بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Di dalam ilmu pendidikan modern terdapat berbagai macam teori tentang terbentuknya bumi, dari banyaknya teori tersebut ada lima jenis teori yang sangat terkenal yaitu; Nebula, Planetisimal, Pasang Surut Gas (Tidal), Bintang Kembar dan Big Bang. Dari teori-teori tersebut banyak diantara manusia yang memandang bahwa Big Bang adalah teori yang benar. Diantara kaum muslimin pun menganggap bahwa Big Banglah yang tepat karena sesuai dengan Al Qur’an. Benarkah demikian? Mari kita urai.

Seperti dilansir okezone.com, bahwa bukti ilmiah adanya ledakan besar sesuai teori Big Bang telah dipaparkan oleh NASA. Pada 1989, George Smoot bersama Tim NASA meluncurkan satelit untuk meneliti asal mula alam semesta. Dari berbagai fakta ilmiah, akhirnya teori Big Bang mendapatkan persetujuan dunia ilmiah. Dalam sebuah artikel yang dimuat pada Oktober 2014, Scientific American menuliskan bahwa teori Big Bang adalah satu-satunya teori yang dapat menjelaskan asal mula alam semesta.

Georges Lemaitre seorang biarawan Katolik Roma Belgia, dianggap sebagai orang pertama yang mengajukan teori ledakan dahsyat atau Big Bang walaupun ia menyebutnya sebagai “hipotesis atom purba”, Georges Lemaitre seorang kosmolog asal Belgia pada tahun 1927. Menurutnya, alam semesta ini mulanya berasal dari gumpalan super atom yang berbentuk bola api kecil dengan ukuran sangat kecil. Saking kecilnya, bola itu hampir tak berbentuk dan lebih dipandang sebagai titik dengan volume nol. Gumpalan ini memiliki massa jenis yang luar biasa tinggi dengan suhu sekitar 1 trilyun derajat celcius. Gumpalan superatom inilah yang nantinya meledak dan memuntahkan seluruh isi dari alam semesta. Sekitar 10 pangkat -34 detik sebelum Big Bang dimulai, ukuran bola api kecil tersebut bertambah hingga mencapai diameter 1,75 cm. Setelah itu, ukuran superatom itu terus bertambah dengan sangat cepat dan tepat pada waktu 0 detik (waktu mulainya ruang waktu), terjadilah ledakan maha dahsyat itu. Peristiwa ini terjadi sekitar 15 milyar tahun yang lalu.

Big Bang melepaskan sejumlah besar energi di alam semesta yang kelak membentuk seluruh materi alam semesta.  Atom hidrogen terbentuk bersamaan saat energi dari Bing Bang meluas keluar. Lebih dari jutaan tahun kemudian, atom hidrogen tersebut terus bertambah banyak berkumpul membentuk debu dan awan hidrogen (nebula). Awan hidrogen tersebut makin lama makin padat dengan temperatur jutaan derajat celcius. Awan hidrogen inilah yang menjadi bahan pembentuk bintang-bintang di alam semesta. Setelah terbentuk banyak bintang, selanjutnya bintang tersebut berkumpul membentuk kelompok yang kemudian disebut galaksi. Dari galaksi, lahirlah bermilyar-milyar tata surya, salah satunya tata surya yang kita tinggali sekarang ini.

Dari penjelasan teori diatas banyak diantara kaum muslimin yang memahami bahwa Big Bang adalah teori yang tepat karena di dukung dengan firman Allah azza wa jalla surah Al Anbiya ayat 30 yang artinya “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?.” 

Ini adalah cara memahami kebenaran yang salah. Sekali lagi ini adalah cara memahami kebenaran yang salah. Mengapa demikian? Karena mereka menggabungkan antara dzon (prasangka) belaka, alias ilmu kira-kira saja dengan kebenaran yang mutlak dari Al Qur’an. Seperti pernyataan pada ayat berikut,

وَقَوۡلِهِمۡ إِنَّا قَتَلۡنَا ٱلۡمَسِيحَ عِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ رَسُولَ ٱللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمۡۚ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكّٖ مِّنۡهُۚ مَا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٍ إِلَّا ٱتِّبَاعَ ٱلظَّنِّۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينَۢا

“Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” (QS. An Nisa’: 157)

Ayat ini membahas tentang Isa Al Masih yang diyakini telah berhasil dibunuh dan disalib. Keyakinan ini didoktrinkan, bahkan sampai dibuatkan penelitian terhadap sebuah kain kafan sangat tua yang terdapat bercak-bercak darah dan diyakini oleh sebuah penelitian sebagai kain kafan Yesus saat disalib. Pengikut keyakinan ini juga sangat banyak, bahkan lebih banyak dari muslim di bumi ini. Mereka semua yakin. Bahkan disebut iman. Tapi Al Quran menyebut semua keyakinan itu hanyalah dzon (persangkaan).

Lebih umum tapi lebih jelas lagi adalah penjelasan ayat,

وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al An’am: 116)

Aneh, tapi nyata. Sebuah persangkaan belaka, tapi banyak pengikutnya. Dan mereka tersesat beramai-ramai. Karena prasangka tidak akan pernah cukup menjadi landasan bagi sebuah kebenaran. Semoga bukan hanya sebuah kira-kira yang diyakini.

Mengapa teori tersebut kami katakan sebagai dzon (prasangka belaka)?
Jawabannya adalah karena tidak ada satupun manusia yang menyaksikan proses penciptaan bumi, bahkan iblis pun demikian. Allah azza wa jalla berfirman didalam Al Qur’an surah Al Kahfi ayat 51

مَا أَشْهَدْ تُهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلا خَلْقَ أَنْفُسِهِمْ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّينَ عَضُدًا

Artinya :
Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) pen¬ciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.

Karena tidak ada satupun manusia yang melihat proses penciptaan bumi maka teori yang di keluarkan oleh para ilmuwan dapat dikatakan sebagai dzon atau prasangka.

Lalu bagaimana cara memahami proses penciptaan bumi? Untuk mengetahuinya mari kita bertanya kepada pemilik kebenaran mutlak dan satu-satunya yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala. Di dalam surah Ali Imran ayat 190 sampai dengan 191 Allah azza wa jalla berfirman

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ لَآياتٍ لِأُولِي الْأَلْبابِ  الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا باطِلاً سُبْحانَكَ فَقِنا عَذابَ النَّارِ

Artinya :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka

Di dalam surah As Sajadah ayat 4 Allah azza wa jalla berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا شَفِيعٍ أَفَلا تَتَذَكَّرُونَ

Artinya :
Allah-lah Yang Menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia ber¬semayam di atas ‘Arasy. Tidak ada bagi kamu selain dari-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Allah azza wa jalla berfirman di dalam surah Al Anbiya ayat 30

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ

Artinya :

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Di dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir di jelaskan tentang surah Al Anbiya ayat 30 tersebut, bahwa sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiallahu anhuma sebagai orang yang memahami tafsir Al Qur’an karena keberadaan beliau disisi Rasulullah ketika wahyu diturunkan pernah ditanya, “Apakah pada permulaannya penciptaan malam lebih dahulu, ataukah siang lebih dahulu?” Ibnu Abbas menjawab, “Bagaimanakah menurut kalian, langit dan bumi saat keduanya masih menjadi satu, tentu di antara keduanya tiada lain kecuali hanya kegelapan. Demikian itu agar kalian mengetahui bahwa malam itu terjadi sebelum siang.”

Ibnu Umar radhiallahu anhu bercerita bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepadanya menanyakan langit dan bumi yang dahulunya suatu yang padu, lalu Allah memisahkan keduanya. Ibnu Umar berkata, ” Pergilah kepada syekh itu, lalu tanyakanlah kepadanya, kemudian datanglah kamu kemari dan ceritakanlah kepadaku apa yang telah dikatakannya.” Lelaki itu pergi menemui Ibnu Abbas dan menanyakan masalah itu kepadanya. Ibnu Abbas menjawab, “Ya, memang dahulunya langit itu terpadu, tidak dapat menurunkan hujan; dan bumi terpadu (dengannya) sehingga tidak dapat menumbuhkan tetumbuhan. Setelah Allah menciptakan bagi bumi orang yang menghuninya, maka Dia memisahkan langit dari bumi dengan menurunkan hujan, dan memisahkan bumi dari langit dengan menumbuhkan tetumbuhan.” Lelaki itu kembali kepada Ibnu Umar dan menceritakan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh Ibnu Abbas. Maka Ibnu Umar berkata, “Sekarang aku mengetahui bahwa Ibnu Abbas telah dianugerahi ilmu tentang Al Qur’an. Dia benar, memang demikianlah pada asal mulanya.” Ibnu Umar mengatakan, “Sebelumnya aku sering mengatakan bahwa betapa beraninya Ibnu Abbas dalam menafsirkan Al Qur’an, sekarang aku mengetahui bahwa dia benar-benar telah dianugerahi ilmu takwil Al Qur’an.”

Sebagai penutup dari tulisan ini bahwa tujuan di jelaskannya proses penciptaan bumi di dalam Al Qur’an adalah untuk meningkatkan keimanan kepada Allah.

Ya Rabb Bimbinglah Kami

Zulqadri Ramadhan

(Manajjer Kuttab Imam Malik)

 

Print Friendly, PDF & Email

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR