بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Peristiwa atau musibah yang terjadi jangan biarkan berlalu begitu saja tanpa mengambil pelajaran, musibah yang besar dari sekedar musibah adalah ketika seseorang telah terbiasa melihat musibah sehingga tidak lagi mengambil pelajaran darinya, padahal orang yang beriman adalah orang yang cerdas dan bisa membaca isyarat – isyarat, orang yang bisa mengambil pelajaran, ibrah dan hikmah dari segala apa yang terjadi disekelilingnya. Peristiwa gempa yang memakan korban jiwa yang terjadi di Lombok kurang lebih 90 orang, hanya dalam hitungan detik korban berjatuhan kemudian ditambah dengan kerugian material dan seterusnya, semoga yang menjadi korban mendapatkan pahala syahid insyaAllah, hal yang seperti ini perlu untuk mengambil pelajaran, diantara pelajaran yang bisa kita ambil:

  1. Musibah yang terjadi menunjukkan kebesaran dan kekuatan Allah Subhanahu wata’ala

Bumi yang kita tinggali sebagai tempat untuk membangun rumah, mencari nafkah, membangun keluarga, berbisnis, bumi yang kita tinggali dengan tenang dan aman namun jika Allah Subhanahu wata’ala berkehendak maka bisa menjadi tempat yang sangat berbahaya, rumah yang kita bangun sebagai tempat untuk berlindung didalamnya bisa menjadi sebab kematian, olehnya para korban gempa mereka lebih memilih berlindung diluar rumah membuat tenda – tenda ditempat terbuka, mereka khawatir dan takut berada dirumah mereka padahal asal dari rumah adalah sebagai tempat bagi kita untuk berlindung namun jika Allah berkehendak maka rumah sebagai tempat berlindung bisa menjadi sebab bahaya bagi kita, bahkan bumi yang kita pijak bisa menjadi kehancuran.

Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan dalam surah An-Naba

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba : 06).

Dalam surah An-Naml ayat 61 Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui”. (QS. An-Naml: 61).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang air laut dan sungai:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu .Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing”(QS. Ar Rahman: 19-20).

Ketika bertemu antara air sungai dan air laut bertemunya tidak bercampur, jika berjumpa air sungai dengan laut yang hitam arusnya berbeda ada yang kadar garamnya lebih tinggi sehingga ia lebih ke bawah kemudian ada yang lebih rendah kadar garamnya sehingga ia berada diatas.

Adapun gunung yang menjulang tinggi dibawahnya 2 kali lipat bahkan lebih dari itu untuk menguatkan bumi agar tidak goncang.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Ghafir : 64). Jadi semuanya merupakan ciptaan Allah Subhanahu wata’ala.

Bumi yang diatasnya kita bekerja diwaktu siang dan diwaktu malam kita istrahat jika Allah Subhanahu wata’ala berkehendak maka Allah Subhanahu wata’ala bisa menggoncangkan bumi tersebut. Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata:”Coba kalian berfikir dan mentadabburi bagaimana Allah menciptakan bumi, Ketika Allah menciptakannya Allah menciptakannya dengan tenang dan sakinah dan tidak goncang agar bisa menjadi tempat yang dihamparkan untuk manusia, mereka bisa tinggal diatasnya untuk hewan dan binatang, pepohonan dan tumbunh – tumbuhan dan semua yang ada diatasnya yang dengannya manusia dan hewan bisa berjalan dengan tenang untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan mereka, andaikan bumi ini bergoyang dan tidak tenang maka tidak ada yang bisa tinggal diatasnya, tidak ada yang bisa berbisnis, berkebun, tidak ada yang bisa memenuhi kebutuhannya, bagaimana mungkin mereka bisa tenang diatas bumi jika bumi itu bergoncang dibawah mereka dan coba ambil pelajaran ketika mereka terkena gempa bagaimana tempat yang sebelumnya tenang bagi mereka seperti rumah – rumah mereka, mereka lari dan meninggalkannya, lari ke tempat yang tinggi untuk menyelamatkan diri, mereka tidak menyangka bahwasanya hal itu akan terjadi”.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ ۚ وَنَطْبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?, Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?, Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi, Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?”. (QS. Al-A’raf : 97-100).

  1. Gempa yang terjadi dibandingkan dengan guncangan bumi yang akan terjadi dihari kiamat nanti itu tidak ada apa – apanya.

gempa yang terjadi di lombok pada kedalaman 15 meter dibawah laut dan yang sampai ke daratan hanyalah sisa –sisanya, hanya pengaruh dan dampaknya, lalu bagaimana jika sumbernya sebagaimana tsunami yang pernah menelan korban beberapa tahun yang lalu di Aceh ditahun 2004.

Hanya sebagian dari bumi ini yang bergetar adapun pada hari kiamat nanti semuanya digoncangkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, olehnya Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan kita hal tersebut diawal surah Al Hajj, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat)”. (QS. Al-Hajj : 01).

Pada awal ayat ini Allah telah menyebutkan kedahsyatan guncangan bumi yang akan terjadi diakhir zaman kemudian Allah menjelaskan lebih rinci bagaimana kondisi pada waktu itu, dalam lanjutan ayat Allah berfirman:

يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

“(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya”. (QS. Al-Hajj: 02).

Kita bisa melihat bagaimana mereka lupa dan mereka lari menyelamatkan diri, salah seorang Ustadz dari Jogja ketika terjadi gempa di Jogja dan dikabarkan berpotensi tsunami beliau menceritakan kisah nyata dimanasalah seorang ibu yang ikut lari pada ketinggian dengan mengambil bayinya, ia berlari dengan penuh rasa takut dan ketika sampai ke tempat yang aman ia melihat dan ternyata ia tidak membawa bayinya akan tetapi yang ia bawa adalah bantal.

Kita bisa menyaksikan manusia seperti orang yang mabuk padahal mereka tidak mabuk karena meinuman keras akan tetapi azab Allah Subhanahu wata’ala yang sangatlah dahsyat.

Bersambung: Mengambil Pelajaran Dari Musibah Sesi 2

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.