

Barangsiapa meminta kepada Allah dengan jujur agar diwafatkan dalam keadaan syahid

Bagaimanakah yang dimaksud dengan jihad fiisabilillah.? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya :“Wahai Rasulullah ! ada seseorang yang berperang karena keberaniannya, ada lagi karena fanatik (golongan), ada juga karena riya, mana diantara mereka yang termasuk berjihad di jalan Allah ? maka beliau menjawab:“Barangsiapa yang berperang di jalan Allah agar kalimat Allah tinggi maka dia di jalan Allah”. (HR. Bukhari 7458 dan Muslim 1904). Jadi ukurannya adalah untuk meninggikan kalimat Allah Subhanahu wata’ala.

Jihad Fisabilillah memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama kita sebagaimana yang Allah sebutkan dalam surah An Nisaa’ : 69,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya“. (QS. An Nisaa’ : 69).

Yang paling tinggi adalah golongan para Nabi kemudian para As Shiddiqin. Para ulama menyebutkan yang dimaksud dengan As Shiddiqin adalah para ulama rabbani yang menuntut ilmu, mengajarkan ilmu yang ia dapatkan dan mengamalkan dari apa yang ia ketahui.

Kemudian tingkatan selanjutnya adalah orang – orang yang syahid dan orang – orang sholeh. Mereka adalah sebaik – baik teman dihari kiamat dan semoga Allah mengumpulkan kita bersama dengan mereka dihari kemudian nanti.

Bersambung (Mati Syahid Dengan Jujur Kepada Allah Sesi 2)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 02 Rajab 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR